Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Di rumah ibu


__ADS_3

Hujan turun dengan derasnya, Aaron melajukan mobil dengan pelan, entah mengapa ia sangat senang berlama-lama menghabiskan waktu bersama dengan Hayley di dalam mobil di tengah derasnya hujan.


Jika biasanya Aaron akan mudah emosi saat macet di lampu merah, maka kali ini laki-laki itu tetap santai dan terlihat tenang.


Hayley pun tidak terlalu memperdulikan Aaron yang diam-diam memandangnya, ia tetap fokus bermain game di ponselnya.


Perjalanan dari kantor menuju rumah Andini biasanya tidak sampai 30 menit, namun karena Aaron sengaja mengulur waktu, perjalanan hampir memakan waktu satu jam. Rumah sederhana satu lantai bercat biru sudah menyambut.


"Tunggu disini, aku ambil payung," ujar Aaron, mencegah Hayley keluar lebih dulu, ia segera keluar dari mobil dan mengambil payung di bagasi dan membuka gerbang


Dengan baju yang hampir basah, Aaron membuka pintu mobil dan memayungi Hayley sampai ke depan teras rumahnya.


"Apa nggak ada garasinya?" tanya Aaron.


"Cuma ada garasi motor, parkir di halaman sini aja," ujar Hayley.


Aaron kembali ke mobilnya dan memarkirkannya di halaman depan.


Tok ... Tok ... Tok ....


Hayley mengetuk pintu pelan, hari sudah senja, ia berpikir jika ibunya sedang beristirahat saat ini, ia sengaja tidak memberitahu sang ibu tentang kedatangannya, karena ini adalah kejutan.


"Loh, mbak Hayley," sapa seorang wanita paruh baya yang Hayley tugaskan untuk merawat ibunya dan mengurus pekerjaan rumah.


"Iya, Bi. Ibu mana ya?" tanya Hayley.


"Di kamar, Mbak. Barusan minum obat langsung istirahat," paparnya.


Hayley masuk ke dalam rumah dan langsung mengajak Aaron menuju kamarnya, ia akan membersihkan diri dan mengganti pakaian lebih dulu sebelum menemui ibunya.


"Maaf, Mr. Ice. Di rumah ini cuma ada tiga kamar, jadi ... sementara kita tidur satu kamar, ya," jelas Hayley.


Berpura-pura menampakkan raut wajah kecewa, Aaron hanya mengangguk dan berpaling. Dia tidak mau jika Hayley mengetahui dirinya sedang tersenyum kegirangan saat ini.


"Aku mau mandi sebentar, kamu mandi juga nggak?" tanya Hayley.


"Mandi lah, tapi ... nggak bawa baju ganti," ujar Aaron.


"Hah, terus gimana dong?"

__ADS_1


"Aku pakai celana pendek kok, ya pakai ini aja. Nanti aku suruh pelayan rumah antar baju ganti kesini."


"Oh ...." Hayley manggut-manggut dan meraih handuk yang tergeletak di meja riasnya, ia langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Sambil menunggu Hayley mandi, Aaron duduk di tepi kasur lalu melepas jas beserta kemejanya, ia menggantung baju di belakang pintu.


Suara gemericik shower terdengar nyaring beserta lantunan lagu lirih yang Hayley nyanyikan membuat Aaron begitu penasaran, ia mendekatkan diri ke pintu kamar mandi sambil berpura-pura memegang majalah.


Usai menghabiskan waktu 15 menit di kamar mandi, Hayley mendadak bingung, ia lupa jika saat ini Aaron berada di kamar yang sama dengan dirinya, dan dia lupa tidak membawa baju ganti.


Hayley membuka pintu perlahan dan mengeluarkan kepalanya, ia berteriak keras. "Mr. Ice ...."


Aaron yang berdiri di dekat pintu di buat terkejut bukan main, suara Hayley hampir saja merusak gendang telinganya.


"Ada apa?" tanya Aaron sok cuek.


"Aku lupa nggak bawa baju ganti," ujar Hayley malu.


"Terus, gimana?"


Hayley bingung, ia bisa saja menyuruh Aaron membuka lemari pakaiannya dan mengambil baju ganti, tapi ia malu jika Aaron sampai melihat tumpukan celana dalam dan bra miliknya di bagian terdepan.


"Hmm, iya-iya. Aku duduk di kursi depan meja rias," jawab Aaron seraya duduk di tempat yang ia maksud.


