Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 23


__ADS_3

suara sambungan telpon terputus hafida memasukkan ponselnya ke tas ia pun menengok ke arah mamanya yang masih betah tertidur entah kapan akan bangun


jujur saja ia rindu dengan mamanya rindu dengan masakannya rindu pelukannya rindu dengan suara lembutnya tanpa sadar air matanya menetes


tiba tiba jari jari mamanya mulai bergerak hafida pun segera memanggil dokter tak lama dokter datang dengan diikuti oleh suster


" bagaimana dok keadaan mama saya " tanya hafida


" keaadaannya sudah stabil mungkin sebentar lagi akan siuman " ucap dokter


" kalau begitu saya permisi " lanjut dokter yang ditanggapi dengan senyuman oleh hafida


dan benar yang dikatakan dokter tadi tak lama mamanya siuman dia sangat bahagia dengan senyum yang menghiasi wajahnya ia mendekat ke arah mamanya


" mah mama udah sadar " tanya hafida dan mamanya hanya tersenyum lalu berucap


" nak kalau nanti mama pergi jangan terus berlarut larut dalam kesedihan mama sedih kalau kamu kayak gitu " ucap mamanya


" mama kok ngomong gitu sih mama pasti sembuh " ucap hafida


" kita nggak tau umur kita sampai mana dan mama ngerasa kalau mama akan pergi jauh " ucap mamanya


hafida menangis mendengarnya ia tak siap jika harus kehilangan orang terdekatnya dia tak sanggup menghadapi kerasnya dunia sendirian


ingin rasanya ia marah kepada allah kenapa allah tidak adil kepadanya apa salahnya hingga diberi ujian yang bertubi tubi kenapa dia selalu menderita


dia menangis hingga tertidur matanya bengkak akibat terlalu lama menangis mamanya meneteskan air mata saat melihat putrinya tertidur dengan mata bengkak walaupun hafida bukan putri kandungnya tapi ia sangat menyayanginya layaknya putrinya sendiri


sebegitu menderitanya dia namun ia tetap kuat menghadapinya meskipun ia berteriak jika ia lelah


di lain tempat azzam tengah berusaha untuk membujuk abinya agar membatalkan rencana perjodohannya dengan anak teman abinya awalnya abinya berniat untuk membatalkannya namun setelah melihat betapa menyedihkannya anak temannya itu akhirnya ia berubah pikiran

__ADS_1


" bi azzam mohon tolong batalkan rencana perjodohannya " mohon azzam pada abinya


" tidak bisa zam kamu bisa libatkan bagaimana dia tadi ia sampai ingin bunuh diri " ucap abi


" tapi bi azzam tidak mencintainya " kekeh azzam


" cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu " ucap abi


" tapi bi " ucap azzam terpotong


" tidak ada tapi tapi abi akan tetap melanjutkan perjodohan ini " ucap abi


" dan kalian akan menikah seminggu lagi " lanjut abi


azzam hanya diam dan menundukkan kepalanya harapan untuk bisa bersanding dengan pujaan hatinya sangat tipis ia pun pergi ke kamarnya dengan lesu


dia melemparkan tubuhnya ke ranjangnya lalu memejamkan matanya tak lama ia tertidur dan saat sepertiga malam ia terbangun lalu beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat tahajud


dalam tahajudnya ia menyampaikan semua kegelisahannya masalahnya kepada sang khalik setelah itu ia akan membaca al qur'an sembari menunggu adzan subuh


hafida ia terbangun di sepertiga malam ia kemudian segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahajud


dia menyampaikan semua yang mengganjal dihatinya kepada rabb-nya dalam untaian doa doanya setelah sholat ia melantunkan ayat ayat suci al qur'an dengan merdunya


dan tak berapa lama adzan subuh mulai terdengar hafida segera sholat dalam doanya ia berharap jika mamanya akan segera sembuh lalu ia kembali membuka mushaf al qur'an nya


tanpa ia sadari mamanya terbangun sedari tadi ia sampai ikut meneteskan air mata


dibalik sikap kuatnya ia menyimpan begitu banyak luka yang ia tutupi dengan rapinya hingga tak ada yang menyadarinya


hafida menghentikan lantunan bacaan al qur'an nya saat menyadari jika mamanya memperhatikannya sedari tadi

__ADS_1


" mama udah bangun dari tadi " tanya hafida


" iya sayang " ucap mamanya lembut


" nak mama pengen banget ngeliat kamu menikah sebelum mama nanti pergi " ucap mama


" mama gak boleh ngomong kayak gitu fida yakin mama pasti sembuh " ucap hafida dengan deraian air mata


" hapus air matanya mama sakit saat melihat air mata kamu terjatuh " ucap mamanya lembut


hafida segera menghapus air matanya dan tersenyum lalu ia memeluk mamanya dengan penuh kehangatan


" zam " panggil abinya saat melihat dirinya tengah menuruni tangga


" iya bi ada apa " tanya azzam dengan berjalan ke arah abinya


" kamu siap siap gih kita ke rumah sakit jenguk calon istri kamu " ucap abi


calon istri? rasanya ia geli mendengarnya namun bagaimana lagi ia tak bisa untuk menolaknya lagi saat ini ia hanya bisa pasrah


rumah sakit


mereka pun sampai dirumah sakit dengan langkah gontai azzam mengikuti abinya rasanya ia benar benar malas bertemu dengan wanita yang abinya sebut sebagai calon istrinya


karena tak memperhatikan jalan tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita ia pun segera membantu membereskan barang barang wanita itu yang terjatuh


" maaf maaf saya tidak sengaja " ucap azzam


" iya gak papa " ucap hafida


ya wanita itu adalah hafida mereka berdua memang sering sekali bertemu tanpa disengaja mungkinkan itu jodoh

__ADS_1


" kamu " ucap azzam menggantung dia baru menyadari jika wanita yang ia tabrak adalah pujaan hatinya


... ...


__ADS_2