
Dikala Nyx dan Egalita pergi menjauh dari mereka ditambah J kecil yang ikut pindah posisi kursi dan meja, Queen W terlihat buru-buru memalingkan wajahnya, kembali berusaha menyantap makanan nya dengan cepat, gadis tersebut terlalu gugup dan bingung atas apa yang terjadi di antara mereka tadi.
Wiraditya sejenak diam, Masih betah menatap istrinya sejak tadi, sembari mengembangkan senyumannya untuk beberapa waktu.
"Apa kita menjadi untuk pergi melihat pernak-pernik oleh-olehnya?," laki-laki itu bertanya sedikit berbasa-basi membuka percakapan di antara mereka agar tidak terlalu tegang dan juga sepi.
Queen W mengganggukan kepalanya dengan cepat sembari melirik ke arah laki-laki tersebut.
"Itu bagus, aku pikir kita bisa mencatat nya bersama terlebih dahulu untuk siapa saja kita akan membelinya." Wiraditya terlihat berinisiatif, dia mencoba mengeluarkan buku memo kecil dari kantong celananya dan sebuah pulpen di kantong bajunya.
Hal tersebut membuat Queen W terlihat mengernyitkan keningnya.
"Aku terbiasa membawa mereka di manapun, ini untuk mencatat sesuatu agar tidak ada yang terlupa." Laki-laki tersebut mengambang kan senyuman nya, dia kemudian membuang pandangannya, memfokuskan pandangannya kearah memo kecil yang berpindah ke atas meja.
"Mari mencatat nya, untuk siapa saja?," Wiraditya kembali bicara.
__ADS_1
Queen W sejenak diam,dia memperhatikan wajah Wiraditya untuk beberapa waktu.
"W?,"
"Mari beli untuk ibu lebih dulu."Dan pada akhirnya Queen W bicara perlahan.
Wiraditya yang terlihat siap mencatat daftar list nama penerima oleh-oleh seketika menghentikan gerakan tangannya, kata ibu membuat dia tidak bergeming, laki-laki tersebut langsung mendongakkan kepalanya, menatap dalam ke arah wajah istrinya.
"Aku melihat sebuah toko yang barang-barang nya paling cocok untuk ibu, masih punya banyak waktu, aku yakin kak Nyx pasti setuju." lanjut Queen W lagi kemudian.
Perhatian Queen W cukup membuat dia tahu, setidaknya gadis tersebut menomorsatukan ibu nya yang bukan siapa-siapa.
"Apakah itu tidak akan merepotkan kamu?,"
Tanya Wiraditya pelan.
__ADS_1
Queen W terlihat menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Tentu saja tidak, pada dasarnya ibu akan menjadi urutan pertama sebelum kita memberikan sesuatu kepada orang yang lainnya bukan?," dan Queen W menjawab pelan.
Gadis tersebut memalingkan wajahnya, melanjutkan sisa makanannya secara perlahan.
Wiraditya diam untuk beberapa waktu, membiarkan tatapannya terus berada pada sosok gadis yang ada di sampingnya tersebut, cukup lama hingga pada akhirnya dia mengembangkan senyuman terbaiknya, tidak tahu bagaimana mengungkapkannya tapi rasa hatinya cukup berbunga-bunga, hari ini untuk pertama kalinya gadis itu cukup banyak bicara setelah dia melakukan banyak interaksi selama berbulan-bulan setelah mereka menikah. Dan pagi ini Queen W terlihat tidak seperti biasanya, seolah-olah berusaha ikut membekas jarak diantara mereka sehingga hal tersebut membuat Wiraditya jelas sangat bahagia.
"Terimakasih banyak, W." Dan pada akhirnya laki-laki tersebut berkata seperti itu sembari membiarkan bola matanya terus menelisik wajah istrinya tersebut.
Mendengar ucapan Wiraditya, Queen W tanpa sengaja berkata.
"Bukankah itu memang kewajiban menantu, kenapa harus-," dan dia langsung menghentikan kata-katanya, seolah-olah sadar atas apa yang barusan dia ucapkan.
Wiraditya seketika terkejut saat mendengar apa yang diucapkan istrinya.
__ADS_1
"Ya?,"