Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Rumah Aaron


__ADS_3

Gemerlap pesta telah usai, para tamu undangan sudah meninggalkan tempat mereka setelah berpamitan pada kedua mempelai.


Breanda dan Alex duduk tenang menikmati segelas minuman di tangan mereka masing-masing sambil memperhatikan hilir mudik para tamu yang berpamitan pada mereka.


"Bre, tadi lihat si penyihir dateng nggak?" tanya Alex.


"Penyihir? Kathrine maksudmu?" tanya Breanda sambil mengaduk isi gelasnya.


"Siapa lagi kalau bukan dia." Alex mendesah. "Aku heran, kenapa dulu kakakmu bisa cinta banget sama penyihir sepertinya," imbuh Alex.


Breanda hanya mengangkat bahu sekilas, ia sendiri tidak tahu menahu tentang hubungan Aaron dan Kathrine sejauh apa, karena Aaron lebih menutupi hubungan mereka dengan alasan privacy.


Meskipun Alex tau tentang penghianatan yang di lakukan Kathrine terhadap Aaron, namun ia lebih memilih menyimpannya sendiri, toh mereka sudah tidak lagi bersama, begitu pikir Alex.


"Kau tau, meskipun kak Hayley itu bukan tipe wanita impian kak Aaron, tapi mereka cocok loh!" seru Breanda mengejutkan Alex.


Uhuk ... Uhuk ....


"Cocok? cocok dari mana? Aaron dan Hayley jelas sangat berbeda, sama sekali nggak cocok!" sanggah Alex tidak menerima pendapat Breanda.


"Kak Hayley itu cantik loh, cuma dia nggak bisa dandan aja," ujar Breanda. "Lihat aja nanti kalau dia udah pinter urusan make up dan skin care, di jamin kak Aaron bakal makin cinta," imbuhnya.


"Ngaco lo! mana ada upik abu berubah jadi cinderella," tangkas Alex. Dia tau jika Breanda sama sekali tidak paham pernikahan macam apa yang di jalani oleh kakaknya saat ini, mungkin Breanda berpikir pernikahan Aaron murni atas dasar cinta, namun dia salah. Alex enggan memberitahu yang sebenarnya, ia lebih memilih diam dan membiarkan waktu yang mengungkapnya.


🖤🖤🖤


Aaron dan Hayley turun dari pelaminan setelah semua acara beres, Aaron membuka 2 kancing kemejanya bagian atas sambil mengibaskan tangannya karena gerah.


"Mr.Ice, panas ya?" tanya Hayley. "Gitu aja gerah, lihatin aku nih, pakai baju sebesar ini, tenggelam badanku," keluhnya.


"Salah siapa kecil," ejek Aaron. "Berapa tinggi badanmu?"


"Emm, berapa ya ...." Hayley mengetuk jarinya berkali-kali di dagu. "Nggak tau, mungkin 155 sentimeter," jawabnya.


"Pendek!" sahut Aaron. "Biasakan pakai sepatu hak tinggi, biar kalau kita kemana-mana nggak ada yang mikir kamu tuh adikku, apalagi anakku."


Hayley cuek, ia tidak menanggapi serius perkataan Aaron, ia sadar statusnya dalam pernikahan ini memang sah menjadi istri Aaron, tapi sebelum pernikahan di laksanakan, perjanjian hitam di atas putih sudah di tanda tangani. Selang 12 bulan dari hari ini, Hayley akan berpisah dari Aaron.


Aaron duduk di kursinya dengan gelisah, ia terus menerus melakukan panggilan pada nomor Kathrine, namun wanita itu tak kunjung menjawabnya.

__ADS_1


"Apa Kathrine nggak datang, ya," batin Aaron, sebenarnya ia sangat ingin bertemu kekasihnya, perasaan rindu sudah menggerogoti jiwa meskipun baru satu bulan yang lalu mereka berjumpa.


Dari arah meja prasmanan, Breanda sedikit berlari menghampiri Aaron, ia sudah memasang senyum secerah mungkin untuk bertemu kakaknya.


"Kak, kenapa papa sama mama nggak dateng?" tanya Breanda.


"Kakak nggak kasih tau mereka. Kamu pasti tau sendiri, jika mereka datang, pernikahan ini bakalan berantakan," ujar Aaron. "Lagipula kakak nggak perlu meminta restu, mereka nggak bakalan menerima Hayley," imbuhnya.


"Benar juga. Terus, kapan kakak mau bawa kak Hayley ke rumah?"


"Belum tau, belum kepikiran," jawab Aaron sambil melirik Hayley.


Sesaat, wajah Hayley tampak muram, ia terbebani dengan reaksi yang akan orang tua Aaron berikan padanya, sudah bisa di pastikan bahwa caci makian akan Hayley terima dari mereka, tentu saja karena status sosial mereka berbeda.


