Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 38


__ADS_3

" ada apa bu " tanya pak Hendra


" kamu bisa mengecek cctv didepan kantor " tanya mama ranty


" bisa bu,sebentar saya cek dulu " ucap pak hendra


" bagaimana " tanya mama ranty pada pak Hendra yang fokus pada monitor


" Jika dilihat dari rekaman cctv terlihat mobil yang berhenti dipinggir jalan lalu saat hafida menyebrang mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi " analisa pak Hendra


" astagfirullah, langsung dicopy aja ya pak nanti saya akan menghubungi pengacara " ucap mama ranty


" baik bu, saya akan siapkan semua yang dibutuhkan " ucap pak hendra


sedang dengan rasya dan hafida mereka nampak sesekali berbincang tak berapa lama pengacara yang ditelpon oleh mama ranty datang


mama ranty lalu menyerahkan semua berkas berkas yang sudah disiapkan oleh pak hendra mama ranty dan pak hendra nampak berbicara dengan pengacara tersebut mengenai kronologi kejadiannya sedang pengacara tersebut hanya manggut manggut mengerti


setelah semuanya selesai mama ranty langsung bergegas pulang di dalam mobil hanya ada keheningan hingga hafida pun membuka suaranya


" ma, tadi om farhan... " ucap hafida terpotong


" oh kamu pasti mau nanya kenapa om farhan mama telpon ke kantor " saut mamanya


" jadi... mama mau mengurus kejadian yang menimpa kamu tadi ke pengadilan " lanjut mamanya


" tapi kan aku gpp ma " ucap hafida berpikir jika itu tak perlu


" sayang,, tapi itu sudah termasuk tindakan kriminal jadi kamu nurut aja sama mama " final mamanya


sedangkan hafida ia hanya bisa pasrah dengan mamanya tak lama mereka sampai dirumah


sesampainya hafida langsung pergi ke kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya setelah selesai ia mendudukkan dirinya ditepi ranjang

__ADS_1


dia lalu mengerjakan tugas tugasnya setelah selesai ia turun ke lantai dasar menemui mamanya


dirumah pak hendra


" pah ,aku mau nanya dong " ucap rasya sambil bergelayut manja dilengan papanya


" iya apa " ucap pak hendra


" hafida itu siapanya tante ranty tadi sih tante katanya mau jelasin tapi keknya lupa deh " ucap rasya


" oh itu hafida sebenarnya keponakan bu ranty tapi dia sudah menganggap keponakannya itu seperti anaknya sendiri " ucap pak hendra


" berarti hafida itu anaknya mendiang om ahmad " tebak rasya dibalas anggukan oleh papanya dan perbincangan mereka pun berakhir


dipesantren


mira sudah terbangun dari pingsannya kepalanya terasa berat pusing itu yang dia rasakan bu hana pun dengan sigap menyodorkan air putih ke putrinya


sedang azzam ia bertanya pada uminya apa yang sebenarnya sudah terjadi dia benar benar syok apalagi saat mira menodongkan pecahan kaca kearahnya


" umi juga gak tau sayang tau tau umi dengar suara gaduh dikamarmu jadi umi cek deh ke kamar " ucap uminya


" tapi saat umi mengetuk ngetuk pintu kamarmu mira malah membentak umi agar pergi ya karena khawatir umi cari kamu nak " jelas umi


setelah itu azzam pamit untuk pergi ke kamarnya dia membuka knop pintu kamarnya pelan dan ternyata mira sudah terbangun dan duduk bersandar pada bantal


dia pun berjalan mendekat kearah ranjang dan mendudukkan dirinya ditepi ranjang mira pun menatap kearah suaminya


" mir, sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu ngelakuin hal kayak gitu " tanya azzam


" ini semua gara gara hafida mas, aku kayak begini gara gara dia " ucap mira tanpa melihat kearah azzam


" kenapa kau malah menyalahkan orang lain bahkan dia saja mungkin tak tau denganmu " ucap azzam

__ADS_1


" apa kau kesal mas...? saat aku menyalahkan hafida " tanya mira dengan mata penuh kobaran emosi


" aku tidak kesal hanya saja kenapa kau menyalahkan orang lain " sanggah azzam


" ckk ngaku aja mas,, sudah pasti kamu ngelindungin dia kan dia selingkuhanmu " ucap mira dengan sinis


" apa maksudnya ini nak " tanya bu hana masih belum mengerti


" ibu tau? mas azzam selingkuh bu dengan wanita lain padahal apa si kelebihannya dia bahkan dia hanya pelayan cafe tidak seperti diriku lulusan terbaik kairo " ucap mira dengan sombongnya


" nak, apa ibu pernah mengajarimu sombong " tanya bu hana heran kenapa anaknya ini bisa menjadi orang yang sombong


" ibu lebih membela pelayan sialan itu!!! " ucap mira kesal


" ibu tidak membelanya " ucap bu hana


" dan apa benar zam kamu selingkuh dengan gadis yang disebutkan istrimu " tanya bu hana


" itu tidak benar bu, mira hanya mengada ngada " ucap azzam


" aku tidak mengada ngada memang benarkan setiap pagi kau menemuinya " ucap mira tak mau kalah


" aku tak menemuinya bahkan aku sudah berulang kali mengatakan jika setiap pagi aku mengajar mir apa kau paham " ucap azzam dengan menahan emosinya


" sudah sudah dan nak jangan menuduh suamimu seperti itu apa kamu mau menjadi istri durhaka " nasehat bu hana


sedang mira ia hanya diam saja karena kesal semua orang membela suaminya dan pelayan sialan itu seharusnya mereka mendukungnya


bu hana pun langsung mengajak azzam keluar untuk menanyakan tentang apa yang dikatakan oleh putrinya tadi dia ingin mendengar penjelasan lebih dari menantunya setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi bu hana langsung meminta maaf atas sikap putrinya itu


hari pun berganti dengan malam hafida lalu langsung membantu mamanya menata makanan dimeja lalu memanggil mang ujang untuk makan malam


seusainya makan malam biasanya ia akan bersantai diruang tengah bersama mamanya

__ADS_1


karena dirasa hari sudah mulai larut hafida lalu pamit kepada mamanya untuk pergi tidur


setelah itu dia pun langsung merebahkan tubuhnya diranjang lalu memejamkan matanya tak lama ia sudah terlelap menuju alam mimpinya


__ADS_2