Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Menyesal


__ADS_3

Temaran sinar matahari menembus jendela kaca yang tersingkap gordennya, udara pagi yang sejuk membuat sepasang manusia menenggelamkan tubuh ke dalam selimut tebal yang menghangatkan.


Mengerjapkan mata pelan, Hayley menyadari ada orang lain yang kini berada dalam satu selimut bersamanya, ia merasakan nafas hangat yang menerpa wajahnya.


Sebuah lengan kekar melingkar di atas perut, Hayley tersentak kaget, dia menggosok matanya berkali-kali sambil mengatur nafas, melihat sosok tampan yang kini sedang terlelap memeluknya.


Menyingkap selimut perlahan, Hayley merasakan kulit bersentuhan dengan kulit.


"Ya Tuhan!" batinnya, ingin dirinya berteriak, namun sekelebat bayangan tentang apa yang ia alami semalam terlintas di kepalanya.


Di dalam selimut, tubuhnya polos tanpa balutan secarik kain pun, begitupun laki-laki di sampingnya, mereka benar-benar tidur dalam keadaan tanpa busana.


Menahan tangis, Hayley menyingkirkan lengan kekar yang memeluknya erat, dengan hati-hati ia meraih gaun yang teronggok di lantai dan menutupi tubuhnya hingga ia masuk ke dalam kamar mandi.


Aaron terbangun, namun ia tetap berpura-pura tidur agar Hayley tidak semakin histeris.


Tangis Hayley pecah saat guyuran shower air hangat membasahi seluruh tubuhnya, ia merasa hina, ia merasa buruk mengingat apa yang ia lakukan semalam.


Tanpa mengeluarkan suara isakan sedikitpun, Aaron menyadari gadisnya sedang menangis menyesali kenikmatan sesaat yang mereka raih semalaman.


Tiga puluh menit berlalu, Hayley keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan rambut yang basah dan mata yang sembab, gadis itu hanya memakai handuk putih yang ia lilitkan menutupi dada dan sedikit pahanya. Sedangkan Aaron, ia sudah berpakaian lengkap sedang menunggu di tepi kasur.


Melirik Aaron sekilas, Hayley tetap melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti.


"Hayley," sapa Aaron lembut, ia mendekati Hayley yang berdiri mematung di depan cermin.


Tidak ada sahutan, gadis itu hanya diam dengan bahu yang berguncang, perasaan malu, marah, menyesal, dan apapun itu, begitu membuatnya frustasi dan tertekan.


Aaron mendekat, memeluk tubuh Hayley dari belakang, ia sudah menebak jika hal ini akan terjadi setelah Hayley menyadari semuanya, dan Aaron sudah siap menanggung apapun resikonya.


"Kamu marah? silahkan marah, Hayley," ucap Aaron lembut. "Kecewa? aku tau. Maaf, aku nggak bisa mengontrol diriku."


Tidak ada jawaban, Hayley malah semakin terisak dengan bahu berguncang hebat.


Aaron melepas pelukannya, membalik tubuh Hayley agar mereka bisa saling berhadapan.


"Lihat aku, Hayley," ujar Aaron, ia mengangkat dagu gadis itu dengan lembut.

__ADS_1


Mata merah sembab dengan air mata yang tidak ada hentinya mengalir, Hayley tidak mampu berbicara sepatah kata pun.


"Kita adalah pasangan suami istri yang sah. Apa yang kita lakukan semalam bukanlah sebuah kesalahan, itu bukan suatu hal hina yang perlu di sesali, Hayley!"


Hayley mendongak, ia menatap Aaron lekat.


"Apalagi yang mau kamu katakan, ini hanya pernikahan kontrak?" tanya Aaron. "Sekarang nggak lagi. Aku akan mempertanggung jawabkan semua ini, kita akan mulai semuanya dari awal."


"Maaf." Pelan, Hayley berucap lirih hampir tak terdengar.


"Nggak ada yang perlu di maafkan. Ini bukan suatu kesalahan," tegas Aaron, ia memelu Hayley erat, menenangkan gadis di hadapannya.


"Ayo, pakai bajumu. Kita akan turun untuk sarapan," pinta Aaron, ia membuka lemari dan memiloh satu stel piyama panjang sebagai pakaian santai untuk Hayley.


🖤🖤🖤


Di meja makan, Alex sudah menunggu tidak sabar, ia sudah duduk di kursinya hampir setengah jam dengan perut keroncongan.


