Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Bertemu Kathrine


__ADS_3

Semenjak kejadian di kolam renang sore itu, Hayley tampak berbeda, ia mulai sedikit menjauhi Aaron, jika laki-laki itu bahkan sudah berani menciumnya, artinya Aaron akan melakukan hal yang lebih lagi padanya.


Seminggu setelah kejadian, Hayley dan Aaron mengantarkan Andini ke rumah sakit terbesar di Singapura guna melakukan pengobatan, namun Hayley tidak di izinkan Andini untuk menemaninya di sana. Dengan terpaksa, Hayley turut membawa bibi di rumahnya untuk mengurus segala kebutuhan Andini, Aaron juga memilih pelayanan VIP bagi ibu mertuanya.


Perjalanan kembali pulang ke rumah, Hayley merasa tidak tenang, ia punya firasat buruk, entah apa yang akan terjadi, tapi gadis itu bersikap gelisah di samping Aaron.


"Ada apa?" tanya Aaron, melihat Hayley yang beberapa kali memijat pelipisnya.


"Nggak tau, perasaanku nggak enak," ungkap Hayley.


"Kemarilah." Aaron menyandarkan kepala Hayley di bahunya, ia mengelus pelan pucuk kepala gadis itu.


Perlahan, Hayley terlelap, ia terlihat sangat lelah karena perjalanan jauh yang menguras tenaga, belum lagi Hayley hampir menangis berjam-jam karena tidak tega meninggalkan ibunya di rumah sakit.


Aaron tersenyum ringan, ia diam-diam mencium pucuk kepala gadis di sampingnya, mengelus wajahnya lembut, dan sesekali meraba bibir kecil nan ranum gadis itu.


Sungguh, jika mereka tidak berada dalam mobil dengan sopir di depannya, Aaron pasti tidak akan mampu menahan godaan bibir mungil itu.


Perjalanan dari bandara memakan waktu cukup lama, Aaron membiarkan Hayley terlelap sambil menikmati harum rambut yang menguarkan wangi semerbak dari gadis itu.


Setelah sopir mengantar tepat di depan rumah, hal yang tidak terduga pun terjadi, Kathrine sudah berdiri di depan pintu utama dengan memasang wajah sinis. Aaron segera membangunkan Hayley, lalu turun dari mobil lebih dulu.


Dengan tubuh sempoyongan, Hayley menyusul Aaron yang berjalan cepat menghampiri Kathrine


"Aaron, dari mana kalian, kenapa lama sekali?" tanya Kathrine ramah. "Aku udah nunggu hampir satu jam."


"Ada perlu apa lagi kamu datang?" tanya Aaron ketus.


"Aaron, aku minta maaf." Kathrine memasang wajah melas, ia meraih pergelangan tangan Aaron, namun laki-laki itu menepisnya kasar.


"Jangan sentuh aku, Kath. Kamu bukan lagi siapa-siapa."


"Maafkan aku, Aaron. Aku khilaf."


Tersenyum miring, Aaron memandang tubuh Kathrine dari pucuk kepala sampai ujung kaki. "Murahan!" desisnya.


"Aku kurang apa, Kath?" tuding Aaron. "Aku bisa memenuhi segala keinginanmu, barang-barang mewah, rumah, segalanya. Aku mencintaimu melebihi apapun, aku mengorbankan segalanya buat kamu, lalu apa yang aku dapat?"


"Aaron ...." Kathrine menangis.

__ADS_1


"Cukup, sekarang kamu pergi, atau aku akan menyeretmu dengan paksa!"


"Aku mencintaimu, Aaron. Maafkan aku ...." Kathrine menangis histeris, ia menjatuhkan tubuhnya di depan kaki Aaron, lalu memeluk lutut laki-laki itu dengan kuat. "Maaf."


"Tidak pernah ada kata maaf untuk seorang penghianat," tegas Aaron, ia menendang Kathrine keras sampai wanita itu tersungkur.


"Pergi!" teriak Aaron, Kathrine masih bergeming, ia hanya menangis dan menatap Aaron memohon belas kasih.


Dari kejauhan, mobil Alex datang, laki-laki itu berlari tergesa-gesa menghampiri keributan.


"Oh, si jal*ng rupanya," sapa Alex tidak kalah jahat. "Masih punya nyali datang ke sini, ya."


"Diam kamu, buaya!" bentak Kathrine. "Aku sudah tau kalau semua masalah ini karena ulahmu, bukan?"


"Oh, sudah tau, ya. Bagus!" Alex tersenyum sinis. "Aku nggak bisa membiarkan Aaron berlama-lama memelihara wanita murahan sepertimu. Merugikan!"


