
"Jika kamu mencintai saya silahkan datang ke rumah" ucap Hafida dengan jantungnya yang berdebar debar.
"Saya dijodohkan dengan anak teman orang tua saya"
"Saya tidak mencintainya"
"Kamu percaya takdir? jika kita memang jodoh, allah akan menyatukan kita" ucapnya.
Azzam hanya tersenyum tipis mendengarnya, hatinya cukup lega setelah mengungkapkan perasaannya.
Matanya memandang lekat punggung Hafida yang mulai menjauh hingga tak terlihat.
"Semoga kamulah yang menjadi takdirku" gumamnya berlalu pergi.
Pagi hari
Hafida merapikan khimarnya lalu meraih tas miliknya dan bersiap untuk ke cafe.
Rencananya ia akan cuti sementara waktu,tidak akan lama mungkin hanya sekitar satu minggu.
"Mama, Fida pergi dulu ya Assalamualaikum " pamitnya seraya mencium punggung tangan sang Mama.
"Wa'alaikumsalam hati hati dijalan sayang" balas Mama Ranty.
Sesampainya diCafe dia langsung menuju ke ruangan bosnya.
Tiba tiba Mela datang menghampirinya dengan gayanya yang nampak angkuh.
"Ehh lo mau kemana?" tanya Mela
"Ke ruang Bu Dina" ucap Hafida singkat.
"Mau ngapain, lo mau nyuri ya?" tuduh Mela dengan mata memicing.
"Saya tidak akan melakukan itu" singkat Hafida dan memilih pergi.
Tok Tok Tok
"Masuk" saut Bu Dina dari dalam.
"Assalamualaikum, Bu maaf saya mau izin untuk cuti apa boleh" ujar Hafida.
"Wa'alaikumsalam Oh iya tentu saja boleh" ucap Bu Dina.
"Terima kasih Bu, kalau begitu saya permisi dulu assalamualaikum" ucap Hafida.
"Wa'alaikumsalam" ucap Bu Dina.
__ADS_1
Hafida melangkah pergi meninggalkan Cafe, dia memesan taksi untuk pulang.
Skip sampainya dirumah.
Keningnya menyerit menatap sebuah mobil yang terparkir rapi didepan rumahnya.
"Sepertinya ada tamu" gumamnya berjalan masuk.
"Sayang kamu sudah pulang?"
"Iya Ma,aku cuma ambil cuti sementara saja kok" jelasnya.
"Apa dia sekretaris Mama?" tanya Hafida.
"Iya benar" ucap Mama Ranty.
Sekretaris mamanya datang untuk memberikan sebuah surat pengalihan kekuasaan.
"Selamat siang nona" sapa sang sekretaris.
"Siang" balasnya dengan senyum mengembang.
"Ini ada surat yang perlu nona tanda tangani" jelas Siska seraya menyodorkan sebuah surat.
Hafida menerimanya dan membacanya seksama.
"Mama? kenapa surat peralihan kekuasaan ini atas namaku? aku belum siap" ucapnya.
"Nona hanya perlu mentandangani saja,dan untuk masalah kepemimpinan perusahaan Ibu Ranty yang akan mengelola sementara" Jelas Siska.
Hafida mengangguk mengerti lalu menandatangani surat tersebut.
"Terimakasih, saya permisi dulu" ucap Siska.
Azzam tengah dilanda rasa gugup, hari ini adalah hari dimana dia akan menentukan pilihannya.
Dia menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan.
Dia melangkahkan kakinya menemui sang Abi untuk memberikan sebuah jawaban.
Azzam mengambil duduk disamping sang Abi.
"Zam ini sudah tiga hari dari waktu yang Abi berikan"
"Bagaimana dengan jawabanmu,Abi harap kamu tidak mengecewakan kami para orang tua" ucap Abi menghela napasnya berat.
"Insyaallah Azzam sudah memiliki jawabannya" ucap Azzam.
__ADS_1
"Mohon maaf saya tidak bisa menerima perjodohan ini,saya mencintai wanita lain" ucap Azzam.
Mendengar penolakan azzam wajah gadis yang akan dijodohkan dengannya langsung berubah muram.
Seketika senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya hilang berganti dengan ekspresi murung.
menyadari perubahan ekspresi wajahnya, ibu dari gadis itu segera menenangkannya.
Sedang dengan Abinya nampak terlihat kecewa dengan jawaban yang dia berikan.
Padahal dia sangat ingin azzam segera menikah.
Apa kurangnya dari gadis itu dia sangat cocok dengan Azzam.
Apa lagi dia lulusan universitas Al-azhar Mesir.
Jika mereka menikah pastinya sangat serasi namun dia tak habis pikir dengan keputusan dari putranya.
"Nak apa kamu yakin menolaknya? coba pikirkan sekali lagi?"
"Abi sangat berharap kamu menerima perjodohan ini" ucap Abi.
Azzam terdiam, dia bisa melihat wajah kecewa Abinya.
Namun mau bagaimana lagi perasaan tidak dapat dipaksa.
Dia hanya mencintai Hafida saja, bahkan jika untuk melupakan cintanya itu dengan paksa itu sulit.
Dia menghela napasnya panjang lalu menatap Abinya dan berkata "Abi, maaf karena sudah membuat Abi kecewa Azzam tidak bisa memaksa hati ini untuk menerima itu sulit"
Mendengar penuturan Azzam gadis yang dijodohkan dengannya nampak semakin murung.
Gadis itu sudah jatuh hati semenjak melihatnya untuk pertama kalinya.
"Tapi nak,seiring dengan berjalannya waktu kamu pasti akan mencintai nak Amira" ucap Abi mencoba membujuknya.
"Tapi Bi, Azzam tidak mungkin bisa mencintai Amira"
" Hati azzam hanya untuk wanita itu" ucap Azzam tetap kekeh dengan keputusannya.
Air mata Amira jatuh, dadanya berdenyut nyeri mendengar pengakuan pria yang telah membuatnya jatuh hati.
Dia sudah berekspektasi tinggi dengan perjodohan ini.
Dia terlalu berharap lebih dengan Azzam,Ia tak tahan lagi ini benar benar menyakitkan.
Amira berlari keluar,Bu Hana langsung mengejar sang putri dia juga khawatir dengan putrinya.
__ADS_1
Hafida syok ketika mendapat kabar jika sang mama kecelakaan ia langsung bergegas menuju ke rumah sakit.