Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Melanie ingin hamil


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, kesehatan Melanie menunjukkan kemajuan, ia tetap menjalani kemoterapi setiap dua minggu sekali, tidak hanya rambut kepalanya saja yang sudah habis karena efek obat tersebut, melainkan rambut bagian tubuh lainnya pun ikut rontok.


"Jangan khawatir, kamu tetap cantik," puji Alex.


Pagi ini, keduanya memiliki janji bertemu dengan salah seorang ahli kedokteran yang sudah menangani pasien Leukimia di berbagai negara, Alex berusaha keras mencari dokter terbaik dengan segala upayanya, ia akan berusaha sekeras mungkin agar Melanie tetap hidup. Sekecil apapun harapan itu, Alex akan melakukannya, meskipun beberapa dokter memastikan bahwa Melanie tidak bertahan lebih dari setahun, Alex tetap tidak mempercayainya, baginya, Tuhan lebih berkuasa menentukan hidup dan mati seseorang.


"Apakah semuanya bisa di usahakan, Dok?" tanya Alex, dokter laki-laki berperawakan tinggi dengan wajah bule itu sedikit terlihat bingung.


"Aneh, hasil lab dan berbagai macam pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuh istri anda sudah mulai mengalami penurunan kinerja organ fungsi. Tapi, di lihat dari fisiknya, nona Melanie terlihat sehat dan baik-baik saja," jelas dokter.


"Itu karena saya bahagia, Dok," sela Melanie, ia duduk di kursi berdampingan dengan Alex sambil merangkul lengan suaminya.


Dokter tersenyum mendengar jawaban Melanie.


"Ada beberapa metode pengobatan baru yang sedang di kembangkan di Singapura. Saya rasa kita bisa mencobanya," ucap dokter, memberi setitik harapan pada dua manusia yang duduk bersebrangan dengannya.


"Benarkah? apa harapannya lebih baik?" tanya Alex.


"Beberapa pasien yang menjalani pengobatan tersebut memang tidak sembuh, tapi harapan hidupnya meningkat. Penyakit seperti ini mustahil di sembuhkan, yang bisa kita lakukan hanya menunda setiap pergerakan sel kanker yang menggerogoti tubuh, tapi sulit untuk melenyapkannya begitu saja."


"Kapan kami bisa melakukan pengobatan, aku minta secepatnya."


"Baik, kami akan segera mengurus semua dokumen kesehatan nona Melanie. Kami usahakan nona sudah bisa di tangani seminggu lagi," ucap dokter.


Alex dan Melanie terlihat sangat bahagia dengan harapan yang dokter berikan. Keduanya tau jika harapan untuk hidup lebih lama memang sulit, tapi jika bisa menambahnya sehari saja, mereka akan melakukan segalanya.


Setelah dokter menjelaskan semuanya, Alex dan Melanie berpamitan untuk pulang. Namun saat keduanya keluar dari ruangan dokter, Alex tiba-tiba merasa sakit perut.


"Sayang, tunggu di sini, ya. Aku ke kamar mandi dulu," pamit Alex, Melanie pun mengangguk dan duduk di kursi tunggu dekat ruangan dokter yang baru saja mereka temui.


Beberapa menit menunggu, Alex tak kunjung kembali, sampai dokter itu keluar dari ruangan dan menyapa Melanie.


"Di mana suami anda?" tanya dokter.

__ADS_1


"Sedang ke kamar mandi," jawabnya. "Oh ya, Dok. Boleh kita bicara secara pribadi?" tanya Melanie, wajahnya tampak sangat serius, dokter pun menyanggupinya dan duduk bersebelahan dengan Melanie.


"Dalam kondisi seperti saya, apakah ada kemungkinan bagi saya untuk hamil?" tanya Melanie.


Dokter menatap wanita muda di sebwlahnya, harapan hidupnya sangat singkat, namun keinginannya begitu tinggi.


"Dari ratusan pasien yang pernah saya tangani. lima persen dari mereka masih bisa menjalani kehamilan dengan berbagai program, namun dengan pantauan ketat dari dokter, dan kehamilannya tidak akan bisa sempurna sampai empat puluh minggu. Bayi harus di lahirkan prematur demi keselamatan keduanya," jelas dokter.


"Bisakah saya melakukannya?" tanya Melanie penuh harap.


"Anda yakin?" Dokter mengerutkan kening, ia tidak yakin jika Melanie mampu menjalani kehamilan itu


"Saya yakin bisa melakukannya, Dok."


"Kita bisa berkonsultasi pada dokter kandungan selama menjalani perawatan di Singapura, bagaimana?" tawar dokter.


