
ustadz Zafir sudah mendapatkan restu dari orang tuanya, untuk berada di rumah sang istri, menetap di kampung halaman kakek nya memang itu yang menjadi keinginan ustdz Zafir dari dulu,ia memang bercita cita untuk meneruskan dakwah dan perjuangan sang kakek disana,.
sementara itu Alzam dan Syifa saat ini masih pulang ke rumah ustdz Zafir,karna besoknya masih ada resepsi,jika setelah resepsi selesai,Alzam akan langsung membawa Syifa ke Jakarta dimana orang tuanya berada untuk mengenalkan sang istri pada orang tua nya,namun ia berkeinginan menetap di daerah yang tak jauh dari tempat ustdz Zafir,ia sudah berencana akan membeli rumah yang dekat dengan restoran Zz,dan menetap disana.
kita lupakan sejenak rumah tangga Syifa+Alzam
di lain tempat, Romi dan Andika tidak bisa hadir di acara ijab qobul sahabat mereka,karna Andika ada jadwal rapat penting, yang tidak bisa di wakilkan, mengingat dirinya hanya sendirian mengurus semua nya saat ini,biasanya ia di temani oleh Alzam, terkadang juga bang Dikin yang membantu nya. restoran Zz saat ini sudah mulai mempunyai 2 cabang,jadi begitu sangat sibuk jika hanya sendirian.
sedangkan Romi sendiri masih baru pulang dari pesantren karna ia memang sudah izin hanya akan ikut di resepsi besoknya saja toh acara yang digelar besar dengan tamu undangan itu besok pagi nya. sedangkan di acara ijab qobul hanya di hadiri oleh keluarga dan beberapa sanak saudara yang lain.
*
POV ustdz Zafir
setelah selesai ijab tadi mertuaku meminta kepadaku untuk menetap di dirumahnya, yang kini sudah menjadi rumahku juga. aku mengira akan tinggal di satu rumah yang sama dengan mertuaku namun aku salah,beliyau telah menyiapkan rumah tempat yang akan kami tinggali berdua, dan berada di samping rumah mertuaku, kini kami telah sampai di sini,rumah yang akan kami tempati berdua dengan istriku,
"Nak sekarang rumah ini dan juga istrimu sudah menjadi hak mu,bapak hanya ingin kamu menjadi imam yang akan membawa putri bapak dan kami semua menuju ke surga Allah Nak."kata mertuaku saat kami baru masuk dirumah ini.aku tersenyum dan mengangguk "insyaallah bah" ucapku memanggil beliau sama dengan memanggil abahku sendiri. tak ku sangka beliau langsung mendekapku dan mengatakan"terimakasih Nak,kamu telah hadir di antara kami, dan terimakasih tanpa harus menunggu lama untuk memberikan kebahagiaan itu pada kami" aku masih tertegun,dan melirik istriku yang masih setia di depan pintu ia terus menunduk
"kami pulang dulu Nak, bimbinglah istrimu jika dia salah Nak. dan jangan bosan memberinya nasehat" ucap ibu mertuaku. aku pun menyalami tangan keduanya,yaa walaupun rumah kami bersebelahan, tapi mungkin beliyau akan jarang kesini jika tidak ada perlunya.
"enggeh ummi insyaallah" jawabku lagi.kemudian mereka berdua melangkah menuju istriku dan memeluknya sambil berkata "ingatlah tadi Nasihat yang di sampaikan mertuamu Nak. jangan sekali kali membantah suamimu" istriku mengangguk dan menyalami kedua orang tuanya juga "zahira mohon restu ibu dan bapak.,dan doakan kami bahagia hattal akhirat pak buk."katanya lirih namun masih terdengar sangat jelas di telingaku.
"assalamualaikum"
"wa alaikum salam" jawab kami
karna hari ini masih terlalu pagi menurutku,aku berniat berganti pakaian dan membersihkan diri dulu.namun aku melihat istriku masih belum beranjak dari tempatnya.saat ini jam 10:30 wib setelah mertua keluar dari rumah ini ,aku berjalan menghampiri istriku yang masih terlihat gugup dan salah tingkah.ia terlihat sedang meremat tangannya sendiri
"assalamualaikum zaujatii.(istriku)"ucapku lembut
"wa.. alaikum salam ya zaujii (suamiku)" gugup
__ADS_1
"Mari duduk"aku menuntun nya ke sofa di ruang tamu itu,ia sangat terlihat jika sedang gemetar saat ini,
"wahay istriku apakah aku begitu manakutkan..?hingga tak sedikitpun engkau mau melihat wajahku..?.apa sebegitu tidak inginkah kamu menikah dengan pria duda ini..?" aku bercanda berniat memecah suasana yang canggung ini setelah kami duduk disofa berdampingan. namun reaksinya sangat tidak terduga, membuatku begitu terkejut
POV end
*****
POV Ayra
setelah kami sampai dirumah yang telah bapak hadiahkan untuk kami,aku merasa sangat gugup, malu , hawatir dan segala macam rasa takut kurasakan saat ini.aku meremas tanganku erat agar sedikit mengurangi kegugupanku namun beliyau langsung mendatangiku yang masih setia berdiri di dekat pintu rumahku sendiri. "mari duduk" ia menggenggam jariku,Suara nya membuatku terlena dibuatnya.sampai di sofa beliyau mengatakan sesuatu yang membuatku merasa sangat bersalah, beliyau bertanya Apakah ia menakutkan...? dan apakah aku tidak ingin menikah dengan pria duda..,,?
