
Alex membaca surat itu beberapa kali, namun dia belum bisa menangkap maksud dari kata perpisahan yang Melanie tuliskan.
Meraih kembali ponselnya, Alex berusaha menghubungi Melanie. Sampai beberapa kali, nomor tujuannya sudah tidak aktif.
"Hai, Aaron," sapa Alex tergesa-gesa, ia bingung harus menelpon siapa untuk menanyakan keberadaan Melanie, tapi mungkin Aaron bisa membantunya.
Di sebrang telepon, Aaron dan Hayley menikmati tidur nyenyak mereka, namun terbangun saat suara dering ponsel berbunyi.
"Ada apa? jam berapa ini?" tanya Aaron, waktu sudah hampir tengah malam dan Alex menelponnya di jam tidur mereka.
"Ya Ampun. Aku dalam masalah," ucap Alex.
"Hah? masalah?" tanya Aaron terkejut. "Ada apa?"
"Apa kamu masih menyimpan nomor tuan Gio?" tanya Alex.
"Tuan Gio? ada apa? apa terjadi sesuatu pada Melanie?" tanya Aaron penasaran, tuan Gio adalah papa dari Melanie.
"Bukan waktunya bertanya, Aaron. Kamu punya nggak?"
"Jawab dulu pertanyaanku, Alex. Jangan berbuat yang nggak-nggak, ada apa sama Melanie?" desak Aaron.
"Ya Tuhan. Tolong jawab dulu pertanyaanku, Aaron."
"Nggak punya. Tapi ada di buku arsip di ruangan kantorku," jawab Aaron akhirnya.
"Apa di rumah ada salinannya?"
"Sepertinya belum. Memangnya kamu pernah menyalin dokumennya?"
Klik!
Alex mematikan ponselnya tanpa memperdulikan Aaron. Bergegas mengganti baju, Alex langsung mengendarai mobilnya untuk ke kantor di tengah malam seperti ini.
Dalam pikirannya, dia harus menemukan Melanie untuk mendapatkan kejelasan tentang kata perpisahan yang Melanie tulis. Bukankah selama ini hubungan mereka baik-baik saja, ia masih sering menemani Melanie makan malam dan bermalam bersama, Melanie pun masih perhatian seperti sebelumnya. Alex merasa tidak ada yang berubah di antara mereka, namun Melanie memutuskan komunikasi sepihak hanya karena lupa datang tepat waktu malam ini.
Sesampainya di kantor, Alex tidak menyapa para penjaga yang berjaga di depan gerbang kantor, ia tidak memperdulikan mereka yang menatap heran kenapa bisa ia datang ke kantor di tengah malam seperti ini.
Alex segera mencari dokumen yang Aaron maksud, lalu memasukkan nomor tuan Gio di ponselnya.
__ADS_1
"Aku tau ini nggak sopan, tapi mau bagaimana lagi," batin Alex. Menelpon orang hampir di waktu dini hari bukanlah hal yang bagus, tapi tidak ada jalan lain, Alex tidak akan sabar menunggu sampai besok, ia harus segera menemui Melanie.
Beberapa kali mencoba menelpon, tidak ada jawaban. Namun Alex tidak patah semangat, ia kembali mencari nomor rumah tuan Gio.
"Halo ... halo ...." ucap Alex.
"Ya, halo. Siapa ini? kenapa tengah malam begini menelpo?" sahut seseorang di sebrang sana, seorang wanita dengan suara berat.
"Apa ini benar kediaman tuan Gio? apa Melanie ada di rumah?" tanya Alex.
"Ya, benar. Ini memang rumah suami saya. Kalau boleh tau, saya bicara dengan siapa, ya?"
"Maaf, apa Melanie ada di rumah?" tanya Alex. Jika saja ia tau dimana rumah keluarga besar tempat Melanie tinggal, mungkin ia tidak perlu repot-repot menelpon sana-sini, namun sayangnya, sejak pertama kali kenal, Melanie hanya menunjukkan apartemen dan villa keluarganya.
"Anda siapa? kenapa menanyakan keberadaan anak saya?"
"Alex, saya Alex. Bisa bicara dengan Melanie?"
Orang di sebrang telpon terdiam cukup lama, ia sudah sering mendengar nama Alex dari putrinya dan juga dari suaminya, nama Alex sangat tidak asing lagi bagi mereka.
