Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Ungkapan Marcel


__ADS_3

Setelah sampai di rumah Marcel, Sharaa langsung menyambutnya dengan pelukan hangat, wajah mama Marcel itu tampak lebih awet muda dan cantik.


Rumah besar dua lantai milik Marcel berada di puncak, sekitar tempat ini banyak di tumbuhi tanaman teh dan pohon pinus, rumah yang nyaman dan jauh dari keramaian.


"Akhirnya, calon menantu mama datang," celoteh Sharaa sambil melirik ekspresi Hayley yang terkejut.


"Mama ...." Marcel berkedip memberi isyarat pada mamanya.


Sedangkan Hayley, ia tampak canggung dan bingung dengan perlakuan istimewa yang keluarga Marcel berikan, dia mendengar dengan jelas bahwa Sharaa memanggilnya dengan sebutan menantu.


"Hayley, jangan dengarkan mama, mama pasti sedang bercanda," ujar Marcel.


"Hah, lagipula kalau memang dia calon menantu mama juga nggak papa kok," sela Sharaa sambil tersenyum.


Hayley di gandeng Marcel menuju ruang makan, mereka menghabiskan waktu makan bertiga sambil bercengkrama mengobrolkan hal-hal ringan.


Rumah besar Marcel banyak di hiasi dengan berbagai lukisan tentang kerajaan kuno yang berasal dari Pakistan. Marcel adalah anak satu-satunya dan pewaris tunggal dari keluarga besar ini, Sharaa murni keturunan Indonesia sedangkan suaminya berasal dari negara Pakistan.


"Mau ikut berkeliling rumah bersamaku, Hayley?" ajak Marcel.


"Ah, boleh." Hayley mengangguk, lalu berpamitan pada Sharaa.


Marcel mengajaknya berkeliling melihat semua ruangan-ruangan umum yang ada di rumah ini. Dan, tempat terakhir yang mereka lihat adalah ruang kerja pribadi milik Marcel.


"Ruang kerjamu bagus juga," puji Hayley. Semua dokumen tertata rapi di rak-rak khusus, berbagai foto penghargaan yang pernah Marcel dapatkan di pajang di setiap sisi dinding.


"Apa ini?" tanya Hayley, ia menyentuh sebuah kain batik yang membentang di dinding seperti menutupi sebuah lukisan besar.


"Hay, tunggu!" Marcel terkejut dan langsung menghentikan tangan Hayley yang hampir menarik ujung kain. "Ini lukisan lama, makanya aku tutupi pakai kain batik," ujar Marcel.


"Kenapa nggak di turunkan kalau memang udah nggak suka?" tanya Hayley penasaran, ia merasa Marcel menyembunyikan sesuatu darinya.


"Emm ... biar disana saja, kalau sudah ada lukisan yang baru, aku akan menggantinya."


Meskipun ada rasa penasaran yang begitu besar tentang lukisan yang Marcel tutupi, Hayley tetap berusaha sopan untuk tidak memaksakan keingintahuannya.

__ADS_1


Marcel menarik tangan Hayley lembut, ia memperlihatkan foto almarhum papanya pada Hayley.


"Ini foto papaku," ujar Marcel.


Hayley menatap tak berkedip, wajah dalam foto itu memang sangat mirip dengan Marcel, meskipun dalam usia yang tidak lagi muda, papa Marcel masih terlihat gagah dan rupawan dengan postur tubuh tinggi khas timur tengah.


"Kalau boleh aku tau, apa alasanmu mencari keberadaan Alex?" tanya Marcel. "Apa kamu punya hubungan khusus dengan Alex, atau Aaron?"


"Bu-bukan seperti itu, Marcel," jawab Hayley gugup, sebenarnya dirinya tidak ingin Marcel tau bahwa Aaron adalah suaminya, tepatnya suami bohongan.


"Aku sudah punya informasi tentang keberadaan Alex, kalau kamu bisa kasih aku alasan yang bagus, aku akan kasih tau kamu," desak Marcel.


"Hah, kok gitu?"


"Di dunia ini nggak ada yang gratis, Hay. Aku cuma minta dua hal, beri aku alasan, dan ...."


"Dan apa?"


"Dan, beri aku kesempatan untuk memenangkan hatimu," ujar Marcel, ia meraih kedua tangan Hayley dan mendekapnya di depan dada.


"Jangan bercanda, Marcel."


Hayley hampir pingsan mendengar ucapan Marcel, ia tidak menyangka jika laki-laki itu akan secepat ini mengatakan tentang perasaannya. Hayley bukan gadis bodoh yang tidak paham kode-kode khusus yang Marcel berikan padanya.


Sejak pertama kalinya mereka bertemu, Hayley sudah merasa jika Marcel begitu memperhatikannya, laki-laki itu selalu menampilkan sorot mata berbeda saat menatap Hayley.


