Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Rumah Albern


__ADS_3

Memikirkan masalah yang datang silih berganti, Aaron tetap tak tergoyahkan sedikitpun, ia terus meminta Hayley untuk tenang dan tidak ikut campur dalam masalah ini.


Bagaimanapun, keadaan Hayley sedang hamil, dan Aaron tidak mungkin mengizinkan istrinya untuk melakukan hal-hal gila yang malah membuatnya semakin tertekan.


Ini adalah hari ketiga, dimana saham perusahaan makin turun dan kerugian makin bertambah besar. Alex dan Aaron sudah menemui beberapa kolega, dan dari kesemuanya hanya sedikit yang mau membantu.


Malam ini, Aaron akan mengajak Hayley untuk datang ke rumah orang tuanya. Perusahaan ini di bangun dari nol oleh papanya, maka mau tidak mau, Aaron harus memberitahukan semuanya dengan jujur, tentang resiko terburuk yang akan mereka hadapi sesegera mungkin.


"Jangan takut, mereka nggak akan menyakiti kamu," ucap Aaron lembut. "Ada aku disini."


Menggandeng tangan istrinya, Aaron dan Hayley melangkah menuju rumah besar kediaman Albern dan Samantha. Mungkin bagi Aaron, datang ke rumah ini bukanlah apa-apa, tapi bagi Hayley, datang ke rumah dengan penghuninya yang sangat membencinya, serasa akan masuk ke kandang singa.


Apapun yang akan orang tua Aaron katakan, Hayley harus menyiapkan diri dan juga hati. Tentu saja mereka akan mencaci dan memaki Hayley seperti yang sudah terjadi sebelumnya, menjadi menantu untuk keluarga Conan Drax memang tidaklah mudah.


Tok ... Tok ... Tok ....


Terdengar seseorang berlari mendekati pintu.


"Tuan muda, silahkan," seorang pelayan wanita berusia lima puluhan mempersilahkan masuk dengan sopan, namun samar terlihat di wajahnya, ia menyimpan ketakutan dan kekhawatiran.


Aaron tetap menggandeng Hayley memasuki ruang tamu. "Di mana papa dan mama?" tanya Aaron pada pelayan yang ada di belakangnya.


"Ruang makan, Tuan."


Aaron menoleh ke arah Hayley, ia tau wanitanya akan keberatan jika ikut bergabung dalam makan malam bersama orang tuanya. Terlihat, wajah Hayley semakin pucat.


"Kita nggak akan ke sana, kita tunggu di sini," ucap Aaron pada Hayley yang hanya di balas anggukan singkat.


"Kalau mereka sudah selesai makan, sampaikan pada papa, aku menunggu di sini," pesan Aaron pada sang pelayan.


Membawa Hayley duduk di ruang tamu, Aaron tak henti-hentinya menguatkan wanita itu. Masih terlintas jelas di ingatan, saat pertama kali Aaron membawa Hayley ke rumah ini dan memperkenalkannya sebagai seorang istri, berbagai makian itu masih membekas di hati.


Lima belas menit menunggu, Albern dan Samantha berjalan tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Papa, Mama," sapa Aaron, Hayley berdiri dari duduknya dan membungkukkan badan hormat.


Tidak mengindahkan sapaan ramah anak dan menantunya, Albern langsung bertanya tegas. "Ada apa?"

__ADS_1


"Maaf, Pa. Sepertinya kita harus bicara serius, ada hal penting yang ingin aku sampaikan," ujar Aaron.


Merasakan pandangan tak suka hampir seakan-akan jijik dari ibu mertuanya, nyali Hayley semakin menciut.


Albern duduk bersebrangan meja dengan Aaron dan Hayley, di ikuti Samantha yang duduk di sisi suaminya. Aaron menjelaskan semua masalah perusahaan, begitupun tentang Marcel dan apa yang sudah ia lakukan.


"Demi apa? seorang pengusaha hebat seperti Marcellus Gerald membuatmu lumpuh hanya karena menginginkan istrimu?" tanya Albern merendahkan.


"Apa istimewanya wanita murahan ini," sela Samantha pedas.


"Ma, tolong. Jaga ucapan mama," Aaron mengiba. Kali ini dia tidak ingin menambah masalah dengan membantah dan mempermasalahkan Samantha, dia datang karena butuh dukungan.


"Hah, berikan saja istrimu padanya. Toh, kamu bisa kan, cari istri yang lebih cantik dan sederajat dengan kita," timpal Samantha lagi.


