
Tepat pukul 7 pagi Hayley sudah berada di kantor PT. Furniture Dream, dia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum datang ke kantor pusat untuk menemui Aaron.
"Bagaimana caraku meminta izin perusahaan agar bisa datang ke kantor pusat?" tanya Hayley melalui pesan kepada Aaron.
Lima menit, sepuluh menit, Aaron hanya membacanya namun tidak ada balasan.
"Menyebalkan!" gerutu Hayley. Ia menghela nafas panjang, memikirkan keputusan yang sudah ia ambil, benarkah jalan yang ia lewati kali ini? Hayley tidak tau, ia hanya ingin kehidupannya lebih baik.
"Hay, di panggil bu Ningrum," ujar Lisa, bu Ningrum adalah atasan Hayley di bagian keuangan.
"Ada apa?" tanya Hayley penasaran. "Nggak tau," jawab Lisa sambil mengangkat bahu.
Hayley bergegas merapikan mejanya, lalu menuju ruangan bu Ningrum.
"Permisi, ada apa ibu memanggil saya?" tanya Hayley, ia merasa was-was jika sampai ada pekerjaannya yang salah.
"Oh, Hayley. Kamu di minta Mr. Aaron datang ke kantor pusat. Sekarang juga," perintah bu Ningrum.
"Baik, Bu."
Hayley kembali ke ruangannya sendiri dan mengambil tas miliknya.
"Mau ke mana?" tanya Lisa heran.
"Ke kantor pusat, Mr. Aaron memintaku datang," jawab Hayley, ia merapikan kemejanya.
"Oh ...." Lisa manggut-manggut. "What? Mr. Aaron memintamu datang? apa tidak salah orang?" keterkejutan Lisa muncul saat ia menyadari bahwa Mr. Aaron yang di maksud adalah presdir mereka yang sangat tampan itu.
"Nggak tau, bu Ningrum yang minta," jawab Hayley cuek.
"Memangnya kenapa sampai kamu di panggil ke kantor pusat, Hay?"
"Kan aku belum ke sana, mana aku tau, Lis." Hayley mencebik.
"Jangan-jangan ... kamu mau di mutasi ke kantor pusat?" tebak Angga tiba-tiba.
"Betul, bisa jadi begitu," tambah Lisa.
"Nggak mungkin, aku kan pegawai baru," jawab Hayley. "Ya sudah, aku pergi dulu. Bye semuanya ...."
Lisa dan Angga saling bertatapan, mereka sedang mencerna apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing, menyadari Hayley sudah hilang di balik pintu, mereka kembali bekerja.
Jarak kantor cabang ini ke kantor pusat lumayan jauh, untuk mempersingkat waktu dan menghindari keterlambatan, maka Hayley melepas dua lembar uang bernominal sepuluh ribunya untuk naik ojek online.
Aaron adalah pimpinan yang disiplin, ia tidak pernah mentolerir siapapun datang terlambat dengan alasan apapun.
Perjalanan memakan waktu hampir setengah jam, Hayley turun dengan hati cemas, ia belum pernah datang ke kantor semegah ini, membayangkannya saja belum pernah.
__ADS_1
"Maaf, bisa bertemu Mr. Aaron?" tanya Hayley pada resepsionis cantik berkacamata bulat, bahkan pegawai disini pun tampilannya melebihi pramugari.
"Anda siapa?" tanya resepsionis dengan rambut di gerai sepinggang itu.
"Saya Hayley Marshall, saya sudah punya janji dengan Mr. Aaron."
"Oh, nona sudah di tunggu," ujar wanita itu sambil mengacungkan jempolnya ke seorang laki-laki berjas hitam, celana hitam dan kacamata hitam.
"Antarkan nona Hayley ke ruang Mr. Aaron, sir!" pinta sang resepsionis pada laki-laki bertubuh tegap itu.
"Mari, Nona," ujarnya kaku, aku hanya mengangguk lalu mengikutinya dari belakang.
Gedung kantor ini bahkan luas dan besarnya hampir tiga kali lipat dari cabang yang di tempati Hayley bekerja, Hayley begitu takjub, semua ruangan terlihat sangat megah dengan karyawan yang berpakaian sangat formal.
"Silahkan masuk, Nona." Laki-laki mempersilahkan.
"Terimakasih," ujar Hayley sopan sambil mengangguk.
Hayley kini berada di lantai tertinggi gedung, dengan ruangan yang sangat luas, semua perabotan yang ada di ruangan ini terlihat mewah dan mahal, Hayley berdecak kagum.
Dia melihat Aaron duduk di kursi kebesarannya sambil menghadap laptop.
"Selamat pagi, Mr. Ice," sapa Hayley.
Aaron hanya menjawab dengan lirikan, matanya memberi isyarat pada Hayley agar duduk di kursi yang sudah di sediakan, tepat di depan Aaron.
