
Aaron tidak lagi mengindahkan berbagai kalimat yang Alex lontarkan, berada satu ruangan bersama sepupunya itu hanya akan membuat Aaron semakin gila dan tidak bisa berpikir jernih.
Alex bahkan tidak bisa diam lebih dari lima menit, selalu saja ada yang ia tanyakan, ceritakan. Sungguh, jika Alex bukanlah sepupunya, Aaron sangat ingin sekali menyumpalkan vas bunga ke mulut laki-laki itu.
"Sudahlah, Alex. Aku ini sehat. Seharusnya kamu yang pergi ke dokter. Jangan-jangan ada yang salah dengan mulutmu," ujar Aaron.
"Salah dengan mulutku? aku selalu gosok gigi tiga kali sehari, apa mulutku bau?"
"Oh, Ya Tuhan. Sepertinya Hayley benar, kamu itu sangat sangat menyebalkan!"
"Kenapa kalian begitu membenciku? apa salahku?"
"Salahmu? kenapa kamu nggak bisa mengontrol mulutmu."
"Hah, Aaron. Aku merasa bibirku kering kalau terus diam," celoteh Alex.
"Setidaknya, diamlah lima menit!"
"Baik ... baik."
Alex pun diam, ia berjalan ke luar ruangan dan berjalan-jalan sebentar, menyapa para karyawan wanita adalah kebiasaan Alex setiap pagi saat pekerjaannya senggang.
Hampir semua wanita di gedung kantor PT. Conan Dream ini tergila-gila padanya, Alex yang berkepribadian lucu dan ramah selalu tampak mempesona bagi wanita yang suka di puji.
"Ah, Bella. Blouse merah itu cocok untukmu. Cantik!" puji Alex.
"Terimakasih, tuan Alex," ujar Bella sambil mengangguk, ia selalu tampil maksimal setiap kali bekerja agar bisa menarik perhatian Alex, ia dulunya adalah sekretaris pembantu untuk Alex sebelum Hayley di tugaskan menggantikannya.
Namun sayang, tidak hanya Bella satu-satunya wanita yang mendapatkan pujian dari Alex, hampir seluruh karyawati body goals berparas cantik yang mendapatkan pujian dari laki-laki playboy itu.
Setelah menyapa dan menebar pesona ke seluruh penjuru ruangan, Alex kembali ke ruangan Aaron membawa sebuah bingkisan.
"Nih, buat Hayley," ucap Alex.
"Apa ini?" Aaron membuka bingkisan di atas mejanya. "Donat? dari mana kamu dapat donat ini?"
"Tentu saja dari para penggemar," jawab Alex penuh percaya diri. "Bosan tiap hari makan yang manis-manis, aku sudah terlalu manis," lanjutnya.
Mengusap wajahnya kasar, Aaron menggelengkan kepala pelan.
"Apa ini pemberian salah satu karyawan wanita disini?" tanya Aaron penasaran.
__ADS_1
"Tentu saja, mereka selalu berebut menarik perhatianku. Jadi, mana mungkin aku menolak," ucap Alex santai. "Sudah ku bilang, pesonaku lebih kuat darimu."
"Yang benar saja? kamu memang lebih unggul dalam hal menarik perhatian wanita, kamu hebat. Tapi ingat, laki-laki sejati itu harus berani menikahi!" skakmat.
Alex langsung diam seribu bahasa. Ada hal yang tidak bisa ia bantah, sampai di umurnya saat ini, secuil pun ia tidak pernah berpikir untuk segera menikah. Padahal, sudah puluhan wanita yang memintanya untuk menjadi seorang suami, namun Alex selalu menolak.
Alex selalu memegang teguh prinsipnya, melarang setiap wanita yang seranjang dengannya untuk menggunakan hati, mereka hanya akan bersenang-senang, berlibur, menikmati malam yang panjang dan melakukannya berkali-kali. Kemudian, Alex akan meminta wanita itu membuang jauh harapan bersama, mereka hanya saling memuaskan satu sama lain, tidak lebih dari itu.
"Carilah topik lain, Aaron. Kenapa kamu terus mengungkit-ungkit masalah hati. Aku bahkan nggak tau, apa aku punya hati," ucap Alex.
Menghela nafas panjang, Aaron hanya memandang sekilas sepupunya. Jika bukan karena Alex menyebalkan, ia juga tidak suka ikut campur dalam urusan pribadi orang lain, apalagi sampai menyangkut perasaan.
"Baiklah. Aku sedang butuh pendapatmu, sebaiknya, apa yang harus aku lakukan pada Hayley?" tanya Aaron.
"Memangnya dia kenapa?"
