Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 17


__ADS_3

Azzam segera menuju ke kamarnya kemudian ia melaksanakan sholat setelah itu ia turun ke bawah untuk menemui Uminya.


Hafida bergegas ke kamarnya dan tidur namun matanya seakan ingin terus terjaga.


Seklebat bayangan senyuman Azzam muncul dipikirannya tiba tiba pipinya memanas dia menepuk nepuk pipinya pelan.


"Aku kenapa sih" gumamnya lirih.


"Aihh kenapa jantungku lari maraton begini?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Memori singkat tentang pertemuannya dengan Azzam berputar putar dikepalanya.


Dia menggelengkan kepalanya pelan lalu mencoba kembali memejamkan matanya dengan paksa.


Keesokan paginya..


"Pagi Ma" sapa Hafida dengan senyum mengembang.


"Pagi sayang sarapan dulu yuk" balas sang Mama dengan senyum lembut.


"Sayang eumm kapan kamu berhenti bekerja?" tanya Mama Ranty.


"Ma, aku akan berhenti kok tapi tidak sekarang" ucap Mamanya.


Seusainya ia langsung pamit untuk pergi ke Cafe,kebetulan hari ini dia ada kelas siang.


"Assalamualaikum mah Fida berangkat dulu ya" ucap Hafida mencium punggung tangan sang Mama.


"Wa'alaikumsalam hati hati ya sayang" ucap Mamanya tersenyum.


"Heh mau kemana lo?" tanya mela dengan ketus.


"Saya mau ke belakang tolong jangan halangi jalan saya " ucap Hafida dengan sopan.

__ADS_1


"Heh lo gak usah pencitraan gue tau kok lo itu munafik so suci lo Haha" ucap Mela dengan tertawa.


"Lo pikir lo pake jilbab panjang kek gini pantes ?nggak lo itu nggak pantes lo itu pendosa ngerti" lanjut Mela.


"Iya mbak saya memang pendosa saya tau itu, namun apa salahnya saya mengenakan hijab mbak apa? saya hanya menjalankan kewajiban mbak" ucap Hafida sambil terisak.


"Kalau mau ceramah ke masjid bukan disini ngerti lo" ucap Mela sambil mendorong Hafida kemudian meninggalkannya begitu saja.


Hafida pun segera bangun dari jatuhnya ia menghapus air matanya lalu mengerjakan tugasnya yang tertunda.


Hatinya sangat sakit apa salahnya? dia tak pernah merasa mengganggu Mela namun kenapa Mela selalu memandangnya jijik seakan dia itu sampah.


Air matanya menetes membasahi pipinya hatinya benar benar sakit sangat sangat sakit, setelah tenang dia kembali melanjutkan pekerjannya.


Azzam telah siap dengan baju kokonya juga peci hitam yang ada dikepalanya membuatnya sangat tampan para santri putri histeris melihatnya.


"Aaaa ustadz Azzam"


"Astagfirullah ganteng banget"


"Ustadz Azzam jodohkuu aaaa"


Begitulah kira kira teriakan histeris para santri putri sedangkan Azzam nampaknya ia acuh dengan ini


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Azzam.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" ucap para santri.


"Baiklah saya disini akan menyampaikan tugas dari ustadz Ibrahim silahkan kalian kerjakan hal 56 setelah selesai nanti dikumpulkan" ucap Azzam.


Setelah itu ia pun pergi ke kantor ya dia hanya menyampaikan amanah dari rekan ustadznya.


tok tok tok

__ADS_1


suara ketukan pintu


"Assalamualaikum ustadz" ucap santrinya yang bernama Firman.


"Wa'alaikumsalam ada apa" ucap Azzam.


"Itu ustadz dipanggil Abi" ucap Firman.


"Kalau begitu saya permisi ustadz assalamualaikum" lanjut Firman.


"Wa'alaikumsalam" ucap Azzam.


Azzam lalu bangkit dari duduknya dan pergi menemui sang Abi,dalam hatinya Azzam berpikir ada apa Abi memanggilnya.


Saat dia sampai dirumah dia melihat mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya dia bertanya tanya siapa yang tengah bertamu.


"Assalamualaikum bi ada apa manggil Azzam" ucap Azzam


"Wa'alaikumsalam kamu duduk dulu, Zam" ucap Abi.


Pandangan mata azzam mengarah ke wanita yang tengah tersenyum ke dirinya dia tak mengenal siapa wanita itu dan ada apa gerangan datang bertamu ke rumahnya.


"Begini Zam kamu masih ingat dengan pak Hamzah teman lama Abi dulu" ucap Abi.


"Pak hamzah dan abi sepakat untuk menjodohkan kamu dengan putrinya" tutur Abinya.


Jedarr


bagaikan tersambar petir disiang bolong seketika Azzam terdiam mematung mendengar penuturan Abinya.


Haruskah dirinya menolak atau justru menerimanya jika dia menolaknya dia takut Abinya kecewa namun bila menerimanya ada wanita lain yang membuatnya menaruh rasa namun ia belum memastikan apakah itu rasa cinta atau bukan.


Azzam tengah dilema dengan sebuah pilihan antara menerima atau menolak.

__ADS_1


__ADS_2