
" sayang mas lepas yaa...." ustadz Zafir tidak ingin sang istri belum tuntas jadi ia menghargai itu, karna sejatinya seorang perempuan akan mencapai puncak terlebih dahulu,dan akan selesai lebih akhir dari seorang laki-laki.
bukannya menjawab sang suami, Ayra malah mendekap semakin erat tubuh suaminya, bahkan kedua kakinya ia tautkan di atas pinggul sang suami, seperti bantal guling saja ustdz Zafir sekarang, tidak bisa terlepas dari jeratan sang istri, hingga membuat sang suami kembali tersenyum, "sayang...apa Dinda tidak capek dalam keadaan seperti ini...hmmm...?" sambil mengecupi pipi dan dahi sang istri yang terlihat begitu cantik dan imut itu,
Ayra hanya menggeleng dengan pertanyaan sang suami, ia sepertinya tidak ingin melepaskan pelukannya, malah sekarang ia meletakkan kepala ustdz Zafir di kedua buah khuldinya , siapapun itu jika di suguhi hidangan yang lezat dan istimewa seperti itu tidak akan menolak, apalagi sudah jelas halal dan bahkan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dan lebih banyak, daripada ibadah yang lain. Begitu juga dengan ustadz Zafir, ia menuruti keinginan sang istri meletakkan kepala nya di buah kenyal tersebut, bahkan ia menduselkan pipinya di sela kedua buah itu, hingga semua itu merang-sang kembali benda lunak yang semula sudah tertidur, kini terbangun dan tegak kembali, ustdz Zafir mulai menggerakkan benda lunaknya sedikit dan melu-mat lembut bibir sang istri, Ayra masih tetap menautkan kedua kakinya, bahkan ia tau jika sang suami mulai tegangan lagi, Ayra semakin mende-sah manja yang membuat ustdz Zafir bertambah semangat untuk mendaki kembali,
yah bahkan di saat pertama kali mereka melakukannya saja, sudah dua ronde tanpa jeda, lalu bagaimana di hari hari berikutnya...?
kini mereka sudah selesai dengan aktivitas luar biasa itu, ustdz Zafir sendiri juga terheran dengan tingkah sang istri yang sepertinya sangat posesif terhadap dirinya, sebelumnya sang istri selama seminggu bersama tak ada tanda-tanda akan se posesif ini, tapi sikapnya berubah semenjak mereka pergi ke restoran kemaren,
__ADS_1
"sayang apa yang terjadi pada Dinda...?" tanyanya pada sang istri yang sudah terlelap dalam tidurnya, mungkin karna kelelahan atau karna banyak mengeluarkan energi, bahkan saat inipun dalam tidurnya sang istri masih terus memeluk erat tubuh sang suami, setelah percintaan mereka tadi ustdz Zafir hanya ke kamar mandi sebentar saja untuk membersihkan diri dan berwudhu kembali, namun terlihat sang istri yang berkaca-kaca saat akan di tinggalkan, padahal ia hanya ingin bebersih saja.
"sayang ... meski kita di jodohkan, tapi rasa cinta itu datang dengan cepat menghampiri mas, jadi Dinda jangan risau dengan semua itu," ia masih mengelus lembut rambut dan sesekali mencium pipi Ayra.
**
saat pulang dari restoran Zz, aku selalu takut, takut jika suamiku akan di ambil orang, aku bukan ragu pada suamiku, tapi karna pelakor semakin merajalela, aku bertekad untuk menyerahkan mahkota berhargaku malam ini juga, saat kutunggu suamiku sampai lebih 30 menit belum ada tanda-tanda akan menyentuhku, aku sudah bertekad untuk bertanya sesuatu hal sang sangat pribadi, namun karna tak kunjung juga bertanya, ternyata suamiku menciumiku terlebih dahulu, aku sangat bahagia, dan tidak ada keraguan untuk segera mengimbanginya. entah bagaimana dan dengan cara apa, hingga saat benda lunak itu masuk kepalanya saja tak terasa sakit sedikitpun, tapi suamiku berhenti sejenak namun tetap merang-sang den cum buannya hingga aku sendiri sudah tak tahan dan menekankan milikku sendiri, walau kata semua teman-teman di sekolah dulu ataupun di pesantren jika semua itu akan terasa sakit saat pertama kali, tapi aku tidak takut akan hal itu, aku malah lebih takut jika kehilangan orang yang saat ini berada di atasku ini. kutekan miliknya hingga masuk sempurna tapi karna kinerjanya yang mengagumkan dan sepertinya beliyau sudah sangat lihai, aku tak merasakan sakit sama sekali, bahkan sampai kami sudah usai, aku tidak ingin melepaskannya, kurangkul beliyau dan ku tautkan kedua kakiku di atas pinggulnya, apalagi saat beliau bertanya apakah sudah mau di lepas..? seperti mendapat angin segar, aku langsung menggeleng dan mendekapnya erat sampai kami kembali merambah kembali kenikmatan yang hakiki itu, aku sudah capek dan mengantuk tak terasa Akupun terlelap masih dalam rangkulannya walaupun sempat sebelumnya ia tinggal ke kamar mandi tapi tak lama ia kembali.