"Aku nggak yakin dia akan duduk diam di rumah tanpa melakukan apapun. Dia pasti mengancam para pelayan agar mereka nggak bilang apa-apa sama aku," ujar Aaron.
"Ah, biarkan saja. Capek baru tau rasa!"
"Alex!"
"Kamu mengatai istriku keras kepala? dasar kurang ajar!" pekik Aaron sambil melempar berkas ke arah Alex.
"Kenyataannya begitu," ucap Alex tak berdosa.
"Aku bisa gila terus-terusan sama dia!" batin Aaron.
"Betul kan? kamu aja nggak mengelak. Dia memang keras kepala!" lanjut Alex.
Aaron memejam sesaat, menetralisir darahnya yang hampir mendidih. Dirinya terus memikirkan sang istri yang berada di rumah, ia berharap Alex memberinya ide, namun nyatanya laki-laki itu malah membuatnya kesal.
"Bagaimana kalau kalian pergi berbulan madu?"
"Bulan madu?"
"Ya, kalian kan nggak pernah liburan. Mungkin Hayley butuh suasana baru, dia butuh sekedar memanjakan diri misalnya. Kalian butuh momen untuk menghabiskan waktu berdua," jelas Alex.
Aaron bangkit dari duduknya dan menepukkan tangan. "Brilliant, ide bagus!" seru Aaron sambil menunjuk Alex.
"Alex gitu loh!"
__ADS_1
Aaron segera melihat jadwalnya untuk beberapa hari ke depan, ia akan menyelesaikan urusannya lebih dulu sebelum membawa Hayley liburan. Karena pekerjaan yang longgar, ia akan dengan santai berlibur tanpa gangguan.
Rencananya, lusa ia sudah harus bisa menyiapkan semuanya agar liburan Hayley berjalan lancar. Aaron menyiapkan banyak hal sebelumnya, karena kondisi Hayley yang sedang hamil besar, tentu Aaron akan membawa dokter kemana pun mereka pergi untuk berjaga-jaga.
Setelah menyelesaikan pertemuan dan mengurus beberapa berkas, Aaron pulang lebih awal dari biasanya. Dirinya sudah tidak sabar memberitahukan hal ini pada sang istri.
Saat sampai di rumah, ia begitu terkejut melihat ada mobil yang sangat ia kenali di halaman rumahnya.
"Oh. Jadi, kamu menggunakan bayi dalam kandunga mu itu untuk memikat putraku, begitu?" ucap Samantha sinis, wanita paruh baya itu duduk di kursi tamu saling berhadapan dengan Hayley.
"Bukan, Nyonya. Bukan maksud saya begitu, saya ...." ucapan Hayley terputus, ia menunduk lesu, tangannya bergetar ketakutan.
"Kamu apa? dari mana Aaron memungutmu? hah!"
"Mama! hentikan!" teriak Aaron dari pintu utamanya.
"Kamu, kamu sudah pulang, Nak?" tanya Samantha, nada bicaranya berubah lembut.
"Nggak usah berbasa-basi, Ma. Apa yang mama lakukan di rumahku? kenapa mama mengganggu istriku?" tanya Aaron penuh amarah.
"Mama nggak ganggu. Apa salahnya mama berkunjung. Hanya ingin memastikan, kalau anak dalam kandungan wanita ini benar-benar darah dagingmu."
"Jaga ucapan mama! jangan sekali-kali merendahkan Hayley, Ma," bentak Aaron, ia sudah cukup muak mendengar orang tuanya terus menerus menekan hidupnya.
"Begitu? kamu membentak mama demi wanita ini? mama yang mengandung mu dan melahirkan mu, Aaron. Jangan menjadi anak durhaka!"
Hayley menangis sesenggukan, ia berpegangan erat pada lengan Aaron, ia meremas jas yang Aaron kenakan.
"Jangan memberiku label anak durhaka jika mama sendiri nggak bisa menjadi sosok orang tua yang baik. Apa belum cukup mama menjual Beatricia demi kejayaan bisnis kita? jangan lagi mama mengorbankan Breanda. Cukup, Ma. Cukup!"
"Kami benar-benar ...." Samantha menggelengkan kepala pelan, ia menatap sinis ke arah Hayley. "Dasar penyihir kecil! kamu sudah meracuni otak putraku! kamu apakan dia?" Samantha berusaha mendekat dan menjambak rambut Hayley, namun Aaron dengan cepat menangkis tangan mamanya.
"Pergi dari rumahku!" teriak Aaron keras.
"Aaron. Mama tau, wanita rendahan ini menjalin hubungan gelap dengan laki-laki lain sebelum dia hamil. Anak ini pasti bukan anakmu!"
🖤🖤🖤
Bersambung ...
Pada nungguin ya. Author minta maaf ya, lagi sibuk di dunia nyata.
__ADS_1