Keduanya hanya saling diam, Hayley menunduk, meremas jemarinya di bawah meja sambil menggerakkan kaki untuk mengurangi kegugupan, ia selalu merasa nervous di depan Aaron meskipun hanya di lirik. Mata tajam dengan netra abu kebiruan itu seakan memancarkan kilat cahaya yang membekukan persendian Hayley.
"Oh, upik abu sudah datang rupanya." Alex tiba-tiba keluar dari sebuah pintu berwarna putih di sisi kanan ruangan.
Hayley menghela nafas panjang, ia tidak tau mengapa Alex selalu bersikap seolah-olah dia pernah melakukan kesalahan dan membuat Alex sangat membencinya.
"Alex," sela Aaron.
"Yes, Bro." Alex mendekat, duduk di sisi kiri Hayley lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari map coklat yang ia bawa.
"Baca dan pelajari," perintah Aaron saat Hayley sudah menerima lembaran kertas dari Alex.
"Menyingkirlah, kamu duduk di sofa sana, aku ada urusan dengan Aaron," usir Alex, masih dengan tatapan sengit.
Hayley menghembuskan nafas kasar, ia bangkir dari duduknya. "Awas kau!" desis Hayley, ia terlihat geram dengan perlakuan Alex.
Hayley duduk di sofa panjang berwarna putih dengan motif batik gold. Sebuah vas bunga kecil dengan bunga segar berada di depannya. "Ruangan ini benar-benar keren!" batinnya.
Hayley membaca semua peraturan perjanjian pernikahan yang akan ia jalani, pada poin utama di sebutkan dengan jelas bahwa selama pernikahan mereka tidak boleh melakukan hubungan suami istri seperti pada umumnya. Hayley senang, ia berpikir akan menjalani pernikahan ini secara diam-diam tanpa sepengetahuan ibunya.
Tiga lembar kertas yang Hayley pegang, semuanya sudah ia baca, semua poin-poin penting ia rekam dengan jelas dalam ingatan.
__ADS_1
"Kau sudah selesai, Upik abu?" tanya Alex.
"Hay, Tuan. Aku ini punya nama, namaku Hayley, H A Y L E Y!" jawab Hayley sambil mengeja namanya. "Jangan memanggilku upik abu!"
"Terserah aku, mulut-mulutku," timpal Alex tidak peduli.
"Dasar kau!"
"Alex, jangan mengganggunya," sela Aaron. "Hayley, kemarilah."
Hayley mendekat, kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan Aaron, mata laki-laki itu menatap tajam ke arahnya.
"Bagaimana?" tanya Aaron. "Kau menyetujui semuanya?"
"Baik, tapi bisakah pernikahan ini di rahasiakan dari ibuku?"
"Kenapa? kau malu menikah denganku?" tanya Aaron sambil menyunggingkan senyum sinis.
"Bukan, bukan begitu, tapi ...."
"Aku tidak menerima syarat aneh seperti itu, pernikahan kita akan di ketahui publik, serapat apapun di sembunyikan, semua akan tau," jawab Aaron tegas.
"Bukankah suatu kebanggan bagi ibumu jika putrinya menikah dengan orang sepertiku?" selidik Aaron.
Hayley sejenak berpikir, mencerna pertanyaan Aaron, bukan pertanyaan, lebih jelasnya adalah pernyataan. Apa yang di sampaikan Aaron ada benarnya, jika Hayley menikah secara terang-terangan, bisa di pastikan ibunya akan sangat bahagia.
"Baiklah, terserah," ujar Hayley.
"Nanti malam, aku akan datang ke rumahmu, tolong persiapkan sambutan terbaikmu," ungkap Aaron.
"Nanti malam? apa tidak terlalu cepat?" tanya Hayley.
"Kita akan menikah minggu depan. Jadi, persiapkan dirimu."
"Tapi ...."
"Aku tidak suka di tolak!" desis Aaron. "Kau tetap boleh bekerja setelah menikah, namun identitas aslimu tetap menjadi rahasia, biarkan publik yang mengungkapnya," lanjutnya.
"Ba-baik." Hayley menjawab pasrah.
"Setelah kamu menandatangani perjanjian ini, maka semua hutang-hutangmu padaku lunas, dan setelah hari pernikahan kita, semua hutang-hutang peninggalan ayahmu akan ku bayar," ujar Aaron.
Akhirnya Hayley setuju, dengan tangan gemetar dan basah, ia menandatangani lembar ketiga dari surat perjanjian pernikahan mereka yang sudah tertempel materai.
Dia tidak tau apakah nasib akan membawanya lebih baik, atau justru kesepakatan gila ini akan membuatnya semakin menderita, hanya waktu yang bisa menjawab.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Bersambung ...