POV off .
__ADS_1
waktu berjalan begitu cepat bagi mereka yang sedang memadu kasih, namun terasa begitu lambat bagi mereka yang merindu.
semenjak kakaknya menikah, Raffa yang biasanya suka humoris itu , sekarang malah lebih pendiam, entah apa yang ia pikirkan saat ini. yang jelas kedua kakaknya sudah berumah tangga dan mereka semua di jodohkan oleh kedua orangtuanya, namun apakah Raffa akan sama nasipnya seperti kedua kakaknya...?
sedangkan Iqbal tak memikirkan hal hal tentang rumah tangga, menurutnya meski begitu banyak orang yang sudah mengatakan bahwa dia sudah sepantasnya berumah tangga, tapi tidak ia hiraukan selama dia masih di jalur aman,. ia ingin mengejar karir terlebih dahulu sebelum terjun menjadi imam dalam rumah tangga.
ke esokan paginya saat jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari Ayra Terjaga dari tidur nyenyak nya. ia melihat ke sekelilingnya dan ternyata sang suami sudah berada di tempat biasanya, dia atas sajadah dengan tasbih di tangannya, entah jam berapa beliyau bangun..,bahkan saat tidur pun ia tak tau, karna ia tidur duluan ,' eh tunggu...apa tadi malam aku sedang bermimpi.... kembali menyatu dengan suaminya di tengah malam yang sudah larut...? bahkan kami melakukannya dua kali lagi seperti sebelumnya..? ah tapi gak mungkinkan..aku memaksanya lagi...,," Ayra tak percaya jika dalam satu malam ia bisa melakukan rutinitas suami istri sebanyak 4kali. ia menggeleng kepalanya sendiri dan menepuk-nepuk dahinya " pasti yang terakhir itu cuma mimpi" ucapnya kemudian ia beranjak dari tempatnya dan bergegas ingin berdiri tapi seluruh tubuhnya seperti remuk, ia tak kuat hanya untuk sekedar berdiri saja, bagaimana ia bisa berjalan ke kamar mandi..? padahal saat ini ia sangat ingin buang hajatnya. Ayra melirik kearah sang suami yang masih tak terusik dengan ringisannya, mungkin ia sedang terfokus pada sang maha pencipta, Ayra duduk lagi dan masih mencoba untuk berdiri kembali dengan memegang pinggiran dipan, ia mulai melangkah satu langkah, bukan sakit di area sensitifnya namun sekujur tubuhnya lah yang terasa tak bertulang, lesu lemas dan letih. tapi karna ia sudah tidak tahan lagi, ia tertatih-tatih untuk bisa mencapai pintu kamar mandi tanpa harus mengganggu ibadah sang suami, Ayra tak ingin suaminya itu membantunya untuk kekamar mandi karna ia merasa sangat malu dengan ke adaannya saat ini, yang sangat berantakan dengan rambut yang acak-acakan, bau anyir dimana-mana terutama pada bagian intimnya ,cukup ia malu saat tadi malam mengajaknya mengarungi samudera bersama saja. apalagi dialah yang sangat antusias dengan kegiatan itu dan juga sangat agresif. membuatnya merona jika mengingat kembali percintaannya itu.
jangan lupa like komen dan hadiahnya ya kakak.🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😘😘
__ADS_1