
hafida lalu pergi ke balkon ia ingin melihat pemandangan dari atas sepertinya sangat indah dirinya benar benar takjub apalagi disini udaranya sangat segar dia pasti sangat betah jika tinggal disini, azzam pun menyadari jika istrinya tak ada disampingnya hingga arah matanya menunjuk ke arah pintu balkon yang terbuka dia lalu bangkit dan melangkahkan kakinya menuju balkon benar saja ternyata hafida ada disini dirinya lalu berjalan mendekat dan melingkarkan tangannya dipinggang hafida.
hafida yang merasa seperti ada tangan yang melingkar dipinggangnya pun menyadari jika azzam tengah memeluknya dia terlalu asik dengan memandang ke bawah sampai sampai tak menyadari kedatangan suaminya.
" apa kamu sangat asik memandangi itu, sampai sampai tak menyadari diriku ". tanya azzam sembari mengeratkan pelukannya
" maaf, tadi aku terlalu asik memandang pemandangan disekitar pesantren dan itu sangat indah ". jelas hafida
" apa kamu, mau berkeliling pesantren ". tanya azzam masih memeluk hafida
" aku mau ". saut hafida cepat dengan mata berbinar
" baiklah aku akan menemani tuan putri untuk mengelilingi pesantren ". ucap azzam lalu menggandeng tangan hafida
mereka lalu menuruni anak tangga sambil tetap bergandengan disitu sebenarnya sih hafida malu dengan beberapa santri yang ada dirumah tapi tak mengapa.
azzam lalu membawa istrinya mengelilingi pesantren hafida benar benar sangat takjub,para santri sangat heboh saat melihat azzam tengah mengajak istrinya mengelilingi pesantren mereka sampai iri dengan kemesraan sang ustadz dengan istrinya,disepanjang mereka berjalan melewati para santri yang berlalu lalang kalimat pujian terus terlontar kepada pasangan pengantin baru ini ,namun juga ada yang menatap mereka berdua dengan tatapan tak suka siapa lagi jika bukan laila dirinya masih tak terima jika sang ustadz yang ia idam idamkan sudah menikah.
dirinya masih berfikir jika hanyalah dia yang pantas mendampingi sang ustadz dia hanya bisa menatap kesal kearah para santri putri yang lain yang terus memuji istri ustadz yang ia idam idamkan.
" heii, diamlah suara kalian mengganggu ketenanganku tahu ". kesal laila
__ADS_1
" ya memangnya kenapa, apa kamu merasa cemburu melihat ustadz azzam bersama istrinya ". tanya salah satu santri
" jelaslah karena jika wanita itu tak merebut ustadz azzam dariku pasti sekarang akulah yang menjadi istrinya ". ucap laila dengan sangat percaya diri
" sejak kapan ustadzah hafida merebut ustadz azzam darimu bahkan ustadz azzam aja gak pernah tuh ngelirik kamu ". jelas salah satu santri sedang laila ia malah melengos pergi
karena hafida adalah istri dari azzam para santri memanggilnya ustadzah sebenarnya hafida sendiri agak kurang nyaman dengan panggilan itu namun dirinya akan mencoba untuk membiasakannya azzam benar benar mengajak hafida mengelilingi seluruh pesantren sampai hafida merasa lelah karena saking luasnya pesantren ini.
" sayang, kamu tahu disini adalah tempat favorit para santri setiap sore pasti ada banyak santri yang berkumpul disini ". ucap azzam
hafida lalu duduk ditempat duduk yang ada dia memandany kearah sawah yang ada didepannya dan juga disini sangatlah teduh apalagi udaranya sangat segar pantas saja sih jika para santri menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit mereka karena hafida sendiri juga menyukainya.
semilir angin menemani dua insan ini mereka nampak saling bercanda benar benar sangat hangat setelah puas mengelilingi pesantren azzam lalu membawa hafida kembali ke rumah karena sebentar lagi sudah memasuki waktu dzuhur.
hingga suara dering telpon ponselnya berbunyi dan munculah nama alvin dilayar ponselnya dengan kesal dirinya mengankat telpon dari alvin.
" ada apa sih vin, gue lagi males nih mau debat sama lu ". ucap rasya
" pasti kamu, kesepian kan ". tebak alvin
" dari mana lu tau ". tanya rasya
__ADS_1
" aku ada dirumahmu ". ucap alvin singkat namun membuat rasya kaget
dirinya lalu langsung bergegas turun untuk memastikan itu apa yang di ucapkan alvin itu benar dan ternyata benar laki laki itu tengah menunggu dirinya diruang tengah dengan malas rasya melangkahkan kakinya menghampiri alvin.
" ngapain sih lu kesini segala ". tanya rasya
" hehe soalnya aku tau kalau kamu pasti kesepian kan ". ucap alvin
" ya terus ". tanya rasya lagi
" udah deh diem aja oke mending tuh aku bawain martabak ". ucap alvin sambil menyodorkan sekotak martabak yang dia beli tadi
" wahh,ini beneran buat gue kan vin ". tanya rasya dengan mata berbinar
" ckk iya ". ucap alvin
seketika senyum terbit di wajah rasya,ada untungnya juga alvin datang kemari membawakannya martabak kan dia sudah sangat ingin makan martabak tapi karena tak ada yang menemani jadi dia urungkan keinginannya itu dan juga kebetulan alvin bawain buat dia ya dia terima dong ngapain juga nolak rezeki.
" hah, ada untungnya juga nih orang ke sini lumayan kan pas lagi pengen makan eh ada yang bawain beruntung banget sih aku eh tapi tapi ini alvin gak ada buatan buat nyogok kan ". batin rasya
alvin tersenyum senang karena melihat rasya nampak sangat senang dia tak berniat apa apa sih sebenarnya cuma emang lagi pengen aja, rasya lalu menyodorkan kotak martabak itu ke alvin agar alvin juga ikut makan awalnya sih nolak tapi karena dia memaksa alvin akhirnya luluh juga.
__ADS_1
sedangkan mama ranty dia sedang berada didapur dan papa hendra pastinya dia menunggui istrinya memasak makan siang mumpung tak ada dua para penganggu itu ya walaupun ada mbok minah sih tapi itu tak masalah baginya kadang dirinya kesal setiap bermesraan selalu saja ada dua Putrinya yang datang memergokinya.