Duduk gelisah, ingin sekali rasanya Hayley lari dari hadapan orang-orang ini, serendah itu kah harga dirinya di depan orang tua Aaron.


"Cukup, Ma. Jangan menambah masalah. Hayley istriku, dan aku akan tetap mempertahankannya sampai kapanpun," ungkap Aaron.


Albern masih duduk tenang memperhatikan anak dan menantunya, laki-laki yang umurnya hampir menginjak tujuh puluhan itu tampak masih gagah dan berwibawa.


"Apa kamu sudah berusaha mencari kelemahan lawanmu?" tanya Albern.


"Sudah berapa bantuan yang kamu dapatkan? hubungi orang-orang yang masuk dalam saingan mereka untuk bergabung denganmu."


"Sudah ku lakukan, hanya beberapa yang setuju."


Albern menghela nafas berat, di usianya yang sudah semakin tua, tentunya ia juga memiliki pengalaman naik turunnya dunia bisnis dan persaingan seperti yang Aaron alami, namun ia belum paham, mengapa hanya karena wanita seperti Hayley, mampu membuat seseorang melakukan hal senekat ini.


"Kamu tau alasan dia menginginkan istrimu?" tanya Albern.


"Ya, Pa. Hayley sangat mirip dengan mantan tunangannya yang meninggal lima tahun lalu," jelas Aaron.


"Artinya, dia begitu terobsesi dengan istrimu."


"Jangan berpikiran sama dengan mama, Pa. Aku tidak akan membiarkan Hayley masuk ke dalam perangkapnya," sela Aaron menebak apa yang akan Albern sampaikan.


"Sudahlah, Aaron. Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik, buang saja wanita ini." Samantha berucap sinis memandang menantunya.

__ADS_1


Hayley semakin menunduk, ia menangis dalam diam.


"Hayley sedang hamil, Ma. Dia mengandung anakku, cucu kalian!" sentak Aaron, amarahnya sudah hampir sampai di ubun-ubun mendengar hinaan Samantha yang semakin tidak terkendali.


Menyipitkan mata, Albern semakin bingung.


"Papa tidak bisa membantumu, Aaron. Jadi, semuanya terserah padamu," ucap Albern melunak.


"Pa, kenapa sih, kenapa nggak suruh anak kita ceraikan saja wanita itu," rengek Samantha.


"Harga diri seorang laki-laki di tentukan dari prinsipnya. Aaron adalah anak laki-laki kita satu-satunya, dimana dia harus menaruh mukanya kalau sampai menjual istrinya sendiri?" Albern berucap tegas membungkam Samantha yang terus mengoceh keberatan.


"Terimakasih, Pa," ucap Aaron tulus, rasanya, dia seperti mendapatkan bantuan moral yang sangat besar dari papanya.


"Kamu harus bertindak cepat. Ingat, ini perusahaan keluarga kita yang papa bangun dari nol, papa harap kamu mampu bertahan. Kalau kamu sampai tumbang, bukan hanya dirimu yang merasakan, kami juga turut menanggung resikonya."


"Apa anak dalam kandungan mu itu laki-laki?" tanya Samantha pada Hayley.


Mendongak ketakutan, Hayley hanya menggeleng.


"Belum tau, Ma. Aku ingin dokter merahasiakan jenis kelamin bayi kami, agar nantinya bisa jadi kejutan," sela Aaron.


Dengan bibir komat-kamit, Samantha melenggang meninggalkan ruang tamu.


"Kalau perlu, kamu harus mendekati orang-orang terdekat Marcel, siapa tau mereka berbesar hati membantu, karena yang menjadi masalah bukanlah tentang bisnis, melainkan urusan pribadi," ujar Albern. "Temui pamannya, dia masih punya keluarga disini."


Aaron mengangguk patuh, kali ini ia cukup senang dengan reaksi papanya yang tidak terduga. Seburuk apapun sifat Albern, ia tidak akan membiarkan anak laki-lakinya kehilangan martabat dengan menyerahkan istri sebagai penyelamat perusahaan.


Setelah berdiskusi cukup panjang, Aaron dan Hayley meninggalkan kediaman Albern.


"Maafkan mamaku," ucap Aaron lirih, ia merasa sangat menyesal karena tidak bisa berbuat banyak saat Samantha merendahkan Hayley.


"Nggak papa."


"Aku yakin, suatu saat, mama dan papa akan merestui kita."


"Aku pun berharap begitu."

__ADS_1


🖤🖤🖤


Bersambung ...


__ADS_2