
Alex memutuskan untuk tinggal sementara di villa tempat Melanie, ia tidak mau lagi pergi jauh dari gadis itu, ia bertekad akan senantiasa ada di samping Melanie apapun yang terjadi.
"Beberapa hari lagi aku harus kembali menjalani kemoterapi," ucap Melanie.
"Rumah sakit mana?" tanya Alex.
"Di Jakarta. Daerah terpencil seperti ini nggak punya rumah sakit besar, cuma ada beberapa rumah sakit yang punya dokter spesialis untuk penanganan pasien sepertiku," jelas Melanie.
"Jakarta itu terlalu jauh, Mel. Perjalanan 4 jam bahkan lebih, dengan kondisimu yang seperti ini, seharusnya kita memilih tempat tinggal yang dekat dengan kota," seru Alex.
Melanie hanya tersenyum, ia memang memilih tempat ini karena ia lebih suka tempat yang sepi, jauh dari kebisingan kota dan polusi. Melanie ingin menikmati hari-hari terakhirnya dalam damai, ia ingin berada di tempat yang paling ia sukai.
"Kenapa kamu menyukai tempat di pelosok seperti ini? seharusnya kita cari tempat tinggal baru, dan yang terpenting harus dekat dengan rumah sakit."
"Tapi, aku suka disini, Alex."
"Tapi kita harus lihat keadaan kesehatanmu, Mel. Kalau ada sesuatu yang mendadak dan darurat, apa bisa kita ke rumah sakit dengan jarak sejauh itu? keselamatanmu adalah yang paling penting!" seru Alex tegas.
Menghela nafas panjang, Melanie hanya terdiam, menatap wajah tampan penuh kekhawatiran itu. Orang tua Melanie pun sebenarnya memiliki keinginan yang sama, mencari tempat tinggal yang tidak jauh dari fasilitas kesehatan, kondisi Melanie yang seperti ini tidak boleh di sepelekan.
Dengan bujukan dan rayuan maut Alex, Melanie akhirnya menurut, seminggu lagi ia juga harus menjalani proses kemoterapi yang kesekian kalinya, dan akan lebih berbeda karena Alex yang akan mendampinginya.
🖤🖤🖤
Sepekan berlalu, Aaron memutuskan untuk mengambil cuti, kondisi Hayley semakin tidak terduga, setiap harinya wanita itu mengalami kram perut tiba-tiba yang membuat seluruh penghuni rumah hampir terkena serangan jantung karena ketakutan.
Laksmi, adalah orang yang paling bertanggung jawab pada Hayley jika Aaron sedang tidak ada di rumah. Meskipun Laksmi adalah seorang wanita yang sudah beberapa kali melahirkan, namun ketakutannya tidak seperti menunggu sang majikan yang menanti kelahiran.
Hari ini Aaron yang tengah sibuk mendekorasi kamar bayi, di kejutkan dengan teriakan Laksmi dari arah kamarnya, Aaron berlari sampai hampir terjungkal menuju kamar.
"Ada apa ini, Laksmi?" tanya Aaron dengan nafas ngos-ngosan.
"Nona Hayley, Tuan." Laksmi berucap dengan nada bergetar, menunjuk pintu kamar mandi yang terbuka lebar.
__ADS_1
Tanpa bertanya apapun, Aaron langsung berlari ke arah kamar mandi dan menemukan Hayley terduduk di lantai dengan rok yang basah.
"Ada apa, Sweetheart? aku baru meninggalkanmu beberapa menit dan kamu sudah seperti ini," ucap Aaron, ia menggendong istrinya ke atas tempat tidur, Hayley terlihat sedikit meringis sambil memegang perutnya yang besar.
"Tadinya nona ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil, tapi belum sempat menutup pintu, nona sudah ...."
"Kamu ngompol?" tanya Aaron.
"Bukan, Tuan. Air ketuban nona sudah pecah," sela Laksmi sebelum Hayley sempat menjawab.
"Air ketuban?" ulang Aaron tidak mengerti.
"Nona sudah waktunya melahirkan."
"Melahirkan? tolong suruh orang siapkan mobil dan sopir, aku akan membawanya ke rumah sakit," perintah Aaron. "Telepon pihak rumah sakit, mereka harus sudah menyiapkan semuanya."
Laksmi bergegas meninggalkan kamar dan melaksanakan apa yang Aaron pinta. Sedangkan Hayley, ia mencengkram pergelangan tangan Aaron demi menahan sakit.
