Suami Kontrak Nona Crazy Rich

Suami Kontrak Nona Crazy Rich
Sedikit kecemasan


__ADS_3

Kediaman utama keluarga Hurairah,


Mansion utama Ramira dan Eden.


Begitu mobil yang ditumpangi oleh Wiraditya dan istrinya masuk ke dalam gerbang mansion kediaman keluarga Hurairah, bisa dilihat bola mata Wiraditya menatap ke arah bangunan megah yang ada di hadapannya tersebut. Wiraditya menghela nafasnya secara perlahan, entah kenapa laki-laki itu selalu berpikir dia merasa cukup tidak sebanding berada di dalam ruang lingkup keluarga Queen W.


Jika rasa egois nya muncul, dia tidak ingin melepaskan gadis tersebut dan benar-benar merasa betapa dia tidak ingin melepaskan genggaman tangannya pada gadis tersebut, namun ketika dia ingat pada bagian sisi betapa tidak pantasnya mereka, terkadang dia berpikir dia dan gadis samping nya tersebut sangat tidak sebanding untuk dirinya dan dia tidak pantas untuk berada di sana mendampingi Queen W saat ini hingga akhir.


"W," tiba-tiba suara Queen W mengejutkan Wiraditya yang tengah membawa mobil menuju ke area parkiran di sisi kanan bangunan megah tersebut.


"Hmmm?," Wiraditya menjawab dengan cepat sembari melirik ke arah kiri begitu dia menepikan mobil milik mereka di bagian parkiran depan bangunan tersebut.


Sejenak netra mereka bertemu untuk beberapa waktu dimana Wiraditya membiarkan dirinya menatap dalam bola mata istrinya. Queen W merasa wajahnya memerah saat laki-laki tersebut menatap wajah nya.


"Ada apa?," Wiraditya bertanya begitu lembut kearah istrinya, menunggu gadis yang ada di samping nya tersebut bicara.


"Aku akan menjelaskan susunan silsilah dari keluarga Hillatop, Hurairah dan Azzurra, jika dari Hillatop atau Azzura aku memanggil nyonya Ramira dan tuan Eden, Grandma dan Grandpa. Tapi jika menurut silsilah Hurairah, aku memanggil mereka Untie dan Uncle." Queen W bicara cepat, dia mencoba untuk menjabarkan tentang silsilah keluarga mereka.

__ADS_1


"Ini agak rumit memang, jadi kamu bisa mencari panggilan yang paling nyaman untuk mereka."


"Kamu memanggil mereka bagaimana?," Wiraditya bertanya cepat.


"Grandma dan Grandpa, terdengar jauh lebih tua dan sebagai tanda penghormatan tertinggi dari silsilah keluarga." gadis tersebut menjawab dengan cepat.


Wiraditya terlihat mengganggukan kepalanya tanda mengerti pada akhirnya dia berkata.


"Aku pikir itu jauh lebih baik." Ucap Wiraditya cepat.


Dia sudah mematikan mesin mobilnya, melepaskan sabuk pengaman yang secara perlahan.


"Grandma Ramira sosok yang ramah dan baik tapi beliau sendikit banyak bertanya dan pandai membaca raut wajah seseorang jadi aku-," Queen W bicara agak cemas, dia terlihat meremas telapak tangan nya untuk beberapa waktu.


Dia cukup takut sebenarnya datang ke kediaman grandma dan grandpa, karena jika sudah masuk ke sana biasanya dia akan ditanyakan tentang beberapa hal dengan cara yang sedikit unik dan tanpa sadar sebenarnya sudah diintrogasi namun obrolan dibawa begitu ringan namun menggiring mereka untuk bicara tentang sebuah kejujuran.


Pasangan suami istri tersebut sangat pandai membuat seseorang terjepit situasi dan tidak bisa berbohong sama sekali.

__ADS_1


"Aku cemas jika..," Queen W takut pernikahan pura-pura mereka akan ketahuan jika dia tidak memperingati Wiraditya lebih dulu, dia takut laki-laki itu keceplosan bicara saat diajak bicara oleh sepasang suami istri tersebut.


Mendengar ucapan Queen W, membuat laki-laki tersebut mengembangkan senyuman. Dia pada akhirnya secara perlahan memajukan tubuhnya dan menggerakkan telapak tangan nya menuju kearah safety belt Queen W, membuat gadis itu sedikit terkejut saat wiraditya membantu melepaskan safety belt miliknya. Queen W sedikit memejamkan bola matanya saat dia merasa tubuh mereka merapat dengan sempurna.


"Jangan khawatir soal apapun," Laki-laki tersebut pada akhirnya bicara, dia membiarkan tangan nya melepaskan safety belt dengan gerakan perlahan, sengaja melakukan nya agar mereka memiliki interaksi yang cukup lama.


"Pertanyaan paling masuk akal dan pasaran pasti tentang hubungan kita, aku tidak akan membuat kesalahan saat ditanya oleh mereka." Ucap Wiraditya pelan.


"Tapi bagaimana jika?" Queen W agak kalut, dia khawatir, menatap wajah Wiraditya yang menunduk sejak tadi.


"Meskipun pernikahan kita hanya sebatas perjanjian di atas kertas, aku sama sekali tidak pernah memikirkan nya dan menganggap nya begitu W."


Dan saat mendengar apa yang diucapkan Wiraditya, Queen W sedikit menggenggam erat telapak tangan nya.


"Aku merasa kita benar-benar menikah, W. Aku merasa kamu bagian dari dunia ku, jadi saat mereka bertanya soal hubungan kita, aku tidak perlu takut untuk menjawab nya bukan?," Dan kini Wiraditya setelah melepaskan safety belt milik Queen W, dia mengembang kan senyuman nya, memilih memundurkan tubuhnya sembari bola matanya tidak melepaskan pandangannya pada sang bidadari surga nya.


Mendengar itu seketika Queen W merasa jantungnya tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"W."


__ADS_2