Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 27


__ADS_3

mira menghela napasnya panjang ia merasa senang jika suaminya menyadari kesalahannya namun ia juga merasa sedih mendengar pengakuan suaminya


dia harus bersabar pasti perlahan lahan azzam akan mencintainya walaupun ia harus menanggung rasa sakit setiap harinya


ia pun langsung pergi ke bawah untuk membantu ibu mertuanya menyiapkan makan malam


sedang dengan hafida seusainya makan malam ia langsung pergi ke kamarnya ia mendudukkan dirinya ditepi ranjang sambil menatap kearah jendela kamarnya


ia masih memikirkan tentang permintaan mamanya untuk menggantikan mendiang ayahnya namun ia rasa belum siap mungkin nanti


ia mengehela napasnya lalu merebahkan tubuhnya diranjang hingga ia pun tertidur


pagi hari


hafida tengah bersiap siap untuk berangkat kerja ia sudah siap dengan gamis yang melekat ditubuhnya ia merapikan kembali khimarnya lalu manyaut tasnya dan pergi menemui mamanya


" pagi ma " sapa hafida


" pagi juga sayang " saut mamanya


" ma, aku berangkat kerja dulu ya " pamit hafida


" loh gak sarapan dulu " tanya mamanya


" emm gak usah ma nanti keburu telat " tolak hafida


" oh yaudah, hati hati dijalan" ucap mama ranty


" iya ma assalamu'alaikum " ucap hafida sembari mencium punggung tangan mamanya


" Wa'alaikumsalam " ucap mamanya


sesampainya dicafe ia langsung bergegas untuk pergi mengerjakan tugasnya tak lupa ia juga menyapa para karyawan lain


dia mengerjakan tugasnya sembari melantunkan shalawat dengan suara merdunya namun tiba tiba


" heh ! lo bisa diem gak berisik tau gak " ujar Mela seraya melemparkan sayuran kearah hafida


" astagfirullah " ucap hafida kaget


dia mengusap usap dadanya sembari mengucap istighfar sungguh dia tak menyangka Mela akan berbuat seperti ini padanya

__ADS_1


" Mbak kenapa ngelempar saya dengan sayuran " tanya hafida


" masi nanya? heh suara lo itu berisik ganggu tau gak " ucap mela dengan sinisnya


" tapi kan saya cuma shalawatan " ucap hafida


" mau lo sholawatan kek nggak kek gue gak peduli tapi yang pasti suara lo ganggu " ucap mela lalu pergi meninggalkan hafida


sedang hafida ia berkali kali mengucap istighfar agar tak terpancing emosi setelah dirasa sedikit tenang ia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi


sedang dengan azzam ia bersiap untuk pergi ke pesantren dia hanya ingin berkeliling saja karena dia juga sedang tak ada jadwal mengajar


lalu dengan mira? pastinya ia sedang bersama ibu mertuanya


" mir umi boleh nanya " tanya umi pada mira


" boleh umi mau tanya apa " ucap mira


" apa azzam memperlakukanmu dengan baik" tanya umi karena khawatir jika azzam akan menyakiti mira walaupun itu tanpa disengaja


seketika mira terdiam dia bingung harus bagaimana ia benar benar bingung hingga umi menyadarkannya dari lamunannya


" mir " panggil umi


" gimana " tanya umi yang sepertinya sudah tak sabar untuk mendengar pengakuan dari menantunya


" emm... mas azzam baik kok mi dia sudah mulai mau menerima aku " ujarnya walaupun tak seperti itu kenyataannya


" ah syukurlah kalau begitu umi senang sekali mendengarnya " ucap umi dengan senang


di pesantren


sepanjang ia berjalan mengelilingi pesantren para santai putri membicarakan dirinya ya pernikahannya dengan mira itu membuat heboh seisi pesantren terutama bagi santri putri


mereka pastinya patah hati berjamaah karena idaman mereka telah menikah


" eh istrinya ustadz azzam itu cantik lo " ucap salah satu santri putri


" iya bener pantas aja ustadz azzam mau " ujar santri yang lain membenarkan


sedang dengan laila ia sangat kesal mendengarnya impiannya untuk menikah dengan ustadz pujaannya tak kesampaian padahal ia baru saja ingin meminta ayahnya untuk menjodohkan dirinya dengan ustadznya itu

__ADS_1


tak terasa hari sudah sore saja hafida yang sudah menyelesaikan pekerjaannya langsung bergegas pulang tak perlu waktu lama ia sampai karena jarak rumahnya dengan cafe lumayan dekat


sesampainya dirumah ia langsung masuk tak lupa untuk mengucapkan salam


karena saat memasuki rumah kita dianjurkan untuk mengucapkan salam dan ada tiga keutaamaan mengucap salam saat memasuki rumah


Pertama, rumah tersebut akan dijauhkan dari setan. Para ulama mengatakan bahwa salam termasuk bagian dari zikir kepada Allah dan setiap orang yang memasuki rumahnya dengan berzikir kepada Allah, maka dia tidak akan disertai setan, juga rumahnya tidak ditempati setan.


Kedua, akan mendapatkan keberkahan dan kebaikan dari Allah


Ketiga, mendapatkan perlindungan Allah dari bahaya dan bencana.


jadi biasakan untuk mengucap salam sebelum memasuki rumah


Ok kita lanjut


" assalamu'alaikum " ucap hafida


" Wa'alaikumsalam " jawab mamanya seraya menghampiri dirinya


" gimana pekerjaannya lancar " tanya mamanya


" alhamdulillah lancar kok ma walaupun ada kendala sedikit " ujar hafida


" oh yaudah kamu bersih bersih gih, terus temui mama dikamar ya mama mau ngomong sesuatu sama kamu " ucap mamanya


" iya ma... kalau begitu aku ke kamar dulu " ucap hafida yang dibalas anggukan oleh mamanya


ia langsung membersihkan tubuhnya karena ia juga sudah sangat lelah setelah selesai ia bersiap siap untuk menemui mamanya


sebelum masuk ia mengetuk pintunya terlebih dahulu (agar lebih sopan tentunya karena kita gak tau apa orang yang ada di dalam sibuk gak nya) setelah mendengar jawaban ia langsung membuka knop pintunya


" ada apa ma " tanya hafida


" gini sayang kenapa kamu gak berhenti aja kerja di cafe itu trus nanti kamu terusin usaha ayah kamu " bujuk mamanya


" tapi ma... aku nyaman dengan pekerjaanku suatu saat aku juga bakal berhenti kok dan aku bakal nerusin usaha ayah " tolak hafida


" tapi kan lebih baik kamu nerusin usaha ayah kamu dari pada bekerja sama orang lain " ucap mamanya


" keputusan fida udah bulat ma pasti aku akan keluar dari cafe itu tapi gak sekarang lebih baik perusahaan mama aja dulu yang handle lagian aku juga belum siap " ujar hafida

__ADS_1


mamanya menghela napasnya panjang membujuk hafida memanglah sulit apa lagi ia memiliki kepribadian yang tetap teguh dengan keputusannya


__ADS_2