Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 20


__ADS_3

sedang amirah ia sudah tak tahan lagi ia segera berlari keluar dari rumah abi melihat putrinya berlari sambil menangis bu hana segera menyusul putrinya itu


pak hamzah pun akhirnya pamit pulang mengingat putrinya Sepertinya terlihat kecewa dengan jawaban azzam sedang abi terlihat tak enak dengan pak hamzah


" emm kalau begitu saya pamit dulu ya " ucap pak hamzah


" iya maafkan anak saya ham " ujar abi tak enak


" sudah gak papa " jawab pak hamzah


setelah pak hamzah pergi abi menatap azzam tajam dia kecewa dengannya malu sangat malu dengan pak hamzah


sedang azzam menatap abinya dengan tatapan bersalah inilah yang dia takutkan namun bagaimana lagi semuanya telah terjadi


sedang keluarga pak hamzah kini sudah sampai dirumah sesampainya amirah langsung berlari ke kamarnya dia menangis histeris hatinya sangat sakit karena ditolak oleh azzam


melihat putrinya menangis bu hana segera menyusulnya ke kamarnya dia tau apa yang sedang dirasakan oleh amirah


tok tok tok


suara pintu diketuk


" sayang boleh ibu masuk " ujar bu hana


amirah yang mendengarnya sama sekali tak bergeming bu hana yang tak mendapat respon dari putrinya pun langsung saja masuk


saat dia masuk apa yang dia lihat? putrinya duduk dilantai sambil memeluk lututnya air matanya menetes deras membasahi pipinya penampilannya acak acakan bu hana kemudian memeluk putrinya itu untuk menenangkannya


" sayang kamu harus sabar ya mungkin azzam bukan jodoh kamu " ujar bu hana


" tapi bu mira cinta sama azzam tapi kenapa dia tega menolak ku " ucap amirah dengan air mata yang terus menetes


" apa kurangnya mira bu apa " lanjut amirah

__ADS_1


" istigfar nak istigfar mungkin azzam bukan jodohmu " ujar bu hana


" ibu bisa keluar mira pengen sendiri " ujar amirah


bu hana hanya mengangguk sambil mengusap lemput kepala mira kemudian keluar dari kamarnya


didepan kamar mira ternyata sudah ada pak hamzah mengetahui jika istrinya keluar dari kamar mira dia segera menyerang bu hana dengan berbagai macam pertanyaan


bu hana sampai kebingungan harus menjawab apa karena suaminya terus memberikannya pertanyaan dia serasa sedang di introgasi saja


" bu gimana mira " tanya pak hamzah


" mira baik baik saja kan " lanjut pak hamzah


" ya begitu lah yah ibu juga gatau harus bagaimana " ujar bu hana


" dia nampaknya sangat mencintai azzam yah " ujar bu hana


" hmm ayah juga bingung bu sudahlah biarkan dia menenangkan diri dulu " ujar pak hamzah


hafida? dia kini tengah termenung dengan tangannya yang masih setia menggenggam tangan mamanya jika boleh jujur dia tak mau kehilangan orang terdekatnya lagi


namun hanya allah lah yang tau nantinya bagaimana sedang kondisi mamanya semakin hari semakin memburuk kemungkinan kecil untuk sembuh


jika nantinya mamanya akan meninggalkannya menyusul ibu dan ayahnya dia benar benar tak rela ia tak sanggup jika harus berulang kali terjatuh lalu bangkit dan dijatuhkan lagi


tiba tiba saja jari mamanya bergerak dia melihat itu ia segera memanggil dokter untuk memeriksa mamanya dia berharap mamanya akan segera sadar


" dok dokter " teriak hafida


tak lama dokter datang dengan peralatan medisnya dibelakangnya diikuti oleh 2 orang suster dokter pun segera memeriksa


keadaannya

__ADS_1


" dok bagaimana keadaan mama saya " tanya hafida


" bu ranty sudah melewati masa kritisnya mungkin sebentar lagi akan siuman " ujar dokter menjelaskan


" kalau begitu saya permisi dulu " lanjutnya seraya meninggalkan ruangan ini


tak lama mamanya sadar dari tidurnya hafida sangatlah senang ia memandang mamanya dengan mata berkaca kaca kemudian ia segera memeluknya


mamanya tak tinggal diam dia juga membalas pelukan hangat dari putrinya ini dia belai lembut kepala hafida


" mama udah sadar aku khawatir banget sama mama " ujar hafida dengan air mata yang mulai menetes


" mama gak papa kok sayang " ujar mamanya dengan tangan telulur mengusap lembut air mata hafida


" anak mama gak boleh nangis mama sedih lihatnya " ucap mamanya menatap wajah hafida lekat lekat


entah mengapa firasatnya mengatakan Jika dia akan pergi jauh meninggalkan putri yang sangat ia sayangi walaupun dia bukan anak kandungnya namun dia berharap jika itu hanya firasatnya saja


" sayang jika nanti mana pergi jauh kamu jangan terlarut larut dalam bersedih dan ingat mama akan selalu ada dihati kamu " ucap mamanya begitu saja


" mama ngomong apa si " ujar hafida bingung


" mama Juga gak tau nak firasat mama mengatakan jika mama akan pergi jauh " ujar mamanya


" mungkin cuma firasat mama sekarang mama istirahat ya biar cepat sembuh " ucap hafida yang dibalas anggukan oleh mamanya


kembali kepada azzam


azzam? sungguh dia benar benar merasa sangat bersalah namun bagaimana lagi hatinya tak dapat dipaksa dia pun berencana untuk menemui abinya


sesampainya didepan kamar abinya entah mengapa tiba tiba ia merasa ragu untuk mengetuk pintunya padahal tadi dia terlihat bersemangat


berkali kali ia mencoba untuk mengetuk pintunya namun berkali kali pula ia urungkan entah kenapa mungkin saja dia grogi

__ADS_1


haii author kembali jangan lupa untuk like komen dan vote ya agar author semangat untuk nulis


thank you all


__ADS_2