
ke adaannya Diki saat ini sudah mulai terlihat lebih baik , ia sudah bisa sedikit menggerakkan kakinya, cuma sedikit tapi itu adalah perkembangan yang sangat bagus, bahkan mereka semua sangat bersyukur karena berarti ada harapan jika Diki tidak lumpuh seumur hidup,
tak Terasa sudah berbulan-bulan lamanya Alzam dan Syifa berada di Jakarta di kediaman keluarga Sanjaya, karna kejadian waktu itu hingga kini mereka masih berada di sana, Syifa sudah sangat kangen pada kedua orang tuanya, adiknya juga Sahabatnya,
"mas kapan kita pulang ke kampung...?"tanya nya pada sang suami, berharap agar supaya suaminya itu mau di ajak pulang kampung,
"sabar sayang, bukannya kandunganmu masih rentan jika perjalanan jauh...?" Syifa memang sudah hamil 3 bulan, diusia pernikahan mereka yang memasuki bulan ke enam ini.
" tapi kita sudah lama disini mas, aku jadi kangen sama ibu dan ayah." ucapnya agak cemberut, suaminya itu selalu menunda untuk pulang ke kampung halaman yang selalu ia rindukan itu. sebenarnya mereka berencana akan segera kembali beberapa hari setelah masalah bang Diki sudah selesai saat itu, namun karena Syifa ternyata diketahui hamil, jadi Alzam tak ingin menjadi sebuah resiko jika perjalanan jauh.
"maaf ya dik, tunggu beberapa hari lagi, setelah dokter memeriksa dan memperbolehkan kita perjalanan jauh, baru kita pulang kampung sayang." ucapnya sambil mengusap lembut perut sang istri yang sudah terlihat agak mengeras meski masih belum terlihat membesar
"beneran ya Mas beberapa hari lagi kita harus pulang kampung jangan ditunda lagi "ucap Syifa lirih
"Iya beneran sayang mas janji setelah dokter membolehkan pasti kita pulang kampung oke, sekarang adek istirahat dulu ya agar tidak kecapean dan baby sehat terus di dalam perut Mama" terus mengelus perut sang istri.
"ayo mas antar sayang" kemudian mereka menuju kamar mereka setelah lama berada di taman belakang rumah mereka. saat melewati ruang tamu dan ruang tengah mereka berdua melihat Diki yang sedang menterapi sendiri kakinya untuk bisa bergerak dan kuat mengangkat sendiri.
"sendiri bang? "tanya Azzam pada Abangnya itu karena melihat Diki tanpa suster ataupun pelayan yang mendampinginya
"Iya Nih zam lagi melatih, siapa tahu aja nanti cepat sembuh " ucapnya berharap bisa sembuh kembali seperti semula
"Iya bang siapa tahu Abang cepat sembuh Dan semoga harapan Abang terkabul, dikabulkan oleh Allah Aamiin."
__ADS_1
"oh iya kalian dari mana...?" tanya bang Diki pada Alzam dan istrinya
"kami dari taman belakang bang, sedang cari angin, dan lihat pemandangan aja biar tidak jenuh selalu di kamar," jawab Syifa mendahului sang suami saat mau menjawab pertanyaan dari bang Diki.
"bagaimana kandunganmu adik ipar...? keponakan Om baik-baik saja kan...? " tanyanya pada adik iparnya itu,
" Alhamdulillah sudah tidak seperti awal-awal hamil bang, sekarang Syifa tidak lagi selalu muntah dan meriang seperti pertama kali"jawab Alzam
"Alhamdulillah kalau begitu zam, jaga baik-baik istrimu agar supaya kandungannya tidak terganggu dan sehat-sehat saja"
"pasti bang , setiap hari juga Abang, mama dan papa selalu mengingatkan agar Alzam menjaga Syifa."