"Apa perlu saya bantu, Tuan?" tanya sopir itu, melihat Aaron menggendong tubuh Hayley yang lebih gemuk dan lebih berat dari biasanya sang sopir merasa kasihan, namun baru saja sopir itu ingin menyentuh kaki Hayley, Aaron sudah memelototinya lebih dulu, dua bola mata Aaron bahkan sampai ingin keluar.
"Ya Ampun!" batin sopir itu, terkejut melihat ekspresi Aaron yang menakutkan. Di situasi yang mendebarkan seperti ini, Aaron masih saja memikirkan kecemburuannya yang begitu besar.
Laksmi yang melihat ekspresi Aaron dan tindakan sopir tersebut, segera memberi kode pada sang sopir untuk tidak melakukan apapun tanpa perintah, apalagi sampai menyentuh kulit sang nona.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, sopir sudah mengantarkan Aaron dan Hayley sampai di rumah sakit. Mereka di sambut para tenaga medis yang sudah menyiapkan segala yang perlu.
Seorang perawat membawa kursi roda dan meminta Aaron untuk mendudukkan Hayley di kursi roda agar ia tak perlu repot-repot menggendong, Aaron menolaknya mentah-mentah.
"Aku bisa berjalan, Sayang," ucap Hayley sambil tersenyum lemah.
"Nggak, aku gendong kamu!" sergah Aaron.
Hayley sebenarnya masih sanggup untuk berjalan, perkara air ketuban yang sudah pecah lebih awal, namun kontraksi yang datang tidak lebih sakit dari biasanya.
__ADS_1
Dokter kandungan sudah menunggu Hayley di ruang perawatan, dan Aaron membaringkan istrinya di atas ranjang.
"Saya akan melakukan pengecekan bukaan, Mrs. Hayley," ucap dokter perempuan yang sudah biasa menangani Hayley.
"Loh, loh. Mau apa, Dok?" tanya Aaron menghentikan tangan dokter yang sudah siap di sisipkan ke arah pangkal paha istrinya.
"Saya akan memeriksa bukaannya, Mr. Aaron."
"Lalu, kenapa tangannya mau di masukkan?" tanya Aaron.
"Begini, Mr. Aaron, saya jelaskan agar anda tidak salah paham. Saya memasukkan jari ke **** ***** Mrs. Hayley untuk mengukur seberapa lebar bukaan jalan lahirnya, jika saya tidak melakukan pengukuran, maka saya tidak akan tau kapan tubuh ibu siap untuk proses persalinan," jelas dokter sambil tersenyum seramah mungkin.
Aaron hanya mengangguk tanpa setuju, ternyata banyak sekali hal-hal yang tidak ia ketahui tentang wanita, apalagi proses melahirkannya.
"Sudah bukaan 7, Mrs. Hayley. Sebentar lagi," ucap dokter, lalu melepas sarung tangan karetnya.
Dokter menjelaskan tips dan trik untuk mempercepat proses pembukaan, salah satunya adalah berjalan-jalan santai, hal itu bisa membuat bayi semakin mudah menemukan jalan lahir.
"Anda bisa pakai ini juga, Mrs. Hayley," seorang perawat menyiapkan ball birth untuk Hayley.
Ball birth biasanya selalu di siapkan di rumah sakit untuk membantu proses persalinan, bola besar yang berat dengan bentuk fleksibel ini di percaya dapat memperlancar persalinan dan mengurangi rasa sakit ketika kontraksi.
Aaron dengan sabar membantu Hayley mengganti bajunya dengan baju khusus dan membawa wanita itu duduk di atas ball birth, saat duduk di atas ball birth, itu akan membuat tulang punggung merasa rileks, karena yang di butuhkan seorang ibu yang akan bersalin adalah ketenangan, dan rasa bahagia.
Wanita dengan baju seperti daster itu sesekali meringis kesakitan, lalu tenang beberapa saat, kemudian kesakitan lagi. Keringat bercucuran dari dahi hingga sekujur tubuh. Rambut panjang Hayley bahkan hampir basah, namun Aaron begitu sabar membantu istrinya menguncir rambut.
"Apa sangat sakit?" tanya Aaron sedih, ia tidak lagi bisa menyembunyikan ketakutannya, melihat Hayley dalam keadaan seperti ini rasanya ia lebih memilih untuk menggantikan rasa sakitnya.
Hayley menggeleng, lalu tersenyum menatap Aaron.
"Aku tau itu sakit, jangan senyum-senyum," ucap Aaron, ia menenggelamkan wajah Hayley di dadanya, sambil membantu pinggul wanita itu bergerak di atas ball birth.
🖤🖤🖤
__ADS_1