Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 3


__ADS_3

Setelah selesai dia kemudian memeriksa ke setiap penjuru rumahnya,matanya tanpa sengaja melihat kamar mendiang orang tuanya.


Tanpa sengaja air matanya menetes jujur saja dia sangat rindu orang tuanya, Hafida membuang napasnya kasar lalu membuka pintu kamar itu dengan pelan.


Dia menatao sekeliling kamar lama lalu duduk ditepi kasur, dia mengambil sebuah sebuah foto yang berada dilaci.


"Ayah ibuu aku harap kalian bahagia disana" ucapnya seraya mengusap pelan foto tersebut.


"Aku tidak boleh menangis" ucapnya.


Hafida lalu beranjak dari duduknya dan menutup pintunya pelan,dia juga membawa foto tadi.


"Fi, ayo kita pulang pasti suami tante sudah pulang" ajak tante Ranty.


Hafida mengangguk lalu mengunci pintu rumahnya dan bergegas masuk ke mobil.


Mereka sampai dirumah, tidak ada mobil suami tantenya didepan.


"Tan, om David belum pulang" ucapnya.


"Sebentar tante telpon dulu, kenapa kebetulan sekali dia belum pulang" ucap tante Ranty.


"Gimana tan?" tanya Hafida.


"Kok gak diangkat ya, perasaan tante jadi gak enak" ucap tantenya.


"Tente tenang ya, semoga om David gak kenapa napa" ucap Hafida.


Tak lama ponsel tantenya berdering nyaring tante Ranty lalu segera mengangkatnya dia mengira jika itu suaminya.


"Mas, kenapa kamu belum pulang" ucap Tante Ranty.


"Maaf bu kami dari pihak rumah sakit kencana,suami ibu mengalami kecelakaan kerja dan sedang dalam perawatan" suara dari seberang telpon.


Tante Ranty terdiam mendengarnya, Hafida menatap sang tante khawatir takut jika ada sesuatu yang terjadi.


"Tante,apa yang terjadi?" tanyanya hati hati


"Suami tante kecelakaan Fi" ucap tante Ranty.

__ADS_1


"Ayo kita ke rumah sakit tan,semoga om David baik baik saja" ucap Hafida.


Mereka sampai dirumah sakit,Tante Ranty langsung berlari menuju ke ruang IGD.


"Dokter suami saya baik baik saja kan?" tanya tante Ranty dengan suara yang terdengar menahan tangis.


"Mohon maaf bu suami ibu telah meninggal, luka yang dialami suami ibu cukup parah dan membuatnya kehilangan banyak darah" ucap Dokter tersebut.


"Dokter jangan berbohong suami saya pasti baik baik saja kan" ucap Tante Ranty dengan air matanya yang mulai jatuh.


"Dokter jawab hiks hiks"


Dokter tersebut hanya terdiam, tante Ranty lalu menghapus air matanya dan menemui suaminya.


"Mass hiks hiks" tangis tante Ranty pecah.


"Kenapa kamu pergi mas,baru saja kakakku pergi dan kamu juga ikut pergi" lirih tante Ranty.


Tante Ranty menangis seraya memeluk tubuh kaku suaminya.


"Maaf bu kami akan segera mengurus jenazah suami ibu" ucap suster.


Tangis tantenya pecah dalam pelukannya,hati Hafida terasa teriris mendengar sang tante menangis dia bisa merasakan sakit itu.


Tanpa sadar air matanya juga ikut menetes, dirinya lalu mengusapnya,Hafida lalu melepas pelukannya.


"Tante tolong kuat, ayo kita pulang untuk menyiapkan pemakaman om David" ucap Hafida lembut.


"Terimakasih Fi, sudah menguatkan tante" ucap tantenya dengan suara parau.


Suasana rumah nampak ramai dengan para pelayat juga para teman kerja omnya.


Setelah semuanya siap mereka lalu bersiap menuju ke pemakaman, Hafida merangkul tantenya dengan erat.


Mereka sampai dipemakaman,jenazah omnya pun segera untuk dimakamkan.


Tangis Tantenya kembali pecah saat jenazah suaminya dimasukkan ke liang lahat.


Hafida pun ikut menitikkan air mata dia tau bagaimana rasanya kehilangan.

__ADS_1


Para pelayat telah pergi hanya tersisa mereka berdua saja, Hafida berjongkok disamping tantenya.


"Tan, ayo pulang kita pulang" ajaknya.


Tantenya hanya mengangguk lalu mereka pergi meninggalkan area pemakaman.


Sementara dilain tempat


Seorang ustadz muda bernama Azzam Fadlan Shakeil merupakan putra dari pemilik pesantren besar disurabaya,dirinya baru saja menyelesaikan studi S2nya dikairo Mesir.


Dia menarok kopernya dan memeluk umi abinya erat.


"Assalamualaikum umi abi" ucapnya.


"Wa'alaikumsalam nak" ucap mereka.


"Zam,apa kamu sudah membawakan menantu untuk umi?" tanya uminya.


"Siapa yang akan Azzam bawa umi,Azzam belum memiliki calon" ucapnya lembut.


"Abi pikir kamu akan menikah setelah pulang dari kairo, hmm ya sudah ayo kita pulang" ucap abinya.


Baru saja sampai sudah diberi pertanyaan oleh Umi dan abinya.


Mereka menanyakan kapan ia akan menikah selalu saja seperti itu jangankan untuk menikah calon pun ia tidak punya,lalu siapa yang akan dia nikahi.


Disepanjang perjalanan ia hanya diam tak terasa mereka sampai dipesantren saat ia turun dari mobil teriakan para santri putri menggema ya sudah biasa seperti ini.


Ia menghempaskan tubuhnya diranjangnya ia rindu sekali dengan kamar ini.


Dia lalu membereskan barang barangnya dan bergegas untuk mandi dan menunaikan ibadah seusainya ia akan turun kebawah untuk makan malam.


"Wah wah ustadz kita sudah kembali rupanya,apa kamu sudah membawa adik ipar untuk kami" goda kakaknya ya azzam adalah anak bungsu dan tentu saja hanya dia lah yang belum menikah dan yang pasti setiap dia pulang selalu saja digoda oleh kedua kakaknya.


"Tolong kamu diam kak, dan siapa yang akan ku bawa aku tidak memiliki calon" ucap Azzam memutar bola matanya malas.


"Aihh kakak pikir kamu sudah membawa adik ipar heumm kakak turut prihatin dengan nasibmu" ucap Lukman sementara Azzam hanya mencebikkan bibirnya kesal.


"Sudah mas jangan menggoda adikmu terus" ucap istri Lukman.

__ADS_1


Umi dan abinya hanya menggeleng gelengkan kepala saja.


__ADS_2