
Usai melakukan pemeriksaan dan Hayley di nyatakan sehat, dokter hanya memberikan beberapa vitamin dan mewanti-wanti agar Hayley memiliki waktu istirahat yang cukup. Meskipun Hayley tidak memberitahukan tentang kegiatan sehari-harinya pada dokter, tapi dokter sudah bisa menebak, keluhan-keluhan yang Hayley sampaikan adalah akibat dari terlalu lelah dan kurangnya istirahat.
Sesampainya di rumah, Aaron memberikan banyak sekali peraturan-peraturan pada sang istri.
"Jangan lagi memasak, jangan suka naik turun tangga, kalau perlu apa-apa, bisa panggil Laksmi. Jangan sekali-kali melakukan pekerjaan rumah tangga, apapun itu!" ancam Aaron.
"Tapi, Sayang ...."
"Please, Sweety. Jangan membantah."
"Aku bosan kalau hanya duduk menonton tv dan membaca novel. Aku bosan," keluh Hayley.
"Baik, sekarang kamu maunya seperti apa? aku akan kabulkan semua permintaanmu, Sweety. Asal kamu juga menuruti apa kataku," ujar Aaron, nadanya mulai melemah, ia tidak tega jika harus menasehati sang istri dengan tegas.
Hayley tidak menjawab apapun, ia hanya menggeleng pelan.
Menghembuskan nafas pelan, Aaron memandang wajah istrinya yang tampak lelah. Memang, semakin hari Hayley terlihat sangat mudah sekali lelah, Aaron sebenarnya sudah tidak tega melihat istrinya dalam keadaan seperti ini, namun apa mau di kata, ini semua demi hadirnya buah hati mereka.
Kondisi perut yang semakin hari semakin besar, membuat Hayley sering sekali kesulitan dalam melakukan aktifitas, seperti memakai sepatu, memakai celana, bahkan memakai bra. Terkadang, Aaron dengan sigap membantu saat dirinya tau sang istri sedang butuh, namun ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya sedang tidak ada di rumah.
Setelah memberikan banyak nasehat pada sang istri, Aaron menuju dapur untuk mengambil brownis yang tadi pagi istrinya buat.
Meringis menatap penampakan hitam kering brownis di tangannya, Aaron kembali masuk menemui Hayley di dalam kamar.
"Kamu mau, Sweety?" tawar Aaron.
"Hmm, pasti rasanya nggak enak. Kalau kamu nggak suka, nggak usah di makan, Sayang," ujar Hayley.
"Nggak papa, ini pasti enak. Buatan istriku," ucap Aaron sambil tersenyum pada sang istri.
Sebelum menggigit potongan pertama, Aaron menghela nafas, ia tau ini tidak akan mudah.
"Hmm."
"Bagaimana? enak?" tanya Hayley.
Memaksakan senyum secerah mentari, Aaron mengangguk, ia tidak yakin dengan apa yang sedang ia kunyah di dalam mulutnya. Ternyata wujud brownis ini memang seburuk rasanya.
"Ya Tuhan. Bagaikan makan biji kopi yang baru di goreng!" batin Aaron berteriak. Rasa brownis yang seharusnya manis legit dan enak, tidak bisa ia rasakan. Hanya rasa pahit, pahit dan pahit. Rasa itu menguasai mulut Aaron.
Menelan paksa satu potong brownis, Aaron hampir meneteskan air mata karena menahan rasa di mulutnya.
__ADS_1
"Yakin enak?" tanya Hayley memastikan.
"Enak, Sayang. Enak."
"Aku coba dong."
"Eh jangan. Ini kan buatan kamu, katanya khusus untukku. Jadi, besok aku akan belikan kamu brownis juga, sebagai ganti," ungkap Aaron, ia tidak mungkin membiarkan sang istri mencicipi makanan terburuk sepanjang hidupnya ini.
"Begitu? jadi, kamu suka?" tanya Hayley.
"Suka, Sayang. Tapi, aku akan kembalikan dulu ini ke kulkas. Nanti akan ku makan lagi."
"Baiklah."
Aaron berlari kembali menuju dapur, meneguk air cukup banyak, ia harus membasuh tenggorokannya untuk menghilangkan rasa pahit yang hampir membunuhnya ini.
🖤🖤🖤
Makan malam di ruang makan, Alex sudah duduk manis terlebih dahulu di kursinya, ia bermain ponsel sambil menunggu Aaron dan Hayley turun dari kamarnya.
