
Jedarr
Bagaikan tersambar petir disiang bolong seketika Azzam terdiam mematung mendengar penuturan Abinya.
Haruskah dirinya menolak atau justru menerimanya jika dia menolaknya dia takut Abinya kecewa namun bila menerimanya ada wanita lain yang membuatnya menaruh rasa namun ia belum memastikan tentang perasaan itu.
Azzam tengah dilema dengan sebuah pilihan antara menerima atau menolak.
Dia terdiam cukup lama hingga pertanyaan dari sang Abi membuyarkan lamunannya.
"Gimana Zam kamu mau kan?" tanya Abi dengan penuh harap .
"Tolong beri Azzam waktu untuk berpikir, Bi" ucap Azzam.
"Baiklah Abi beri kamu waktu tiga hari untuk berpikir" ucap Abinya.
Azzam menganggukkan kepalanya sedang wanita yang dijodohkan dengannya itu menatapnya begitu lekat jika boleh jujur dia sangat risih.
Azzam bernapas lega saat rombongan keluarga teman lama Abinya itu pulang dia pun segera bergegas ke pesantren karena dia masih memiliki tanggungan.
Tak terasa hari sudah sore Hafida segera membereskan barangnya dan segera pulang.
Dia sudah sangat lelah bukan hanya fisiknya yang lelah namun hatinya juga lelah dia menghembuskan napasnya kasar.
"Assalamualaikum Ma" ucap Hafida sembari mencium tangan Mamanya.
"Wa'alaikumsalam kamu sudah pulang nak" ucap Mamanya lembut.
"Iya Ma kalau begitu Fida mau bersih bersih dulu" ucap Hafida nampak sangat lelah.
Mamanya hanya mengangguk dia pun segera bergegas untuk membersihkan tubuhnya setelah itu ia segera melaksanakan sholat.
"Fida sudah sholatnya kalau sudah yuk makan kamu pasti lapar" panggil Mamanya.
"Iya Ma" ucap Hafida seraya duduk dikursinya.
"Oh iya sayang mama mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Mamanya serius.
__ADS_1
"Tadi sekretaris perusahaan datang dan memberikan surat ini" ucap Mama Ranty seraya menyodorkan surat itu pada Hafida.
"Ma? Fida belum siap" ucapnya.
"Mama saja yang sementara memegang perusahaan" lanjutnya.
"Mama rasa kamu lebih berhak" ucap Mama Ranty.
"Tapi Fida masih ingin bekerja di cafe, Ma" ucap Hafida bersikeras menolak.
"Sampai kapan sayang?" tanya Mama Ranty sedang Hafida hanya terdiam.
Setelah makan dia langsung bergegas untuk tidur tak membutuhkan waktu yang lama dia sudah terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Disisi lain Azzam nampaknya tengah sangat gelisah ia bingung harus bagaimana dia pun akhirnya memutuskan untuk bercerita kepada kakaknya siapa lagi jika bukan Lukman.
"Kak" panggil Azzam.
"Iya Zam, ada masalah ?" tanya Lukman.
Dia sudah hafal betul dengan adiknya jika tengah memiliki masalah.
"Hmm lalu?" tanya Lukman menyeritkan dahinya.
"Aku bingung harus menolak atau menerimanya" ucap Azzam.
"Hmm kamu sholat istiqarah minta petunjuk sama allah " ucap Lukman.
Setelah bercerita dengan Lukman hatinya pun lega dia pun bergegas untuk melakukan sholat istiqarah.
pagi hari
Matahari mulai terbit dari ufuk timur dengan langit yang nampak cerah hari ini , Hafida tengah bersiap untuk berangkat.
"Sayang hari ini Mama antar kamu ke kampus ya" ucap Mama Ranty.
"Iya Ma" ucapnya tersenyum.
__ADS_1
Mereka sampai didepan kampus Hafida, Hafida menoleh lalu mencium tangan sang Mama.
"Assalamualaikum" ucapnya.
"Wa'alaikumsalam" balas Mamanya.
Siang harinya
Hafida selesai dengan kegiatannya dia lalu bergegas menuju ke Cafe yang tak terlalu jauh dari kampusnya.
Dia berjalan dengan tak terlalu fokus hingga tanpa sengaja dompet miliknya terjatuh.
Dia baru menyadari ketika akan membeli sesuatu, dirinya nampak panik dimana dompetnya berada.
"Maaf apa ini milik kamu?" tanya sesosok pria.
"Ah iya dimana kamu menemukannya saya mencari carinya" ucap Hafida.
"Saya menemukannya diujung depan sana" jelasnya.
"Emm kamu yang beberapa waktu lalu bukan?" tanya Azzam.
"Bisa kita bicara sebentar?" lanjutnya.
"Ah baiklah" ucap Hafida nampak canggung.
"Ada apa?" tanya Hafida.
"Saya mencintai kamu" ucap Azzam jelas dan singkat.
"Jika kamu mencintai saya silahkan datang ke rumah" ucap Hafida dengan jantungnya yang berdebar debar.
"Saya dijodohkan dengan anak teman orang tua saya"
"Saya tidak mencintainya"
"Kamu percaya takdir? jika kita memang jodoh allah akan menyatukan kita" ucapnya.
__ADS_1
Azzam hanya tersenyum tipis mendengarnya hatinya cukup lega setelah mengungkapkan perasaannya.