Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 25


__ADS_3

" pagi Mbak " sapa hafida pada Lia


" pagi eh udah masuk kerja kamu gimana keadaan mama kamu " tanya Lia


" alhamdulillah Mbak mama sudah sembuh ya walaupun masih belum sembuh total " ucap Hafida


" kalau begitu saya permisi dulu Mbak " lanjut Hafida yang diangguki oleh lia


sedang dengan Mira ia sangatlah bahagia karena ia sudah resmi menjadi istri Azzam namun disisi lain ia juga merasa sedih karena Azzam sepertinya tak menginginkan pernikahan ini terjadi


Azzam juga mengacuhkannya dia seperti tak ada dimata Azzam apa ia semenjijikkan itu dimata suaminya itu


ia menarik napasnya dalam dalam dia yakin jika suaminya lambat laun akan menerima dirinya sebagai istrinya dan ia berharap Azzam akan segera mencintainya ia benar benar menunggu momen dimana Azzam menyatakan cintanya nantinya


sedangkan Azzam ia nampak murung semenjak acara akad nikahnya kemarin dia benar benar tak bersemangat untuk melakukan apa pun


dia pun segera turun untuk sarapan karena ia harus segera bersiap siap untuk acara resepsi pernikahannya lebih tepatnya pernikahan yang sama sekali tak ia harapkan


" eh nak kamu sudah turun baru saja umi mau butuh istri kamu untuk manggil tanya udah turun duluan " ucap Umi


sedang Azzam yang mendengar uminya menyebut Mira dengan kata istri rasanya sangat aneh ditelinganya ya walaupun memang dia adalah istrinya ia sama sekali tak mengharapkan pernikahan ini terjadi


" emm iya mi " ucap Azzam dengan nada lemas


sedang Uminya hanya menghembuskan napasnya kasar ia berharap secepat mungkin Azzam akan menerima Mira sebagai istrinya


ia pun langsung duduk dikiranya sedang mira ia langsung mengambilkan makanan untuk Azzam suaminya ia senang Azzam mau menerimanya walaupun dengan rasa malas setidaknya ia mau menerimanya

__ADS_1


namun Azzam hanya mengaduk - aduk makanan yang ada dipiringnya rasanya ia benar benar tak berselera untuk makan


" zam makanannya jangan cuma diaduk - aduk hargai istri kamu yang sudah berusaha melayani kamu " tegur Abinya pada Azzam


ia benar benar merasa kasihan kepada menantunya itu karena Azzam seperti tak menghargai makanan yang telah disiapkan oleh istrinya


" iya bi " jawab Azzam dengan lemas


kedua kakak Azzam hanya memandang ke arah adiknya kasihan mereka berdua mengerti apa yang dirasakan oleh Azzam namun mereka juga tak bisa berbuat apa apa


sedang Hafida ia langsung menuju ke belakang untuk mengerjakan tugasnya sedang melakukan yang melihat jika Hafida sudah kembali lagi bekerja memandang Hafida dengan dunianya


" wah wah udah masuk aja ya " ucap Mela sambil bersikap seolah olah jika dia adalah bosnya


" iya Mbak alhamdulillah saya juga senang bisa kembali kerja lagi " ucap Hafida


" gue pikir lo kemarin dipecat ternyata enggak padahal itu harapan gue sedari lo mulai masuk kerja ke cafe ini " ucap Mela


namun Hafida sama sekali tak menghiraukan ucapan Mela ia hanya menganggapnya sebagai angin yang lalu hal itu membuat Mela merasa sangat kesal


" lihat aja nanti gue bakal bikin lo dipecat dari sini " gumam Mela dalam hatinya


dia sepertinya benar - benar benci pada Hafida hatinya sudah diselimuti oleh rasa iri terhadap Hafida yang membuatnya menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan Hafida


skip resepsi pernikahan Azzam juga Mira


hotel tempat dimana akan dilangsungkannya acara resepsi pernikahan Azzam juga Mira sudah dipenuhi oleh banyak tamu

__ADS_1


Mira pun juga sudah siap dengan gaun yang nampak cantik melekat ditubuhnya juga dengan tiada diwajahnya yang membuatnya semakin terlihat cantik


disepanjang acara senyum Mira tak pernah luntur ia nampak sangat bahagia apalagi para tamu memujinya jika ia nampak sangat cantik juga dia nampak serasi dengan Azzam suaminya


namun berbeda dengan Azzam yang tak menginginkan semua ini namun ia menutupinya dengan senyuman paksanya


akhirnya acara resepsi pernikahannya telah usai azzam pun langsung membaringkan tubuhnya diranjangnya ia benar benar merasa sangat lelah berdiri segarkan menyalami para tamu dan juga tamu yang hadir diacara resepsinya lebih banyak daripada acara akad nikahnya


setelah itu ia langsung membersihkan tubuhnya agar lebih segar sedang mira hanya menatap suaminya dengan perasaan sedih


Azzam benar benar bersikap acuh padanya ia merasa tak dianggap ada oleh suaminya hatinya benar benar sakit


ia pikir pernikahan ini akan penuh dengan kebahagiaan namun nyatanya tidak suaminya saja bahkan untuk memandangnya saja seperti enggan


sedang Hafida ia mengerjakan pekerjaannya dengan sangat cekatan hal itu membuatnya dipuji oleh karyawan lain itu membuat Mela meradang ia heran apa si istimewanya si Hafida itu padahal menurutnya tak ada istimewanya sama sekali


menurutnya Hafida hanya seseorang yang sok polos dan ia membenci itu rasanya telinganya ini panas saat para karyawan memuji muji Hafida


apalagi bosnya itu terus saja membangga banggakan karyawan baru itu alias Hafida padahal dulunya ia yang dipuji puji


akhirnya pekerjaan Hafida selesai lebih cepat dari biasanya jadi dia bisa pulang lebih awal dari sebelum sebelumnya


" Mbak saya pamit pulang duluan ya " pamit Hafida pada lia


" iya hati hati " ucap Lia dengan ramah


tak lama ia sudah sampai dirumahnya dia langsung saja masuk ke rumah namun dia merasa heran kenapa mamanya itu membereskan baju bajunya kedalam koper

__ADS_1


akan pergi kemana sebenarnya itu yang memutar dikepala hafida


" assalamualaikum ma " ucap Hafida seraya mencium punggung tangan mamanya


__ADS_2