sepontan Akupun langsung menjawab pertanyaan beliyau dan memandangnya dengan tatapan yang mengagumi. " jangan berkata seperti itu ustdz,karna diri ini terlalu mengagumi keindahan sosokmu, kelembutan hati dan suaramu,dan pesonamu yang di hias dengan ilmu,"aku mengambil tangannya lalu kucium berkali-kali "rasanya tak pantas diri ini mendampingi sosok sempurna seperti ustdz, zahira terlalu malu" Akupun langsung menunduk kembali tapi beliyau dengan lembutnya membelai rambutku yang masih tertutup hijab dengan sempurna dan seraya mengucapkan doa,.lalu ia pun mencium keningku agak lama. 'Allah ini sungguh luar biasa terlalu indah ya Robb'
POV end
*
"Hem,, bukankah ustdz sudah tau namaku...?"pipi ayra sudah sangat merona.mereka berbincang di sofa ruang tamu rumahnya, bahkan sampai saat inipun mereka belum mengganti pakaian ataupun membersihkan diri masing-masing
"tapi aku belum pernah tau darimu sendiri zaujatii" sungguh sangat manis kedengaran nya.
"em,,namaku ...,.,,em,,,klo ustdz duluan bagaimana..?"
author:Ayra ...ayra...,ingin berkenalan saja,malu malu meong.gaskeun lah Ay...
Ayra: ah othor belum tau aja gimana rasanya..? gerogi banget tauuuu..
"hahahaha, boleh ,.tapi kenapa kamu memanggilku ustdz...?"tawanya renyah dan enak di telinga.bukan tertawa terbahak bahak.
"lalu aku harus memanggil apa ustdz...?"entah kenapa Ayra selalu merasa berbunga-bunga hatinya.
__ADS_1
"e..hubby mungkin..,,,!" ucapnya sambil tersenyum menampilkan gigi gingsulnya,oh begitu tampan nya sampai Ayra ingin sekali rasanya menggigit bibirnya yang sangat mungil itu.namun ia masih bisa manahannya untuk saat ini.karna rasa malunya melebihi naf-sunya
Ayra juga tersenyum menampilkan keAyuannya. yang juga sangat tampak cantik dan imut, jika didekat nya ini sangat terlihat sekali ia sama dengan ZARAA. ,'mungkinkah ia memang zaraa tapi kenapa namanya Ayra zahiraa..?' pikir ustdz Zafir.
"astaghfirullah" ucap ustdz Zafir sepontan dan mengusap wajahnya.ia tidak ingin mengingat orang lain yang bukan mahramnya, apalagi saat bersama dengan istrinya,
"ada apa ustdz...?"tanya Ayra yang juga kaget, karena mereka tadi saling tersenyum bukan..? lalu mengapa tiba-tiba ia beristighfar..?
"ah tidak bukan apa-apa.maaf telah mengagetkan mu,"suasana yang sudah mulai mencair kini terasa memanas kembali.tercipta kecanggungan di antara mereka berdua
"ah maaf aku mau ke kamar mandi dulu..,mau bebersih dan berganti pakaian,apa kamu tidak gerah...?" tanya ustdz Zafir pada Ayra yang tampak canggung
"silahkan ustdz lebih dulu,kamar mandinya ada di sebelah sana,namun jika ustdz ingin berganti pakaian, sebaiknya di kamar mandi yang ada di kamar saja" ucap Ayra menjelaskan secara detail.dan menunjukkan kamar mereka,
"em,, terimakasih zaujatii...,,mari kita ke kamar bersama.." ajak beliyau
"eh....,,terhenti sebentar
"maksudnya agar kita pergi bersama dan bisa gantian nantinya." ucap ustdz Zafir lagi.
Ayra malu,sangat malu.pasalnya baru kali ini ia akan tinggal bersama di kamar yang sama, dan dengan seorang pria yang bukan bapak ataupun adiknya,
"emm,,mari ustdz,biar kusiapkan baju ganti nya dulu,"
"ya Allah..., bukan kah aku belum membawa baju-baju kesini..?"
"Alhamdulillah disini sudah disiapkan beberapa pasang ustdz,"
"Alhamdulillah,mari ..aku sudah terasa sangat gerah."
hallo semuanya,masih mau lanjut...???
__ADS_1
jangan lupa like komen dan hadiahnya ya kak 🥰🥰🥰