Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 24


__ADS_3

" kamu " ucap azzam menggantung dia baru menyadari jika wanita yang ia tabrak adalah pujaan hatinya


" ah iya " kaget hafida


" kita bertemu lagi " ucap azzam dengan tersenyum


" apa mungkin kita berjodoh " lanjut azzam


sedang hafida ia nampak gugup saat berhadapan dengan azzam dia tak tau mengapa dia bisa segugup ini


" apa kau baik baik saja " tanya azzam


" ah iya aku baik baik saja kalau begitu aku pergi dulu " ucap hafida


azzam hanya mengangguk lalu berjalan dengan langkah gontai menuju ruangan mira sedang disana abinya menatapnya dengan tajam


" zam kau tau kita akan segera menikah " ucap mira dengan senyum mengembang


" tapi aku ingin pernikahan ini dibatalkan " ucap azzam dingin


" tapi kenapa " tanya mira


" karena aku mencintai wanita lain " ucap azzam


mendengar itu mira menangis histeris abi nya pun segera menarik azzam keluar ia sangat malu dengan sahabatnya azzam hanya menarik nafasnya panjang ia tak tau harus bagaimana lagi


" zam kamu itu keterlaluan " ucap abinya dengan nada marah


" apa maksud abi " tanya azzam


" seharusnya kamu tidak berkata seperti itu didepan calon istrimu " ucap abi


" calon istri? itu tidak mungkin " ucap azzam


" karena perbuatanmu maka abi akan mempercepat pernikahan kalian " ucap abi sudah tak bisa di gugat


" tapi bi " sanggah azzam


" tidak ada tapi tapian " ucap abi lalu pergi meninggalkan azzam

__ADS_1


" ya allah aku harus bagaimana " gumam azzam lirih


dia bingung harus berbuat apa lagi saat ini ia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya dia sudah lelah untuk mencoba membujuk abinya namun apa hasilnya tetap sama saja keputusan abinya tak bisa di gugat


mungkin saja hafida bukanlah wanita yang ditakdirkan untuk menjadi pendampingnya tapi wanita itu adalah mira saat ini ia hanya mencoba untuk menerimanya walaupun hatinya menolak kenyataan ini


sedang hafida setelah kepergian azzam entah mengapa wajah azzam yang tengah tersenyum membuatnya menjadi malu sendiri ia juga tak mengerti dengan dirinya saat berhadapan dengan azzam dia menjadi sangat gugup juga jantungnya yang berdetak lebih cepat apa ia jatuh cinta namun dia rasa itu tidak mungkin


skip tiga hari kemudian


mamanya akhirnya sudah diperbolehkan untuk pulang hafida sangatlah senang tentunya saat mendengarnya dia pun segera memesan taksi untuk pulang kerumah


tak lama mereka sampai dengan hati hati ia menuntun mamanya masuk ke rumah ia lalu membaringkan mamanya di ranjang


dia pun menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan setelah selesai dengan kegiatannya dia pun menuju ke kamar mamanya dengan membawa nampan yang berisi makanan


setelah mengurus mamanya ia lalu pergi ke kamarnya dia pun duduk ditepi ranjangnya dia menghela napasnya panjang


namun tiba tiba sekelebat banyangan wajah azzam yang tengah tersenyum mengganggu pikirannya dia benar benar tidak mengerti dia kenapa jika dirasa jatuh cinta itu tak mungkin


hafida lalu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi badannya sudah terasa lengket


panggilan abinya membubarkan lamunannya ia pun segera mengikuti abinya dari belakang mereka pun bergegas menuju tempat dimana akan dilangsungkannya akad nikah


dan nampaknya hari ini adalah hari patah hati para santri putri yang mengidam idamkan azzam


sesampainya disana mereka langsung bergegas masuk karena acaranya akan segera dimulai


disana sudah ada mira yang tampil cantik dengan balutan kebaya ditubuhnya namun itu tak membuat azzam tertarik sama sekali


" bagaimana apa sudah siap " tanya penghulu


" ya saya sudah siap " ucap azzam dengan nada malas


" baiklah kita akan segera memulai acara pernikahannya " ucap penghulu


" saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan amirah putriana binti hamzah dengan maskawin tersebut dibayar tunai " ucap penghulu


" saya terima nikah dan kawinnya amirah putriana binti hamzah dengan maskawin tersebut dibayar tunai " ucap azzam dengan satu kali tarikan napas

__ADS_1


" bagaimana para saksi sah " ucap penghulu


" sahh "


mira sangat bahagia karena mulai hari ini ia sudah resmi menjadi istri dari seorang azzam namun hal itu berbanding terbalik dengan azzam ia terlihat tak bahagia dengan acara pernikahannya


namun harus bagaimana lagi semuanya sudah terjadi dia harus menerimanya dengan ikhlas


azzam pun segera membersihkan tubuhnya sedang mira ia terdiam melihat suaminya masih belum bisa untuk menerimanya sebagai istrinya setelah azzam selesai dengan mandinya


mira segera membersihkan tubuhnya karena dia sudah sangat lelah dengan acara hari ini dan mungkin besok akan lebih lelah karena hari esok adalah acara resepsi pernikahannya


skip pagi hari


hafida sudah siap untuk berangkat bekerja tak lupa sebelum berangkat dia mengurus mamanya terlebih dahulu


" nak " panggil mamanya


" iya mah " ucap hafida


" apa kamu tidak ingin untuk meneruskan usaha ayahmu " ucap mamanya


" usaha? emm hafida masih belum siap ma untuk meneruskannya lagian kan sudah ada mama " ucap hafida


" hmm ya sudah kalau begitu " pasrah mama


" kalau begitu fida pergi dulu mama istirahat aja dulu nanti kalau mama udah bener bener sembuh mama boleh ke kantor " ucap hafida


mamanya hanya mengangguk setelah itu hafida segera menuju ke cafe tempatnya bekerja tak lama ia sampai


disana sudah ada lia juga para karyawan lainnya tak lupa ia menyapa mereka


" pagi Mbak " sapa hafida pada lia


" pagi eh udah masuk kerja kamu gimana keadaan mama kamu " tanya lia


" alhamdulillah Mbak mama sudah sembuh ya walaupun masih belum sembuh total " ucap hafida


" kalau begitu saya permisi dulu Mbak " lanjut hafida yang diangguki oleh lia

__ADS_1


__ADS_2