
Disisi lain.
Bola mata Wiraditya bergerak menyusuri gedung Hillatop company begitu mobil miliknya berbelok ke sisi kiri perusahaan tersebut, dandanan rapi dengan jas mendominasi berwarna hitam dan kameja putih menambah kesan ketampanan dan kharismatik laki-laki tersebut, membuat mata perempuan manapun yang memandang pasti menggila di buatnya.
Bohong jika mereka tidak tergoda atas pesona laki-laki tersebut namun siapa lagi yang berani menggodanya, dia jelas bukan lagi Wiraditya yang sama seperti dulu, dia adalah atasan mereka, suami dari pemilik resmi salah satu cabang Hillatop group dimana mereka bekerja kini.
Jika dulu saja Arlina yang berani menggoda laki-laki itu hampir musnah hingga dipecah atas perbuatan zina apalagi jika sekarang ada yang berani mengganggu laki-laki tersebut bisa dijamin mereka pasti akan mati dan menghilang tanpa sisa.
Laki-laki tersebut setelah menepikan mobilnya secepat kilat langsung keluar dari mobilnya dan bergerak dengan cepat menuju ke arah bagian pintu yang menghubung menuju ke arah dalam pintu elevator. Memilih bergegas masuk kedalam dan masuk ke dalam kamar elevator dengan cepat, terlihat sangat tergesa-gesa untuk naik menuju ke arah lantai atas dimana dia tengah mencari seseorang di antara semua orang yang ada.
Begitu kamar elevator berhenti di lantai atas dan pintunya terbuka dengan gerakan yang cepat juga sangat tegap Wiraditya melangkahkan kakinya menuju ke sisi kanan nya. Wajah Wiraditya terlihat tidak baik-baik saja, ini kali pertama dia tidak mengeluarkan senyuman nya pada orang-orang yang lewat, terlihat sangat berwibawa dan menyeramkan, persis seperti seorang atasan yang siap menerkam dan mengintimidasi bawahan nya, menampilkan satu sisi kepemimpinan yang diidam-idamkan oleh para petinggi dalam menghadapi para bawahan yang tidak disiplin dan tidak bertanggungjawab.
__ADS_1
Semua orang yang melihat terlihat menelan ludah, berpikir ada apa dengan atasan baru mereka, Wiraditya yang digosipkan habis pergi berbulan madu sambil menyelesaikan pekerjaan masuk di hari pertama dengan kesan yang sangat berbeda, laki-laki itu terus melangkah maju sambil mengeratkan rahangnya, terlihat sangat marah dengan keadaan.
Mereka bertanya-tanya sembari selalu melirik dan berbisik apa yang terjadi pada laki-laki tersebut yang biasanya begitu sangat ramah dan penuh senyuman tiba-tiba menampilkan satu sisi yang sangat berbeda pada pagi hari ini.
"Pak?," Seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahunan terlihat menyapa, menundukkan kepalanya dengan cepat saat melihat kehadiran Wiraditya.
"Katakan pada ku, apa pak Ram sudah datang?," tanpa basa-basi Wiraditya langsung bertanya siapa yang ingin dia cari pada pagi hari ini.
Mendengar jawaban laki-laki tersebut alih-alih dia menjawab atau melanjutkan ucapannya Wiraditya lebih memilih untuk meneruskan langkah kakinya menuju ke arah ruangan laki-laki tua tersebut.
Dia terus berjalan melangkah menuju ke arah ruangan tuan Ram, sembari dia mengeratkan rahangnya untuk beberapa waktu, laki-laki tersebut terlihat sangat marah dalam keadaan.
__ADS_1
Begitu dia menemukan ruangan laki-laki tua tersebut tanpa mengetuk pintu Wiraditya langsung masuk ke dalam sana dengan cepat.
Tuan Ram yang terlihat fokus pada berkas-berkas yang ada di atas meja, seketika mendongakkan kepalanya saat menyadari seseorang membuka pintu ruangan kerjanya dengan cepat.
Laki-laki tersebut mengerut kan keningnya sejenak, kemudian dia mengembangkan senyumannya saat menyadari siapa yang datang.
"Oh kamu sudah kembali nak?, aku senang-,"
"Apa sejak awal paman sudah tahu jika aku adalah putra Adriansyah Widjaja?," dan Wiraditya memotong ucapan tuan Ram, dia bertanya sambil menatap tajam bola mata pak Ram dengan balutan kemarahan nya.
Tuan Ram seketika tercekat mendengar apa yang diucapkan oleh Wiraditya pada dirinya.
__ADS_1
"Wira-,"