Hayley kembali mengintip Aaron, memastikan bahwa laki-laki itu tidak bisa melihatnya. Hayley melangkah berjinjit menuju lemari pakaian dengan memakai handuk putih yang hanya menutupi sebagian dada dan sedikit pahanya.


Aaron duduk di depan cermin, ia masih berpura-pura membaca majalah remaja di tangannya. Diam-diam, Aaron bisa melihat Hayley dari pantulan cermin di depannya, ia sengaja menutupi sebagian wajahnya dengan majalah, namun matanya fokus pada Hayley yang berdiri memilih pakaian.


Saat Hayley mengambil sesuatu di lemari teratas, handuknya melorot dan hampir jatuh. Aaron terkejut sampai menjatuhkan majalahnya, ia hampir saja terkena serangan jantung.


Memegang dadanya yang berdebar kencang, Aaron kembali mengatur nafas dan berpura-pura tidak tau.


Hayley dengan cepat melilitkan kembali handuk di tubuhnya, ia melirik Aaron lagi, memastikan laki-laki itu tidak melihat.


"Hah, untung saja!" batin Hayley.


Aaron menelan salivanya, ingin sekali dia menutup rapat matanya agar tidak melihat pemandangan indah di belakangnya lewat pantulan cermin, namun dia laki-laki normal, sayang sekali jika melewatkan kesempatan ini, begitu pikirnya.


Setelah Hayley kembali ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian, Aaron bernafas lega. Dirinya cukup menahan apa yang benar-benar mendorongnya untuk kembali menyentuh dan membelai kemolekan tubuh Hayley, namun ia tidak tau harus memulai dari mana, Hayley begitu kokoh dengan pendiriannya selama ini.

__ADS_1


"Aku udah, gantian kamu yang mandi, Mr. Ice," seru Hayley. Lagi-lagi Aaron terlonjak kaget. "Oh, ya. Memang kamu bisa, ya, baca majalah dalam posisi terbalik?" tanya Hayley.


"Hah?" Aaron mengerutkan kening, lalu kembali melihat majalah yang ia pegang, entah sejak kapan majalah itu dalam posisi terbalik, namun Aaron tidak pernah benar-benar berniat membacanya.


"Aku lihat dari tadi, kamu baca majalah itu, tapi kok kebalik, sih," ungkap Hayley lagi.


Menutupi rasa malunya, Aaron tidak menjawab dan langsung meraih handuk di tangan Hayley, ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi sebelum Hayley menyadari wajahnya kini bersemu merah.


"Ah, sial. Kenapa majalah itu kebalik, sih!" gerutu Aaron. Hampir saja Hayley menyadari jika Aaron hanya berpura-pura, untung saja gadis itu tidak tau jika yang Aaron lakukan hanyalah taktik agar dirinya bisa mengintip.


Usai Aaron mandi, ia keluar hanya dengan memakai celana pendek hitam berbahan kain yang ketat. Hayley memalingkan muka, berusaha tidak melihat pemandangan panas di dekatnya.


"Ah, Mr. Ice, kamu sudah membuat mataku yang polos ini melihat yang tidak-tidak," batin Hayley. Bagaimana tidak, tubuh Aaron yang sangat atletis masih basah dengan buliran air bening yang belum kering itu seperti menginginkan belaiannya.


Aaron mendekat, dan duduk di samping Hayley.


"Jangan dekat-dekat, Mr. Ice," ujar Hayley.


"Memangnya kenapa?" tanya Aaron bingung.


Tanpa banyak bicara, Hayley keluar dari kamarnya dan kembali sambil membawa sebuah sarung.


"Pakai ini," ucap Hayley, memberikan sarung ke tangan Aaron.


"Untuk apa?"


"Memangnya kamu mau ke kamar ibuku cuma pakai celana pendek itu? malu tau!"


"Oh ...." Aaron memakai sarung itu, lalu dengan tidak tau malunya ia melepas celana pendek yang ia pakai di depan Hayley.


"Eh, eh. Kenapa celana itunya di lepas sih?" tanya Hayley kaget.


"Lah, kamu kan nggak mau nyalain AC, kalau aku pakai pakaian dobel-dobel gini gerah lah," keluh Aaron.


"Ih ... kamu ngeselin banget sih, dasar!" Hayley menghentakkan kakinya ke lantai sambil manyun, ia lalu keluar dari kamar dengan hati yang dongkol.


🖤🖤🖤


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2