"Kita belum kenal lama, Marcel. Jangan membuat hubungan persahabatan kita terasa canggung," ujar Hayley. Seharusnya dengan Marcel tidak mengungkapkan perasaannya, Hayley tidak akan sungkan untuk bercerita tentang dirinya.


"Aku sudah cukup mengenalmu, Hay. Tolong, jangan bermain-main dengan hatiku," pinta Marcel. "Aku juga berpikir kamu punya perasaan yang sama padaku."


"Marcel, aku mohon ... jangan memaksa." Hayley menatap wajah Marcel yang tampak kecewa, namun dirinya tidak kuasa jika harus mengungkapkan statusnya saat ini.


Tidak bisa di pungkiri, Hayley juga merasa nyaman berada di samping Marcel, laki-laki itu selalu membuatnya tenang dengan sifatnya yang dewasa dan penuh kasih sayang. Namun untuk menjalin sebuah hubungan khusus, rasanya mustahil untuk saat ini.


"Baiklah, aku nggak maksa." Marcel melepas tangan Hayley. "Kalau begitu, ceritakan padaku, kenapa kamu begitu peduli dengan Alex dan Aaron?"

__ADS_1


"Karena mereka sudah banyak membantuku. Aaron membantu melunasi semua hutang-hutang peninggalan ayahku dan membayar semua pengobatan ibuku," jelas Hayley. "Ibuku penderita kanker payudara, sedangkan ayah sudah meninggal beberapa tahun lalu."


"Kenapa kamu nggak cerita sama aku, Hay?"


"Kejadian itu jauh sebelum kita saling kenal. Aku merasa berhutang budi pada kebaikan mereka," papar Hayley.


"Terus, apa timbal balik yang Aaron minta setelah membantumu?" selidik Marcel.


"Timbal balik? timbal balik apa maksudnya?"


"Nggak mungkin Aaron membantu orang tanpa meminta imbalan, dia laki-laki yang berambisi dengan kekuasaan dan harta. Nggak ada yang gratis baginya," tutur Marcel. "Pasti ada sesuatu yang membuat dia mau bantuin kamu," imbuhnya.


Sebagai rekan bisnis, Marcel cukup baik mengenal Aaron, dia sudah paham strategi dalam berbisnis yang Aaron jalankan selama ini. Ambisi Aaron dalam berkuasa sangat besar, laki-laki itu paling pintar dalam mencari kesempatan di sela-sela kesempitan, bahkan jika harus mengorbankan segalanya.


"Dia ... dia hanya memintaku bekerja di perusahaannya dan membantu Alex, itu saja," jawab Hayley gelagapan, ia semakin terdesak dengan penjelasan Marcel.


"Kamu yakin? cuma itu yang dia minta sebagai imbal balik?" selidik Marcel, ia menatap wajah Hayley yang sudah berkeringat dingin meskipun dalam ruangan berAC.


Marcel merasa Hayley tidak berkata jujur padanya, ada sesuatu yang sedang Hayley sembunyikan, feeling Marcel menebak jika Hayley pasti memberikan sesuatu yang Aaron butuhkan.


"Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Hayley, ia berharap Marcel mempercayainya tanpa menanyakan banyak hal lagi yang membuatnya semakin terpojok.


"Berdasarkan apa yang aku tau, Aaron bukan laki-laki yang sangat murah hati. Dia pasti merencanakan sesuatu," ujar Marcel, ia memperhatikan gerak gerik Hayley dengan seksama, namun karena tidak ingin membuat Hayley kesal dan marah, Marcel mengalah dan berhenti menanyakan tentang Aaron.


"Kalau kamu nggak mau kasih tau tentang Alex, nggak papa. Aku bisa cari tau sendiri," tekad Hayley.


"Oke-oke. Jangan marah, Cantik. Aku kan cuma penasaran," seloroh Marcel sambil berusaha kembali menampilkan senyum cerianya.


"Ini alamat lengkap apartemen milik Alex, dan ini nomor teman wanita yang akhir-akhir ini sering kencan sama dia, namanya Melanie," ujar Marcel sambil memberikan secarik kertas berisi alamat.


"Jadi, aku harus cari Alex ke apartemennya?" tanya Hayley.


"Dia itu kayak keong, suka pindah-pindah rumah. Kalau nggak ada di apartemen, kamu bisa tanya ke Melanie, seharusnya wanita itu tau dimana keberadaan Alex," jelas Marcel. "Kalau mau, aku akan mengantarmu, Cantik."


"Ah, nggak usah. Bantuan kamu ini sudah cukup buat aku kok."

__ADS_1


🖤🖤🖤


Bersambung ...


__ADS_2