
Hari ini adalah hari kelulusan Hafida senyum kebahagiaan nampak menghiasi wajahnya, namun senyum itu seketika sirna ketika dirinya mendapat kabar jika kedua orang tuanya mengalami kecelakaan saat menuju ke acara kelulusannya.
Matanya tiba tiba berkaca kaca air matanya langsung meluncur bebas begitu saja.
Tanpa banyak bicara dirinya langsung berlari meninggalkan acara kelulusannya dan bergegas menuju rumah sakit.
Dengan air mata yang mengalir dera Hafida Berlari menyusuri koridor rumah sakit mencari keberadaan ayah ibunya.
"Suster! dimana ruangan pasien korban kecelakaan dijalan xxx" tanya Hafida lirih.
"Salah satu korban berada diIgd dan korban yang diduga istrinya meninggal dunia ditempat dan dibawa ke ruang jenazah" ucap Suster tersebut.
Kaki Hafida terasa lunglai, ibunya meninggal? itu pasti salah tidak mungkin ibunya pergi.
Dia langsung menuju ke ruang Jenazah dia membuka kain yang menutupi tubuh ibunya dengan pelan.
Bibirnya bergetar, tangisnya seketika pecah dia memeluk tubuh yang telah kaku itu erat.
"Ibuuu!! jangan tinggalkan aku huhuhu" tangisnya.
"Ibuu tolonglah untuk bangun lihat! lihat putrimu sudah lulus,putrimu lulus dengan nilai terbaik hiks hiks" ucapnya diiringi dengan tangisan.
"Apa ibu benar benar pergi?" tanya Hafida sesenggukan.
"Ibu benar benar pergi,aku ikhlas semoga ibu tenang disana" ucap Hafida menarik napasnya dalam.
Dia menghapus air matanya dan menuju ke IGD dimana ayahnya berada.
Hafida berlari memeluk ayahnya erat tangisnya kembali pecah dipelukan sang ayah.
"Ayahh kenapa bisa seperti ini,apa yang terjadi? " tanya hafida pada ayahnya.
"Ini semua takdir dari allah nak untuk menguji seberapa kuat kamu menghadapi musibah percayalah nak semuanya akan baik baik saja" ucap sang ayah tersenyum lembut.
__ADS_1
"Kita hanya perlu bersabar nak,mungkin dengan ini kita akan lebih dekat kepada allah oh iya bagaimana dengan ibu nak" lanjut sang ayah
"Ibuu hiks hiks ibu meninggal" ucap hafida sambil menangis.
Saat mendengar pengakuan dari hafida pak ahmad matanya seketika berkaca kaca ia tak menyangka jika istrinya telah pergi untuk selama lamanya hafida langsung memeluk sang ayah guna menenangkannya
"Kamu pergi secepat ini?aku ikhlas sayang pergilah dengan tenang" ucap Pak Bhima dengan mata berkaca kaca.
Hafida merasakan bahunya basah, dia tau ayahnya tengah menangis,cukup lama mereka berpelukan hingga Dia tak lagi merasakan suara tangis sang ayah.
"Ayahh!!" panggil Hafida melepas pelukannya.
"Ayahh bangun! jangan tinggalkan Fida sendiri! ayahh tolong bangunlah!" ucap Hafida menangis seraya menggoyangkan pelan tubuh ayahnya.
"Hiks hiks dokter dokter!" teriaknya panik.
"Silahkan anda keluar,kami akan memeriksa pasien" ucap Dokter tersebut.
Hafida mengangguk lalu keluar dari ruangan tersebut, dirinya langsung berlari memeluk sang tante yang merupakan adik ayahnya.
"Kak Bhima akan baik baik saja tenanglah sayang" ucap Tante Ranty.
Ceklek
Pintu ruang IGD terbuka, Hafida langsung berlari menghampiri sang dokter.
"Dokter ayah saya baik baik saja kan?" tanyanya.
"Maaf, pasien telah meninggal kami turut berbela sungkawa" ucap Dokter tersebut.
"Ayah!! Ayahh!!" panggil Hafida berlari dan memeluk tubuh ayahnya.
"Hiks hiks hiks kenapa? kenapa kalian harus pergi kenapa?" tangisnya pecah.
__ADS_1
"Ayahh! jangan pergi bangunlah" ucap Hafida histeris.
"Hafida tenanglah sayang, biarkan Kak Bhima pergi dengan tenang" ucap Tante Ranty dengan lembut.
"Ayo kita keluar sayang biar suami tante yang mengurus kepulangan jenazah mereka" ajak lembut sang tante.
Hafida menurut lalu keluar dari IGD, dia terus memeluk erat sang tante.
Mereka lalu pulang menuju ke rumah untuk mempersiapkan pemakaman kedua orang tua Hafida.
Dirumahnya sudah sangat ramai tetangga yang melayat dan teman teman hafida yang juga tampak hadir.
Kedua sahabatnya segera memeluk hafida untuk memberikan semangat seketika tangisnya kembali pecah dalam pelukan sang sahabat.
"Fi aku harap kamu bersabar ya masih ada kita berdua" ucap Alysa.
"Itu benar kita akan selalu ada buat kamu Fi" saut Syafa.
"Terimakasih sudah menguatkanku" lirih Hafida.
Sedangkan jasad kedua orang tuanya segera dimandikan dan dikafani agar bisa dimakamkan dengan segera.
Hafida sesekali menghapus air mata yang membasahi pipinya sungguh ia tak mengira jika orang tuanya akan pergi tepat pada saat hari kelulusannya hari yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan kini berubah dengan deraian air mata.
Sang tantenya menghampirinya untuk segera bersiap siap menuju tempat pemakaman.
Tanten Ranty menggenggam tangan hafida disepanjang perjalanan tantenya tau jika ia sangatlah terpukul dengan kepergian ayah ibunya.
Mereka berjalan kaki menuju ke area pemakan dan sampailah mereka didepan liang lahar yang akan menjadi tempat peristirahatan ayah dan ibunya.
Jasad kedua orang tuanya dimasukkan kedalam liang lahat ia seakan tak kuat untuk menopang berat tubuhnya ia memeluk erat tantenya.
Kini hanya tertinggal hafida om dan tantenya saja ia kemudian mengusap dengan lembut batu nisan yang tertancap pada makam orang tuanya.
__ADS_1
" hafida kita pulang yuk sayang jangan menangis lagi kasihan amereka pasti sedih melihat kamu seperti ini" ucap tantenya.
Hafida menatap lama pusara ayah ibunya lalu beranjak pergi.