Aaron dan Breanda mencoba menguatkan Hayley, mereka meyakini bahwa semua akan baik-baik saja.


"Mereka nggak bakalan nyakitin kamu, aku bisa menjamin keselamatanmu, Hay," papar Aaron, Hayley hanya mengangguk.


Hari hampir sore, Aaron memerintahkan seorang pengawal untuk mengantar Andini pulang ke rumah kontrakannya, sedangkan ia membawa Hayley pulang ke rumahnya.


"Aku pulang dulu, kak. Besok aku main ke rumahmu," pamit Breanda pada Hayley.


Hayley dan Aaron membiarkan dua orang itu pergi menyelesaikan urusannya masing-masing. Sedangkan Aaron langsung membawa pengantin bayarannya itu untuk pulang ke rumahnya.


"Hayley, Kathrine mau ketemu kamu," ujar Aaron datar.


"Ngapain?" tanya Hayley terkejut.


"Ketemu aja." Aaron mengendarai mobil dengan santai, ia masih memikirkan keadaan Kathrine saat ini, karena wanita itu belum bisa di hubungi.


Sesampainya di halaman rumah Aaron, mereka di sambut beberapa pelayan yang langsung membantu Hayley yang kesusahan dengan ekor gaunnya yang menjuntai panjang.


"Tolong bantu dia membereskan semuanya, bawa dia ke kamarnya," perintah Aaron pada salah seorang pelayan wanita.


"Baik, Tuan." Pelayan itu mengangguk lalu menuntun Hayley untuk masuk ke dalam rumah.


Pertama kali Hayley masuk dari pintu utama, ia ternganga, mengagumi interior rumah yang begitu mewah, lantai marmer bening bagai kaca, dinding-dinding bercat putih dengan berbagai hiasan lampu gantung yang megah.


Hayley melepas sepatu hak tingginya di depan pintu.

__ADS_1


"Maaf, Nona. Sepatunya nggak usah di lepas," tegur pelayan itu.


"Memangnya boleh pakai sepatu?" tanya Hayley polos.


"Tentu saja boleh." Pelayan itu menjawab dengan ramah, seakan paham dari mana asal muasal Hayley sebelum ada di rumah ini. Aaron sudah berjalan lebih dulu dan duduk di kursi ruang tamu, memperhatikan Hayley yang tampak kebingungan.


Dengan langkah kaki gemetar, Hayley mengikuti pelayan untuk naik ke lantai dua, ia masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, rumah ini seperti rumah-rumah mewah yang di ceritakan di negri dongeng.


"Silahkan masuk, Nona. Ini kamarnya," pelayan membuka pintu kamar untuk Hayley.


"Wah, bagus banget, besar lagi." Hayley terkagum-kagum.


"Mari, saya bantu melepaskan gaun dan menghapus riasan nona." Pelayan itu menawarkan diri. "Nama saya Laksmi, saya kepala pelayan di rumah ini."


"Oh ... lalu aku harus manggil apa?" tanya Hayley.


"Panggil Laksmi saja, Non. Tuan Aaron dan tuan Alex biasa memanggil nama saya."


"Nggak ah, nggak sopan namanya. Bibi kan lebih tua dariku," tolak Hayley. "Ku panggil bibi saja, ya?"


"Baik, Nona. Saya tidak keberatan." Laksmi mengangguk sopan.


Hampir memakan waktu satu jam untuk melepas berbagai pernak pernik yang melekat di tubuh Hayley, ia juga langsung meminta Laksmi untuk menghapus riasan di wajahnya sampai benar-benar bersih.


"Emm ... kamar mandinya sebelah mana, ya?" tanya Hayley ragu.


"Sebelah sini, Nona." Laksmi berjalan lalu membuka pintu bercat putih.


Hayley mengangguk. "Oke, terimakasih sudah membantuku, Bi. Aku mau mandi sebentar," pamit Hayley, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah memastikan Laksmi keluar dari kamarnya.


Lagi-lagi Hayley tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, luas kamar mandi ini hampir separuh dari luas rumah kontrakannya, lantai putih mengkilat dengan kaca besar menempel di dinding. Berbagai jenis sabun, shampoo dan aroma terapi tertata rapi di atas rak.


Hayley menyingkap tirai bening di bagian ujung, bath up besar telah menantinya.


"Bath up ini bahkan seukuran kasur di rumahku," gumam Hayley, ia benar-benar merasa beruntung hari ini, Aaron tidak mengingkari janjinya, ia memberikan fasilitas yang sangat mewah untuknya.


Tidak sabar menjajal mandi di dalam bath up untuk pertama kalinya, Hayley langsung membenamkan diri bersama air hangat dan aroma terapi yang ia teteskan.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2