Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 95


__ADS_3

sesekali mereka menitikkan air mata saat mengenang itu, sekarang hanya tinggal menjadi kenangan mereka rindu dengan masa masa itu.


mereka bercerita cukup lama hingga saat waktu makan siang mereka pun turun ke bawah.


" maaf ya ma, nunggu lama ". Ucap Hafida


" iya gpp kok udah yuk kita makan bareng ". Ucap Mama Ranty


mereka hanya mengangguk lalu mulai duduk ke kursinya masing masing, Hafida lalu mengambilkan makanan untuk suaminya lalu menyodorkan piring yang sudah dia isi dengan nasi juga lauk pauk itu kepada suaminya.


mereka makan dengan tenang tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali hanya ada suara garpu dan sendok yang saling bersahutan.


seusai makan siang Hafida langsung ke belakang rumah dia menatap semua bunga bunga yang ada di belakang rumahnya dulu itu dengan senang.


dirinya lalu menghampiri mbok minah yang tengah membuang sampai itu, dirinya juga kangen sudah lama tak bertemu semenjak dia menikah.


" mbok ". Panggil Hafida


" EH KODOK LONCAT ". Kaget Mbok Minah


" ya allah neng, ngagetin aja si neng ini untuk mbok gak punya sakit jantung ". Ujar Mbok Minah


" ya, maaf kalau gitu mbok maklum fida kan udah lama gak ketemu sama mbok oh ya kabarnya gimana mbok? ". Tanya Hafida


" alhamdulillah neng mbok sehat, juga selamat ya neng atas kehamilannya semoga lancar sampai lahiran nanti ". Doa Mbok Minah


" Aamiin ya rabb makasih ya mbok doanya ". Ucap Hafida lalu pamit ke depan


dirinya lalu pergi ke depan dan mengahampiri suaminya yang tengah duduk berbincang dengan Papa Hendra.


dirinya tiba tiba ingin makan bakso dikantin kampusnya dulu, dia membayangkan jika bakso yang nampak menggoda itu masuk ke dalam perutnya.


tapi dia ingin jika yang membelikannya itu Papa Hendra bukan suaminya.


" mas, boleh aku minta sesuatu gak? ". Tanya Hafida


" boleh, emang mau minta apa? ". Tanya Azzam

__ADS_1


" eumm aku mau bakso mas di kantin kampusku dulu ". Ucap Hafida


Sedang Papa Hendra yang mendengar pembicaraan antara anak dan menantunya itu tiba tiba perasaannya menjadi tak enak.


sesekali dirinya menatap ke arah Hafida was was terpampang bayangan jika Hafida memintanya untuk membelikan bakso itu.


" ya sudah mas, beliin dulu ya ". Ujar Azzam


" eh, tunggu dulu mas aku gak mau kamu yang beliin aku pengen papa yang beliin ". Ujar Hafida


" papa mau kan? ". Tanya Hafida dengan wajah memelas


" iya nak papa beliin dulu ya ". Ucap Papa Hendra lalu beranjak berdiri


" makasih pa, kamu sabar ya nak kita tunggu kakek beliin kamu bakso ". Ujar Hafida sambil mengelus perut datarnya


setelah menunggu Papa Hendra beberapa menit akhirnya apa yang dia mau datang juga .


dia menerimanya dengan mata berbinar bahagia,dirinya memakan baksonya dengan lahap membuat Papa Hendra tersenyum melihatnya.


**


akhirnya setelah dia berjuang mendapatkan hati Rasya selama sekitar 2 tahun namun selalu ditolak.


perjuangannya akhirnya membuahkan hasil juga,bahagia itu yang Alvin rasakan.


gugup itulah yang dirinya rasakan, takut salah ucap saat ijab kabul itu yang dia takutkan .


" Vin, nak cepet keluar nanti kita telat lama banget sih kamu itu kayak anak cewek aja " . Gerutu Mami Alvin


" aduh iya iya mi ". Ucap Alvin lalu keluar dari kamarnya


" huhh yaudah yuk kita berangkat ". Ucap Mami Alvin


Rasya dia sudah siap dengan kebaya yang melekat cantik ditubuhnya dengan make up yang membuatnya semakin cantik.


senyum bahagia tercetak jelas diwajahnya senyum manis seperti tak surut dari sudut bibirnya.

__ADS_1


dia seketika mengingat dimana dulunya begitu menolak Alvin namun sekarang dia akan menikah dengannya.


dia juga tak menyangka jatuh cinta dengan laki laki yang menurutnya menyebalkan itu,dia tersenyum geli mengingat dimana dirinya menolak Alvin dengan wajah ketusnya.


dia menggelengkan kepalanya pelan sambil sesekali mengingat semua momen dirinya menolak mentah mentah Alvin itu.


rombongan keluarga Alvin sudah terlihat memasuki ruangan dimana acara akad nikah dilakukan.


sedangkan dengan Hafida mereka masih berada dikamarnya karena sedari tadi Hafida bolak balik ke kamar mandi karena mual.


setelah dirasa mendingan dia lalu pergi ke kamar rasya untuk menemaninya.


" Sya,kamu cantik banget ". Ucap Hafida sembari duduk ditepi ranjang


" eumm makasih fi ". Ucap Rasya


" fi aku gugup banget ". Lanjut Rasya


" rileks aja sya, tarik napas panjang lalu buang ". Ucap Hafida


kriet


pintu terbuka pelan, Mama Ranty lalu masuk ke dalam kamar Rasya dia tersenyum lalu duduk disamping Rasya.


" Sya kamu siap siap buat turun nanti ya, karena akadnya bentar lagi mulai ". Ucap Mama rantu sedang Rasya hanya membalasnya dengan anggukan kepala


Acara akad nikah akan segera dimulai sebentar lagi, Alvin lalu mulai menjabat tangan penghulu rasa gugup mulai muncul kembali sampai tangannya pun gemetar karena saking gugupnya dan prosesi ijab kabul pun dimulai.


" Saya terima nikah dan kawinnya Rasya binti Hendra dengan mas kawin satu set perhiasan seperangkat alat sholat dibayar tunai ". Ucap Alvin dengan satu tarikan nafas


" bagaimana para saksi ".


" sahhhh ".


kata sah terdengar menggema diseluruh ruangan Alvin benar benar lega sekarang setelah lancar mengucap ijab kabul.


Rasya lalu turun dengan diapit oleh Mama Ranty juga Hafida disamping kiri juga kanannya.

__ADS_1


dengan anggun dia menuruni anak tangga dan melangkahkan kakinya menuju Alvin yang sekarang sudah menjadi suaminya.


suami? rasanya seperti geli mendengarnya dia tak menyangka sekarang sudah menikah dengan Alvin ini seperti mimpi.


__ADS_2