Sebuah Takdir (Revisi)

Sebuah Takdir (Revisi)
bab 89


__ADS_3

lelah, hari ini benar benar melelahkan ternyata dirinya tak bisa membayangkan bagaimana papa hendra yang mengurus perusahaan sendiri saat itu pasti lebih melelahkan lagi.


dirinya lalu beranjak dari acara tidur tidurannya dan beralih ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk sholat setelah selesai sholat dia membuka Al-qur'annya sebentar lalu turun ke bawah untuk makan malam bersama.


" malam ma, pa ". sapa rasya


" malam juga sayang ". balas mama dan papanya


" hmm ya sudah kamu segera duduk ya terus makan makanannya setelah itu temui mama papa diruang tengah untuk bahas pernikahanmu ". titah mama ranty


" iya ma ". ucap rasya lalu duduk dikursinya dan mulai memakan makanannya


mereka menikmati makanannya dengan khidmat ,tanpa ada obrolan yang terselip setelah seusai makan malam sesuai perintah mama ranty rasya pergi ke ruang tengah untuk membahas pernikahannya.


dirinya lalu memilih duduk disamping mama ranty, dan mereka lalu mulai membahasnya tak banyak sih yang dibahas hanya gaun pengantin juga undangan dan yang lainnya sudah diurus oleh para orang tua.


mereka membahasnya tak lama setelah selesai membahas itu rasya langsung pergi ke kamarnya karena sudah merasa mengantuk.


disisi lain alvin harus lembur mengerjakan semua berkas berkas kantor jujur saja matanya ini sudah terasa sangat berat tapi masih ada banyak tumpukan berkas dimejanya .


dia sudah benar benar lelah sekarang dia sudah tak mampu lagi jika harus mengerjakan berkas berkasnya dia lalu segera menutup laptopnya dan membereskan berkas berkasnya lalu segera bergegas pulang.


keadaan kantor sudah sangat sepi hanya ada satpam didepan dan juga dirinya pastinya, ya memang semenjak dirinya mengatakan pada sang papi jika akan segera menikahi rasya papinya langsung melimpahkan semua tugas kantor kepada dirinya.


mau tak mau dia harus menerimanya juga namun papinya kadang kala juga menengok ke kantor sekedar jika ada rapat atau apalah itu.


mobil miliknya sudah memasuki halaman luas rumahnya dirinya lalu segera masuk ke dalam apalagi juga dia sudah benar benar sangatlah lelah.


" assalamualaikum mi, pi ". ucap alvin dengan lemas


" Wa'alaikumsalam ". balas orang tuanya

__ADS_1


" tumben, kamu jam segini baru pulang ". tanya papinya


" aku kan lembur pi, gara gara papi nih nyerahin semua berkasnya ke aku ". keluh alvin


" hahaha,itu berarti nasibmu nak ". tawa papi elvan


sedangkan alvin ia semakin mengerucutkan bibirnya kesal dan berlalu menuju ke kamarnya, dia langsung merebahkan tubuhnya dikasur nyamannya.


benar benar nyaman sampai dirinya tak melepas sepatu juga baju kerjanya yang masih melekat ditubuhnya karena kelelahan.


mami alvin yang menengok sang putra dari celah pintu yang terbuka hanya tersenyum simpul lalu melepaskan sepatu putranya setelah itu dirinya keluar dari kamar alvin dan menutup pintunya pelan agar tak membuat sang putra terganggu.


**


setelah selesai bersih bersih hafida langsung turun kembali dia langsung duduk disamping sang suami ,lalu mengambilkan makanan dan menyerahkannya pada azzam dengan tersenyum manis.


" terimakasih sayang ". ucap azzam sambil menerima piring berisi nasi juga lauk pak itu


mereka lalu mulai memakan makanannya dengan tenang tak ada pembicaraan disela selanya hanya terdengar suara sendok garpu yang saling beradu.


setelah selesai makan malam hafida langsung membereskan bekas bekas piring kotornya dan membawanya ke wastafel untuk dicuci .


setelah itu dia langsung pergi ke kamarnya menyusul sang suami yang sudah pergi ke kamar dulu setelah makan malam tadi.


pintu kamar terlihat terbuka azzam lalu menoleh ke arah sang istri yang tengah mengganti baju itu dia lalu berdiri dan memeluknya dari belakang.


" masss!! ". panggil hafida


" iya kenapa sayang ". tanya azzam seraya mengeratkan pelukannya


" eumm kamu gak marah kan kalau aku belum hamil ". ujar hafida sambil menunduk

__ADS_1


" kamu itu ngomong apa sih ,lagian kita baru nikah sebulan sayang udah ya jangan ngomong kaya gitu lagi aku gak suka ". ucap azzam sambil mengecup sekilas bibir milik istrinya


hafida lalu beralih memeluk suaminya itu dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik azzam .


dia sudah lebih tenang sekarang setelah mendengar penuturan dari sang suami,mungkin memang belum waktunya mereka memiliki momongan.


awalnya dirinya stres memikirkan hal itu karena pertanyaan dari tetangganya kala itu kenapa dirinya belum hamil juga itu membuat dirinya kepikiran terus.


jika memang sudah waktunya dirinya pasti akan segera diberi momongan oleh yang kuasa.


satu bulan telah berlalu semenjak itu hafida sama sekali tak memikirkan kenapa dirinya tak kunjung hamil sekarang dia menyerahkan semuanya pada sang kuasa.


hari ini kebetulan weekend dirinya berencana untuk mengajak sang suami pergi ke panti dirinya juga rindu dengan anak anak karena juga sudah lama dirinya tak kesana.


dirinya hanya mengirimkan uang juga kebutuhan para anak anak saja, karena sibuk mengurus suami juga kantor dirinya jadi tak sempat kesana.


dan mumpung hari ini libur dia akan kesana menghabiskan waktu disana bersama para anak anak.


" mass!! maass!! ". panggil hafida


" iya sayang ada apa ". saut azzam sambil berlari mengampiri hafida


" kita ke panti yuk aku udah lama gak kesana ". ajak hafida


" panti? ". tanya azzam


" iya mas dulu aku ngediriin panti karena aku kasihan lihat anak anak yang masih usia sekolah itu harus bekerja apalagi dengan kondisi tempat tinggal yang tak layak ". jelas hafida


" ya allah baik banget sih istriku mas gak salah deh jadiin kamu istri ". puji azzam


" udah deh mas gak usah muji muji mending kamu mandi sekarang aku tunggu dibawah ". ucap hafida sembari mendorong pelan punggung sang suami

__ADS_1


" iya sayang gak sabar banget sih ". gemas azzam seraya memberikan ciuman diseluruh wajah sang istri


__ADS_2