"Hai," sapa Alex saat melihat Hayley dan Aaron mendekat.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Alex?" tanya Aaron.
Hayley hanya diam memperhatikan Alex yang terlihat asik sendiri, biasanya, laki-laki itu tidak pernah diam untuk mengatakan banyak hal yang menyebalkan dan membuat Hayley darah tinggi.
Suasana makan malam yang biasanya ramai dengan ocehan Alex, mendadak terasa aneh karena sepi, laki-laki berambut silver itu diam seribu bahasa. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar nyaring.
Hayley terus memperhatikan Alex, matanya tidak luput mengawasi sikap Alex yang mendadak jadi pendiam.
Usai tiga manusia itu menghabiskan apa yang ada di piringnya, Hayley yang tidak tahan diam pun bersuara.
"Alex," sapanya.
"Ya?" Mendongak, Alex menatap Hayley.
"Kamu ... sakit gigi?" tanya Hayley.
"Nggak." Alex hanya menjawab singkat, lalu meraih potongan buah segar di dekatnya tanpa memperdulikan tatapan aneh Hayley.
"Oh, ku kira sakit gigi," ujar Hayley.
__ADS_1
"Sweety ... sstt!" Aaron berucap sambil menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, ia tau jika Alex sedang berusaha menahan diri untuk tidak bersuara, namun ternyata kini istrinya yang mulai mencari gara-gara.
"Kenapa? aku kan hanya bertanya," kilah Hayley sambil mengangkat bahu, dirinya benar-benar di landa rasa penasaran luar biasa terkait sikap Alex yang cuek padanya.
Dalam hati, Alex sedang tertawa gembira melihat Hayley yang sibuk menerka-nerka.
"Aaron. Aku ke kamar dulu," pamit Alex, meninggalkan Hayley yang berpikir keras dengan sejuta prasangka.
Menatap punggung Alex yang berjalan menjauh, Hayley bertanya pada Aaron.
"Dia kenapa? nggak sakit gigi kan, Sayang?"
"Sudahlah, Sweety. Mungkin dia lelah, jangan balik mengganggunya," jawab Aaron.
"Aku kan nggak ganggu. Cuma penasaran aja, kenapa dia jadi pendiam, ya?"
"Sudah. Ayo, kita ke kamar," ajak Aaron, ia meraih tangan istrinya dan menggandengnya menuju kamar.
Aaron menemani Hayley di dalam kamar, mendengarkan wanita itu bercerita tentang film-film favorit yang sudah ia tonton beberapa hari terakhir.
"Sini, aku pijat," ucap Aaron, ia duduk di samping Hayley dan memijat kaki istrinya.
"Nggak usah. Aku nggak mau pijat," tolak Hayley, ia sudah trauma dengan pijatan Aaron yang akan menjerumus kedalam kegiatan panas yang membakar gairah. Meskipun tidak bisa di pungkiri, kegiatan itu mampu membuat Hayley tidur nyenyak, namun ia tidak cukup kuat jika harus melakukannya setiap malam.
"Kenapa? biar enak."
"Nggak usah, Sayang. Nggak usah."
"Kenapa, sih!" protes Aaron, padahal dia hanya berniat baik membuat istrinya merasa nyaman, namun Hayley malah menolaknya mentah-mentah.
"Nggak mau. Nanti pasti minta jatah, kan?"
"Eh, nggak."
"Bohong! aku nggak minta pijat kok. Kamu tidur sini aja," ucap Hayley sambil menunjuk bantal di sampingnya.
Akhirnya Aaron mengalah, Hayley tetap kukuh pada prasangka buruknya terhadap Aaron, dan memilih untuk tidak di pijat laki-laki itu.
Berjam-jam mengobrol hangat sambil berpelukan di atas kasur yang empuk, Aaron sengaja menunggu Hayley tidur lebih dulu. Setelah memastikan sang istri tertidur pulas, Aaron mengirim pesan pada Laksmi, sang kepala pelayan.
"Kumpulkan seluruh pelayan dan koki di rumah ini. Aku menunggu kalian di ruang kerja. Sekarang!" Pesan Aaron terkirim pada Laksmi.
__ADS_1
Laksmi yang sudah bersiap untuk tidur, terkejut bukan main saat mendapatkan pesan singkat dari majikannya. Pikiran wanita paruh baya itu berkelana mencari kesalahan yang sudah ia perbuat, sampai-sampai sang majikan mengumpulkan mereka di tengah malam seperti ini.
🖤🖤🖤