"Bagaimana? apa Melanie ada?" tanya Alex tidak sabar.
"Ah, kenapa harus menunggu besok pagi. Bisakah aku bicara dengannya sekarang?" tanya Alex mendesak.
"Maaf, kami hanya menerima tamu di jam normal. Dan ini dini hari."
Mama Melanie menutup telpon secara sepihak, membuat Alex kesal dan membanting ponselnya. Alex kesal, ia berteriak marah memecah keheningan.
Tanpa memperdulikan tubuh yang lelah dan pikiran yang kacau, ia meraih ponselnya yang ada di lantai dan bergegas memacu mobilnya menuju alamat yang baru saja ia dapatkan.
Perjalanan dari kantor menuju perumahan elite tempat keluarga besar Melanie tinggal cukup jauh, hampir memakan waktu dua jam. Dan malam ini, Alex sama sekali belum memejamkan matanya untuk beristirahat.
Mengutuk kebodohannya sendiri, Alex terus bergumam tidak jelas, ia tau hubungannya dengan Melanie hanya sebatas teman dan lawan di atas ranjang, namun sedikit di dasar hatinya, ia sangat menghargai ketulusan gadis itu, semua kebaikan dan sikapnya yang mandiri, membuat Alex merasa kehilangan.
Dua jam perjalanan, Alex mampir ke sebuah kafe untuk memesan kopi, letaknya sudah cukup dekat dengan perumahan yang ia tuju.
Setelah meneguk segelas kopi penghilang kantuk, ia segera memasuki perumahan, membaca setiap papan nomor yang tertera di depan rumah.
"Ah, ini dia." Alex turun dari mobil. "Permisi, Pak. Apakah benar ini kediaman tuan Gio?" tanya Alex pada penjaga rumah.
__ADS_1
"Benar. Maaf, dengan siapa, ya?"
"Saya Alex. Bisa saya masuk?"
"Maafkan kami, Tuan. Tapi nyonya besar melarang tamu di jam malam seperti ini. Tuan bisa kembali besok pagi."
"Hah, aku jauh-jauh berkendara dua jam untuk datang kesini, jangan menyuruhku menunggu!" bentak Alex.
"Maaf, Tuan. Tapi memang itu peraturannya. Silahkan pergi, datang kembali besok pagi."
Melihat dua orang gagah besar yang berbicara tegas itu membuat Alex akhirnya memilih mundur, lagipula ini tengah malam, dia tidak mau membangunkan seluruh penghuni komplek perumahan akibat ulahnya yang menerobos rumah orang lain.
Alex memilih kembali ke mobilnya dan memutuskan untuk beristirahat sejenak sembari menunggu pagi.
Entah sudah berapa lama dia tertidur di dalam mobil, terdengar seseorang mengetuk kaca mobilnya.
"Ya?"
"Tuan di tunggu nyonya besar, silahkan masuk," ucap penjaga yang semalam mengusirnya.
Mengucek mata sambil memulihkan kesadaran, Alex langsung bergegas masuk ke dalam rumah keluarga besar Melanie.
"Selamat siang, Tuan Gio, dan nyonya," sapa Alex ramah. Meskipun semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena Melanie, pagi ini ia terlihat masih sama tampannya meskipun belum mandi.
"Ah, ya. Selamat pagi, Alex," jawab tuan Gio.
"Apa kamu berada di depan rumah kami semalaman?" tanya Nyonya Gio.
"Eh, iya. Maaf jika saya mengganggu. Saya cuma ...."
"Tidak apa-apa. Mari, kita sarapan terlebih dahulu, kamu pasti belum sarapan kan?" sela nyonya Gio.
"Terimakasih, Nyonya. Tapi, saya cuma mau ketemu Melanie," ungkap Alex.
"Mari, kita sarapan dulu, Alex. Anggap saja rumah sendiri," sahut tuan Gio, membuat Alex mau tidak mau tetap menurut.
Alex berjalan menuju ruang makan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, ia melihat banyak sekali foto keluarga ini di pajang, hampir di setiap sudut ruangan, terdapat foto setiap anggota keluarga, terutama foto masa kecil Melanie yang masih menggemaskan.
🖤🖤🖤
__ADS_1