"Benarkah? dokter mau membantu?"


"Saya akan berusaha untuk mendampingi anda. Tapi, biaya untuk pengobatan dan program hamil itu tentu saja akan menghabiskan banyak sekali uang."


🖤🖤🖤


Setelah sampai di rumah, Melanie ragu mengatakan tentang obrolannya dengan dokter di ruang tunggu pagi tadi pada Alex, ia tidak tau apakah Alex akan senang atau justru sebaliknya. Namun apapun yang berhubungan dengan keselamatannya, Alex selalu tampak keberatan.


Malam saat mereka akan tidur, Melanie dengan hati-hati menjelaskan bahwa dirinya ingin segera hamil, reaksi Alex terlihat tidak suka, namun Alex berusaha menyembunyikannya.


"Aku nggak mau kita memaksakan diri, Sayang. Yang terpenting adalah kesehatanmu, kita bisa memikirkan urusan itu nanti," ujar Alex, menolak dengan halus permintaan istrinya.


"Nggak ada nanti-nanti. Sebelum semuanya lebih parah dan terlambat, kita bisa memulainya," pinta Melanie.


"Hamil itu bukan sesuatu yang mudah. Aku sering melihat Hayley di awal-awal kehamilannya kesulitan makan, mual, muntah, capek berlebihan, Aaron hampir gila karena hal itu. Dan aku belum siap," ucap Alex dengan lantang. "Aku belum siap kehilanganmu," batinnya.


Alex jelas tau, kondisi tubuh Melanie yang lemah dan rentan terhadap segala sesuatu, tidak memungkinkan untuk bisa hamil dan menjalani itu selama sembilan bulan penuh.

__ADS_1


Alex menyaksikan sendiri bagaimana kondisi Hayley saat hamil dan berbagai masalah yang terjadi saat kehamilan itu, Alex tau semuanya akan sangat membahayakan kesehatan Melanie. Meskipun tidak bisa di pungkiri, ia juga sangat ingin memiliki malaikat kecil di tengah-tengah keluarga mereka, tapi Alex tidak ingin egois, hidup Melanie lebih penting dari segalanya.


"Aku mohon, kita harus menjalani program kehamilan," pinta Melanie.


"Nggak!" tolak Alex tegas.


"Kamu nggak mau kita punya anak?"


"Kamu sudah lebih dari cukup bagiku, Mel!" seru Alex, ia turun dari kasur dan memilih keluar dari kamar.


Alex tidak tahan jika harus melihat Melanie terus memohon meminta agar keinginannya terwujud, ia sudah memikirkan banyak hal untuk kesembuhan Melanie, agar istrinya bertahan hidup lebih lama, namun ia tidak sanggup jika memikirkan tentang kehamilan di tengah penyakit ganas yang menggerogoti tubuh istrinya setiap hari, Alex merasa frustasi, merasa tidak becus menjadi seorang laki-laki.


🖤🖤🖤


Keesokan harinya, Alex pamit berangkat bekerja dan meninggalkan Melanie di rumah, Alex sudah menyiapkan beberapa pelayan untuk mengurus Melanie, dan tentu saja seorang dokter yang akan siap siaga jika mendapatkan panggilan darurat darinya.


"Tumben pagi-pagi kesini?" tanya Hayley, rupanya Alex mampir ke rumah Aaron lebih dulu, ia merasa butuh seseorang untuk mendengarkan masalahnya.


"Hai, Boy!" sapa Alex pada keponakannya yang sedang di pangku Hayley di taman depan rumah.


"Ada apa, Alex? kamu kelihatan murung?" tanya Hayley lagi. "Apa Melanie baik-baik saja?"


"Dia baik," jawab Alex singkat. "Dimana Aaron?"


"Masih siap-siap."


"Oh, ya. Hayley, apa menurutmu hamil itu hal yang sangat sulit?" tanya Alex.


Hayley mengerutkan kening, menatap sepupu iparnya yang tampak kusut dengan wajah di tekuk.


"Hamil adalah hal yang menyenangkan dan luar biasa, sesuatu yang sangat di impikan setiap wanita di dunia ini. Semua wanita pasti menginginkan momen berharga itu, meskipun hanya sekali seumur hidup," jelas Hayley.


"Tapi, aku sering melihatmu mual, muntah, dan beberapa kali kesakitan," ujar Alex.

__ADS_1


"Itu sama sekali nggak ada bandingnya dengan kebahagiaan setelah Nick lahir. Semua keluhan saat hamil seperti bumbu penyedap, kehamilan akan terasa hambar kalau nggak ada adegan-adegan itu," jelas Hayley lagi.


🖤🖤🖤


__ADS_2