Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 6


__ADS_3

jangan lupa Like dan coment


terimakasih happy reading


"Eh astagfirullah maaf saya reflek sebentar saya penggilkan kakak saya l" ucap Azzam sementara Hafida hanya menganggukkan kepalanya sambil memegangi kakinya yang terasa nyeri akibat terjatuh tadi.


Tak lama azzam pun datang dengan Maulida kakaknya.


"Mari saya bantu berdiri" ucap Maulida.


"Terimakasih" ucap Hafida sementara Maulida hanya tersenyum tipis.


"Zam tolong belikan obat merah diapotik depan sana ya" pinta Maulida.


"Iya kak" ucap Azzam.


Tak lama Azzam datang dengan membawa apa yang diminta kakaknya tadi.


Maulida lalu segera mengobati kaki Hafida yang terluka tadi dengan hati hati.


"Oh ya Zam mobilnya sudah siap belum?" tanya Maulida.


"Oh iya nama kamu siapa? dan dimana rumah kamu?" tanya Maulida.


"Apa jauh dari sini" lanjut Maulida.


"Nama saya Hafida" ucap Hafida.


"Rumah saya ada dijalan xxx tidak terlalu jauh dari sini" lanjutnya.


"Zam sekalian antar ya" ucap Maulida.


"Nggak perlu kak saya bisa sendiri kok" tolak Hafida.


"Sudah tidak apa apa" ucap Maulida.


Azzam hanya menganggukkan kepalanya dan mengantar Hafida terlebih dahulu.

__ADS_1


Mereka sampai tepat didepan rumah Hafida, dia lalu turun dengan dibantu oleh Maulida karena kakinya masih terasa sakit untuk berjalan.


"Terimakasih sudah mengantar saya pulang" ucap Hafida tersenyum manisnya.


"Iya sama sama kalau begitu kamu pergi dulu" ucap Maulida.


Hafida mengangguk lalu berbalik dan menuju ke rumahnya.


Azzam masih fokus menatap Hafida entah mengapa matanya seakan terkunci.


"Zam ayo" ucap kakaknya.


"Ah iya kak" ucapnya lalu melajukan mobilnya.


Tok tok tok


"Loh kaki kamu kenapa kok bisa kayak gini?" tanya tantenya khawatir.


"Oh tadi Fida jatuh tan" ucapnya.


"Lain kali hati hati oke" ucap tante Ranty.


"Iya tan,Fida keatas dulu" ucapnya.


Azzam dan kakaknya akhirnya sampai diponpes walau sedikit terlambat.


Maulida langsung berlari memeluk umi dan abinya karena saking rindunya.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Umi.


"Maaf Umi,tadi sempat terjadi pecah ban dan tak sengaja menyerempet seorang gadis" jelas Maulida.


"Astagfirullah tapi gadis itu tidak apa apa kan nak?" tanya Umi khawatir.


"Hanya sedikit terluka kok tadi juga sudah sempat Lida obati" ucap Maulida.


"Hmm, ya sudah ayo kita masuk" ucap Umi.

__ADS_1


Azzam pergi ke kamarnya, dan membersihkan tubuhnya.


Seusai itu dia duduk ditepi ranjang dan termenung, entah mengapa tiba tiba senyuman manis Hafida terlintas dikepalanya.


Dia memukul mukul pelan kepalanya berharap bayangan sekilas itu menghilang dari kepalanya.


"Astagfirullah kok jadi kepikiran ya" gumamnya lirih.


Dia menggelengkan kepalanya pelan dan menghilangkan pikirannya itu.


Keesokan paginya


Hafida tengah asik memilih gamis yang akan dia kenakan, pilihannya jatuh pada gamis berwarna navy tersebut dan memadukannya dengan hijab senada.


Dia mengambil tas miliknya dan memasukan seragam kerjanya.


Setelah itu dia turun untuk sarapan.


"Pagi Tante" sapanya dengan senyum yang nampak cerah.


"Pagi juga sayang,ayo segera kamu sarapan" balas tantenya.


Hafida mengangguk lalu memakan sarapannya, seusai sarapan mereka bersiap untuk menuju ke kampus yang berada dikota ini.


"Ayo Fi, kamu sudah siap kan" ajak tantenya.


"Iya tan" ucapnya tersenyum manis.


Selama perjalanan menuju kampus Hafida nampak asik memainkan ponselnya,membalas pesan dari kedua sahabatnya Alysa dan Syafa.


"Fi" panggil tantenya.


"Iya tan ada apa" tanyanya menoleh.


"Bisa tidak kamu memanggil tante dengan sebutan mama, sudah lama tante ingin dipanggil mama" ucap tantenya.


Hafida mengangguk lalu tersenyum manis.

__ADS_1


Tantenya memang tak memiliki anak walau sudah menanti selama bertahun tahun.


__ADS_2