Kathrine bangkit dan hendak mencakar Alex, namun Aaron dengan cepat menghadangnya.


"Pergi dari sini, Kath. Jangan pernah lagi mengganggu hidupku."


"Nggak mau!" jerit Kathrine. "Aku cinta sama kamu, Aaron. Kamu juga pasti masih cinta kan sama aku?"


"Aaron, kamu tega ngomong kayak gitu sama aku, kamu jahat!"


"Sudahlah, nona Kathrine. Pergilah," ujar Hayley lembut, ia tidak tega mendengar Aaron menghina Kathrine seburuk itu.


"Hai! jangan ikut campur, dasar murahan!" bentak Kathrine, tidak terima Hayley mengusirnya.


PLAK!!!


Aaron menampar keras wanita di depannya.


"Cukup! pergi!" teriak Aaron.


"Oh, jadi ... si istri bayaran ini lebih kamu bela di bandingkan aku?" ujar Kathrine sinis.


"Dia istriku, jangan pernah sekalipun kamu mengatakan hal-hal buruk tentangnya. Kalau kamu masih ingin melihat matahari besok pagi, cepat pergi dari hadapanku!" sentak Aaron, tidak tahan lagi dengan sikap Kathrine.


Dengan bercucuran air mata, Kathrine berlari keluar dari gerbang rumah, ia langsung masuk ke dalam taksi yang menunggunya sedari tadi.

__ADS_1


"Awas kamu, Hayley!" maki Kathrine, ia seperti sedang menyimpan dendam kepada gadis muda di samping Aaron, sakit karena tamparan laki-laki yang begitu ia cintai, tidak lebih sakit dari sikap Aaron yang membela wanita lain di bandingkan dirinya.


Setelah kepergian Kathrine, Hayley dan kedua laki-laki di sampingnya masuk ke dalam rumah, ia merasa kasihan pada Aaron, baru saja laki-laki itu sejenak hidup tenang karena melupakan Kathrine, kini wanita gila itu kembali lagi seperti menghantui hidupnya.


"Minum ini," ujar Hayley meletakkan secangkir coklat panas di depan Aaron.


"Terimakasih, Hay."


"Loh, kok cuma buat Aaron, buat aku mana?" protes Alex. "Pilih kasih, nih!" gerutunya.


Menghela nafas panjang, Hayley kembali ke dapur dan membuat minuman yang sama untuk Alex.


"Bagaimana mungkin mak lampir itu bisa pulang ke Indonesia? bukannya hutang-hutang dia banyak, ya?" tanya Alex.


"Dia punya seribu cara, Alex. Kita nggak bisa pandang remeh Kathrine."


Alex manggut-manggut. "Terus, apa rencanamu?" tanyanya.


"Sedang aku pikirkan. Yang terpenting, aku harus melindungi Hayley dari wanita gila itu, aku nggak rela kalau dia sampai bikin masalah dengan Hayley."


"Aku cuma mengingatkan, Bro. Jangan sampai kamu kembali termakan bujuk rayuannya, tetaplah waras dan waspada!"


Aaron menatap sepupunya, ia tau jika Kathrine tidak akan menyerah semudah itu, wanita itu pasti akan melakukan banyak cara agar bisa kembali menakhlukkan hatinya.


Berpikir dalam diam, Aaron menyusun rencana untuk memblokir akses dirinya dari Kathrine, ia tidak mau jika wanita itu mengetahui lagi apapun tentangnya.


🖤🖤🖤


Menghalalkan segala cara, Kathrine terus berusaha mencari informasi sebanyak mungkin tentang Hayley. Namun nihil, bahkan uangnya sudah habis untuk membayar orang suruhan, ia sama sekali tidak mendapatkan apapun.


Sebelum kedatangan Kathrine, Aaron lebih dulu bertindak. Dengan kekuasaannya, ia mampu melindungi segala informasi tentang keluarga dan status Hayley saat ini.


Menggerutu kesal, Kathrine menyiapkan rencana untuk kembali mendekati Aaron, dia masih punya waktu satu bulan lagi untuk kembali ke Belanda, mendapatkan bantuan dari Aaron atau menjual jam tangan kesayangannya demi melunasi semua hutang-hutangnya.


Menghubungi teman dekat semasa sekolah, Kathrine rupanya masih mendapatkan sambutan baik di tengah-tengah krisis hidupnya.


Dia tidak bisa mengandalkan siapapun untuk membantu rencananya saat ini, karena yang bisa menolongnya, hanyalah dirinya sendiri.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2