"ya karena di awal kehamilan itu sangat rentan, makanya banyak para wanita yang hamil muda itu selalu dituruti oleh suaminya agar supaya tidak tertekan dan tidak menjadi masalah untuk kandungannya"ucapan bang Diki sedikit menyentil hati Alzam, karena tadi Syifa sangat menginginkan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya Apakah itu akan menjadikan beban buat sang istri?' pikirnya
"hemm" di sepanjang perjalanan menuju ke kamar Alzam masih memikirkan ucapan sang Abang, jika seorang wanita hamil muda tidak boleh tertekan agar supaya kandungannya tetap sehat-sehat saja, ia jadi takut Syifa tertekan karena ia melarang untuk pulang kampung "sayang maafin mas ya kalau mas tidak bisa menuruti keinginanmu untuk pulang kampung secepatnya, karena mas sangat menyayangimu sayang, bukan mas tidak mau menuruti keinginanmu, tapi kata dokter saat pertama kita periksa waktu itu, dokter tidak memperbolehkan untuk perjalanan jauh " ucapnya panjang lebar pada sang istri ia ingin sang istri mengerti bahwa ia bukan tidak menurutinya tetapi demi kebaikannya juga,
"iya Mas santai aja kali, Syifa juga ngerti kok kalau Mas bukan tidak menuruti keinginan syifa, tapi memang demi kebaikan syifa dan baby kita kan?"
kini mereka sudah sampai di kamar Syifa merebahkan dirinya di atas kasur karena memang saat ini sudah sore jadi ya hanya ingin istirahat saja bukan untuk tidur tapi untuk merebahkan diri saja di atas kasur
"kamu istirahat saja di sini ya sayang, mas tinggal dulu sebentar untuk menemani bang Diki, kasihan dia yang terapi sendiri tanpa ada pendamping sayang "
saat ini kedua orang tua Alzam memang sedang pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis mereka yang bekerja sama dengan pihak perusahaan besar disana, karena perusahaan mereka sempat akan bangkrut waktu itu tetapi Alhamdulillah kini sudah bisa terkendali karena keluarga Yasmin tidak lagi berkecimpung pada perusahaan mereka.
__ADS_1
"Iya Mas silakan saja biarkan Syifa tiduran dulu di sini "
"Mas tinggal ya sayang cups" mengecup kening Syifa kemudian berlalu setelah Syifa menjawab iya
"loh kenapa kamu kembali lagi zam ...? sana temani istrimu kasihan dia sedang hamil " ucap bang Diki pada Alzam karena melihat alzam sudah berada di sampingnya saat ini
"nggak papa bang, tadi Syifa juga sudah mengizinkan agar Alzam menemani Abang di sini "
"gimana perkembangannya bang ? apa sudah bisa mengangkat dengan sendiri nya.?"sambil memegang betis sang kakak
"Alhamdulillah semakin hari semakin banyak perkembangannya zam"
"oh iya bang apa Abang tidak ada keinginan untuk menikah lagi? maaf bang, tapi jika Abang menikah, akan ada istri yang menemani Abang dan merawat Abang" bukan apa alzam berkata seperti itu karena ia melihat sang abang selalu sendiri, dan tanpa ada istri yang mendampinginya
"Apakah masih ada wanita yang mau menikah sama abang yang lumpuh seperti ini zam? "terlihat jelas di matanya, Aura kesedihan dan juga harapan
"pasti ada bang jangan pesimis, karena abang tidak lumpuh seumur hidup dan pasti akan ada wanita yang tulus menyayangi Abang" ucap Azam menenangkan sang Abang
"kamu tidak perlu mengkhawatirkan Abang zam, biarkan saja Abang seperti ini dulu, mungkin saja Abang segera sembuh Dan setelah sembuh nanti abang akan mencari wanita untuk abang nikahi"
"bagaimana Alzam tidak khawatir bang? sedangkan sebentar lagi Alzam akan pulang ke kampung, karena kami sudah mempunyai rumah di sana, sedangkan mama dan papa masih memperbaiki hubungan bisnis dengan pihak perusahaan luar negeri "
"ah itu tidak masalah karena masih banyak pembantu di sini dan juga penjaga serta para bodyguard di rumah ini" ucap Diki menenangkan sang adik yang khawatir terhadapnya. kemudian alzam memeluk sang kakak Ia berharap ada wanita yang tulus menyayangi dan mencintai kakaknya ini.
__ADS_1