"Orang-orang pada kemana, sih," gumam Alex kesal.


Menatap ke arah tangga, ia melihat Aaron turun bersama Hayley, laki-laki itu memeluk bahu Hayley sambil mengusap lembut.


Hayley tidak menjawab, Aaron menuntunnya duduk di kursi, lalu memberi isyarat pada sepupunya yang tidak memiliki rem mulut itu untuk diam sesaat.


Alex langsung terdiam saat Aaron melotot ke arahnya, kini ia tau, ada sesuatu yang telah terjadi di penghujung pesta, pesta yang Aaron dan Hayley nikmati berdua.


Sarapan pagi ini berlangsung sepi, ketiganya seperti sedang mengheningkan cipta. Hayley hanya makan beberapa suap nasi, lalu melamun mangaduk apa yang ada di piringnya.


Setelah selesai makan, Aaron mengantar Hayley kembali ke kamarnya.


"Istirahatlah, aku ada keperluan sebentar," pamit Aaron, ia menyuruh Hayley untuk berbaring di atas kasur, lalu memakaikan selimut, sebelum ia beranjak pergi, satu kecupan ia daratkan di kening gadis itu.


Usai kepergian Aaron, Hayley kembali menangis, ia meringkuk di bawah selimut memeluk lutut.


"Kenapa? kenapa semua ini bisa terjadi? kenapa?" Pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepalanya.


Menyesal pun, tidak lagi berguna.

__ADS_1


Dia sendiri yang memilih untuk merebut gelas minuman itu dari tangan Aaron, tidak ada yang memaksa, niatnya hanya untuk menyelamatkan Aaron, karena ia tau Kathrine sedang merencanakan sesuatu yang licik.


Ada sedikit rasa lega di dadany, karena bukan Aaron yang meminum obat perangsang tersebut, jika itu terjadi, maka takdir mungkin akan berubah dan berbalik, Kathrine pasti sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.


Bukankah jika Kathrine kembali bersama Aaron, maka Hayley akan bebas dari pernikahan ini?


Sayangnya Hayley tidak begitu, ia merasa tidak rela jika Aaron kembali pada wanita seperti Kathrine, hatinya menolak Aaron pergi, tapi ia juga menginginkan laki-laki lain di sisi hatinya, Marcel.


Nama laki-laki itu sekelebat membayangi dirinya. Membayangkan kekecewaan yang Marcel alami, Hayley semakin frustasi.


🖤🖤🖤


Selepas meninggalkan Hayley di kamar, Aaron menuju ruang kerjanya, ia tidak tau bagaimana cara meyakinkan Hayley bahwa kini dia menaruh hati pada gadis itu.


Aaron sadar, dia bukanlah satu-satunya orang yang sedang berjuang memenangkan hati gadis itu, dengan adanya kejadian ini, mungkin pernikahannya akan bertahan lebih lama bersama Hayley, ia bisa memulai biduk rumah tangga yang sesungguhnya bersama gadis itu, namun yang rumit, adalah perasaan Hayley sendiri.


Aaron memang bisa membuat Hayley tetap di sampingnya, memiliki raganya, namun ia ragu jika ia bisa meluluhkan hatinya.


"Terjadi sesuatu?" tanya Alex tiba-tiba, Aaron tidak menyadari kedatangan Alex karena terlalu fokus dengan pikirannya.


"Aku dan Hayley ...."


"Kalian making love?" tanya Alex. "Lalu, apa masalahnya?"


"Ini berbeda, Alex. Nggak semudah yang kamu pikirkan, Hayley melakukan itu dalam keadaan tidak sadar, dan sekarang, dia pasti sangat menyesalinya," jelas Aaron.


"Ah, entah harus marah atau berterimakasih pada wanita sialan itu, tapi kejadian ini sukses membuatmu memiliki Hayley seutuhnya. Kathrine memang bodoh!" ucap Alex.


"Benar, aku memang harus berterimakasih padanya.Tapi, entahlah, aku nggak bisa lihat Hayley terus seperti ini."


"Sudahlah, Aaron. Menyesal pun nggak guna. Sekarang, tinggal bagaimana kamu membuat Hayley membuka hatinya, urusan Marcel, serahkan padaku!"


"Terimakasih, Alex. Kamu terbaik."


"Sure, Alex gitu loh!"


🖤🖤🖤

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2