SUAMI HAYALAN JADI KENYATAAN

SUAMI HAYALAN JADI KENYATAAN
PULANG KE KAMPUNG HALAMAN


__ADS_3

3 hari berlalu begitu cepat hingga kini Alzam dan Syifa bersiap untuk pulang ke kampung halaman, syifa sungguh sangat bahagia setelah dokter membolehkan jika dia sudah bisa mudik, dan menyatakan jika kandungan Syifa sudah kuat, tapi harus benar-benar diperhatikan agar tidak terjadi benturan keras atau terpleset, sebab jika itu terjadi, maka kandungan Syifa bisa saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,. " sayang apa semuanya sudah selesai dikemas..?" tanya syifa pada sang suami, karena semenjak ia hamil semua keperluan yang biasa di kerjakan oleh Syifa , semua di ambil alih oleh Alzam, ia Sangat mengagumi kesabaran sang suami menghadapi semua kebawelannya dan kecerewetannya di awal-awal ia hamil,


"Alhamdulillah sudah sayang, dan tinggal berangkat saja," ucapnya sambil tersenyum, Alzam melihat sang istri yang sangat bahagia itu, iapun juga merasakan kebahagiaan yang membuncah melihat kebahagiaan Syifa.


"apa adik sangat bahagia??'' tanyanya pada sang istri sambil memegang tangan sang istri


''banget Mas, siapa sih yang nggak bahagia kalau akan pulang ke kampung halaman dan bisa bertemu dengan kedua orang tua??'' ucap Syifa tanpa menyadari jika sang suami akan meninggalkan kampung halamannya sendiri, dan meninggalkan keluarganya yang berada di Jakarta ini.


"ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat'' ucap Alzam tidak menampakan jika iya bersedih karena akan meninggalkan bang Diki yang sedang tidak begitu sehat sendiri di rumah selagi kedua orang tuanya belum pulang dari luar negeri. tapi Iya juga tidak mau menunda lagi jika Syifa selalu menginginkan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, apalagi ia sudah berjanji jika akan pulang kampung setelah pemeriksaan dan diperbolehkan oleh dokter.


"Hem ayoo mas," akhirnya Syifa dan alzam pun sudah sampai di ruang keluarga di sana sudah ada Diki yang menunggu mereka berdua


" bang .., Alzam pamit ya... maaf,, Abang sendiri di sini dan alzam tidak bisa menemani Abang" Alzam memeluk sang Abang yang setia berada di kursi rodanya itu.


"ah tak apa zam, mungkin mama dan papa 2hari lagi sudah pulang, kamu hati-hati ya nyetirnya, jika capek atau ngantuk segera istirahat, jangan memaksa untuk terus mengendarai mobil,. lagian kenapa gak nerbang aja sih..?"tanyanya


"Syifa masih takut bang, gak papa kok, kami akan istirahat jika lelah" melepaskan pelukannya dari sang Abang.


" jaga diri Abang, Alzam akan bantu mengurus perusahaan dari sana, Abang kirimkan saja lewat email pada Alzam."


"hemm,, pasti " menepuk-nepuk lengan sang adik, kemudian Syifa juga berpamitan pada bang Diki dengan menangkupkan kedua tangannya

__ADS_1


"assalamualaikum"


"wa alaikum salam hati-hati."


"iya bang, Abang juga jaga diri ya.." Diki tersenyum dan membalas lambaian tangan sang adik , saat Alzam sudah berangkat dengan mobil mewah milik Alzam sendiri dan kini sudah tak terlihat lagi, barulah Diki bersedih, bahkan ia merasa sangat sedih ditinggal oleh adik satu-satunya yang memang selama ini mereka berdua selalu bersama sejak kecil tapi saat ini sang adik sudah mempunyai istri bahkan sebentar lagi akan mempunyai anak, ia tidak boleh egois untuk selalu menginginkan selalu bersama sang adik, ia sadar bahwa semua sudah tak seperti dulu, apa lagi saat mengingat kembali tentang dirinya yang lumpuh bertambah banyaklah kesedihan itu di wajahnya.


" tuan muda pertama, mari bibi antar kekamarnya tuan," seorang pelayan menghampiri Diki yang sedang berada di teras dan melamun sendirian.


