Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 32


__ADS_3

" mbak bilang sama bu dina kalo mbak yang bilang kalau aku disuruh ngebersihin ruangannya " pinta hafida pada mela sambil menangis


" gue gak ngerasa bilang gitu jangan ngada ngada deh " elak mela


" tapi mbak kan tadi yang nyuruh aku " ucap hafida sambil menangis


" udah deh lo itu ngaku aja jangan bawa bawa nama gue " ujar Mela


" sudah cukup fi jangan mengelak lagi, sekarang kamu pergi dari sini " ucap bu dina


" saya benar benar menyesal pernah menerima kamu " lanjut bu dina


hafida pun segera mengambil tas nya lalu pergi dari cafe ini sambil berlinangan air mata sedang dengan lia dia tak percaya dengan tuduhan itu ia sangat yakin jika ada yang memfitnah hafida


namun dia juga tak bisa berbuat apa apa sementara Mela ia tersenyum senang karena rencananya untuk menyingkirkan hafida berhasil


" ah akhirnya lo pergi juga dari sini " gumam mela dalam hati


lalu dengan hafida ia melangkahkan kakinya dengan berat dia berjalan sambil menangis menyusui trotoar dia tak peduli jika menjadi tontonan orang orang yang berlalu lalang


menutup wajahnya dan menangis hingga khimarnya basah oleh air matanya


" ya allah apa salah hamba hingga ada orang yang tega memfitnah hamba " jerit pilu hafida


hingga langit pun mendadak mendung seolah ikut bersedih atas apa yang menimpa dirinya hingga air hujan pun turun membasahi bumi


hafida terduduk lemas di aspal dengan air mata yang terus bercucuran dengan air hujan yang membasahi tubuhnya


entah berapa lama ia terduduk disitu sambil menangis ia tak peduli jika air hujan membasahi tubuhnya hingga datanglah ibu ibu yang memayunginya


" nak apa yang kau lakukan ditengah hujan seperti ini bangunlah " ucap ibu tersebut

__ADS_1


" lihatlah bajumu saja sampai basah seperti ini " lanjut ibu itu


" rumahmu dimana " tanyanya pada hafida namun nampaknya bibir hafida sulit untuk menjawabnya dia hanya bisa menangis


" baiklah lebih baik kamu ikut ibu ke pesantren kebetulan jaraknya tak terlalu jauh dari sini " ajak sang ibu lalu menuntun hafida berjalan


sesampainya dipesantren umi langsung meminjamkan bajunya kepada hafida agar hafida mengganti bajunya


sedang mira ia bertanya tanya siapa wanita yang dibawa ibu mertuanya ke rumah ia rasa pernah bertemu dengan wanita itu


dan hinggalah ia teringat jika wanita itu adalah wanita yang tengah berbicara dengan azzam kemarin


ia pun berniat untuk menghampirinya namun ia urungkan kembali karena umi sudah datang sembari membawa teh hangat


" ini nak minumlah agar tubuhmu hangat " ujar umi hafida pun lalu mengambil cangkir teh itu dari tangan umi lalu meminumnya


" apa yang terjadi nak sehingga kamu menangis dihujan hujanan seperti itu " tanya umi prihatin


" saya baru saja difitnah mencuri padahal saya tak mengambil uang itu " ujar hafida dengan matanya yang berkaca kaca


" sabar nak ini ujian dari allah " ucap umi


hingga tak lama ponsel hafida berdering ia pun mengangkatnya dan ternyata yang menelpon mamanya


" halo assalamualaikum " ucap mama ranty


" iya Wa'alaikumsalam " ucap hafida


" sayang,, kamu dimana mama khawatir kamu belum pulang " tanya mamanya dengan cemas


" aku dipesantren tepatnya dijalan xxxx " ucap hafida

__ADS_1


" baiklah jangan kemana mana mama akan menjemputmu " ucap mamanya


telpon pun berakhir dan hafida pun baru menyadari jika hari sudah hampir gelap ternyata ia menangis dibawa giliran air hujan sangat lama


tak lama mamanya datang ia langsung berlari memeluk hafida ia sangat khawatir


" sayang kamu kenapa " tanya mama ranty


" tadi aku kehujanan ma " ucap hafida


" kamu tidak bohong kan " tanya mamanya


" sudahlah kamu jelaskan nanti dirumah " ucap mamanya


mama hafida pun menatap ke arah umi lalu mengucapkan terimakasih karena sudah mau menolong hafida lalu mereka pun pamit untuk pulang


" terimakasih bu, sudah mau menolong saya nanti saya akan mengembalikan baju ibu " ujar hafida dengan tersenyum lembut


" iya nak sama sama, dan bajunya simpan saja tak perlu kamu kembalikan " ucap umi


" sekali lagi terimakasih bu " ucap hafida lalu berlalu pergi menaiki mobilnya


" kami permisi dulu assalamualaikum " ucap mama dan hafida dari dalam mobil


" Wa'alaikumsalam " ucap umi


mama ranty pun segera melajukan mobilnya menuju rumah tak lama mereka sampai hafida langsung bergegas ke kamarnya dan mengganti bajunya


dia pun mendudukkan dirinya ditepi ranjang ia menerawang ke luar jendela dengan perasaan sedih hingga mamanya masuk ke kamarnya ia tak menyadarinya


mamanya membelai lembut kepala hafida yang terbalut dengan khimar seketika hafida pun memeluk tubuh sang mama ia menumpahkan tangisnya dipelukan mamanya

__ADS_1


hingga saat ia tenang mamanya bertanya padanya apa yang sebenarnya telah terjadi hafida pun menceritakannya dengan menahan rasa sesak didadanya


" menangislah sayang jika itu membuatmu tenang " ujar mamanya seraya merengkuhnya kedalam pelukannya


__ADS_2