"ah ia bi... terimakasih" ucapnya pada bibi yang selama ini selalu menjadi pelayan yang setia sejak Diki masih kanak-kanak, bahkan ia sudah benar-benar menganggap bi Ririn bagian dari keluarga besarnya.


" tuan muda, apa ada sesuatu yang tuan muda inginkan...?" ucapnya setelah sampai di kamar Diki.


" tidak ada bi,, terimakasih ya bik,. o...yaa gimana kabar anak bibi di pesantren...?" Diki ingat jika bi Ririn punya anak yang mondok bahkan sampai saat inipun Diki tidak pernah sekalipun melihat dan mendengar bi Ririn izin untuk mengirim atau mengunjungi anaknya.


"apa bibi tidak pernah sekalipun mengunjunginya di pesantren..?"


"terakhir kali satu tahun yang lalu tuan muda,"


"satu tahun lalu..? kenapa bibi tidak pernah berkunjung ke sana..? apa bibi tidak kangen...?''


" kangen sekali tuan muda, tapi karna beberapa bulan ini bibi tidak sempat mau izin, karna beberapa kejadian yang menimpa keluarga tuan besar, jadi bibi urungkan niat bibi untuk mengunjungi putri bibi tuan muda."

__ADS_1


"maafkan Diki ya Bi, karena Diki bibi jadi tidak mengunjungi putri bibi, tapi bibi selalu mengirimkan uang yang cukupkan buat dia..?''


" Alhamdulillah, klo uang tidak pernah sekalipun telat tuan muda, tiap tanggal satu atau dua bibi pasti transfer ke rekening pesantren tuan muda"


"Alhamdulillah klo begitu bi. tapi nanti klo mama dan papa sudah pulang, bibi mintalah izin untuk berkunjung ke pesantren, mungkin bukan hanya bibi yang kangen, tapi juga putri bibi "


"iya tuan muda,klo begitu bibi mohon pamit dulu tuan muda,"


"Hem baiklah," kemudian sang bibi melangkah keluar dari kamar sang tuan muda pertama.


Alzam dan Syifa kini sudah mencapai setengah perjalanan, mereka berdua masih istirahat dulu sebentar, untuk menghilangkan rasa lelah, dan juga mampir untuk makan malam ,saat ini mereka berdua tengah berada di restoran cabang dari restoran Zz


di saat mereka sedang menikmati makanan yang sudah tersedia karna tadi Alzam langsung memesan begitu baru sampai disana , malah terganggu dengan kehadiran wanita sek-si


"hey.... bukan kah anda tuan Alzam...?" tanya wanita tersebut yang tak pernah sekalipun Alzam mengenalnya.


"maaf Nona, apa Saya mengenal Anda..?" tanya Alzam heran,


"hmm,, mungkin anda tidak mengenal saya, namun Anda... siapa yang tidak mengenali...? pria tampan, pengusaha muda sukses yang sering di gadang gadang para wanita" ucapnya tanpa menghiraukan jika saat ini orang yang tengah di ajak bicara sedang makan bersama sang istri. syifa mengernyitkan alisnya melihat pada wanita tersebut dengan pandangan yang tidak bersahabat, bisa bisanya ada wanita yang begitu genit pada pria yang jelas2 ada istrinya di sampingnya,


"maksudnya mbak apa yaa bicara seperti itu sama suami saya..?" Syifa langsung memeluk tangan Alzam, Syifa tak ingin jika suaminya itu tergoda dengan wanita yang berpakaian kurang bahan tersebut, apa lagi terlihat jika wanita itu dari kalangan atas, Syifa jadi teringat akan Yasmine yang begitu obsesi pada suaminya hingga berani merencanakan kecelakaan pada Tunangannya sendiri. Syifa mengingat bahwa dirinya hanya wanita biasa yang juga dari kalangan bawah, pantaslah jika ia merasa hawatir dengan semua itu.

__ADS_1


"hahahaha jadi Anda istrinya...? ternyata banyak juga yaaa yang ngaku-ngaku , gue kira cuma dari kalangan atas saja yang bisa mengaku jadi kekasihnya, ternyata dari wanita kampung juga ada" tawanya terbahak-bahak hingga banyak yang memperhatikan ke arah mereka


"jaga bicara Anda!!!"


__ADS_2