
Disisi ibu Wiraditya.
menatap punggung putranya dan menantu nya yang menjauh membuat ibu Wiraditya merasa bola matanya terlihat berkaca-kaca, ada rasa sesak yang menghantam dirinya setiap kali melihat Wiraditya atau putri keluarga Hillatop yang menjadi menantunya tersebut.
Tidak terasa bola mata wanita tua itu basah, dia berusaha untuk menyeka air matanya untuk beberapa waktu, menahan Isak tangis di dadanya agar tidak pecah.
"Sudah pulang Wiraditya dan istrinya mbak?." Satu suara mengejutkan dirinya, satu tetangga mengintip ingin tahu.
Ibu buru-buru menyeka kembali sisa air mata, menoleh kearah asal suara dengan cepat.
"Iya."
"Kenapa tidak ikut mereka mbak? disini sendirian cukup menyulitkan?." Perempuan tersebut bertanya ingin tahu, biasa, tetangga memang selalu seperti itu.
__ADS_1
"Biarkan anak-anak pergi dengan rumah tangga mereka sendiri, kita orang tua tidak harus ikut dan ikut campur bersama, sebab terkadang tanpa sadar kehadiran kita bisa jadi benalu atau bahkan menyebabkan ketidak nyamanan dalam hubungan rumah tangga mereka." Bijak sekali cara ibu memberikan jawaban, melebarkan senyumannya pada tetangga yang bertanya.
"Tapi mbak sering sakit-sakitan, agak khawatir kalau Mbak tiba-tiba jatuh kembali seperti tempo hari." tidak salah kekhawatiran terlihat dibalik wajah tetangga, karena baginya nyonya Ashraf tidak dalam keadaan sehat-sehat saja.
Alih-alih menjawab wanita tua itu hanya mengembangkan senyumannya, memilih masuk kerumah dan tidak melanjutkan obrolan mereka.
Tidak aneh orang-orang merasa khawatir dengan ibu Wiraditya, karena setahu mereka wanita itu tidak memiliki keluarga baik jauh maupun dekat, selama tinggal di sana yang mereka tahu mereka hanya hidup bertiga tanpa pernah ada satupun keluarga yang berkunjung ke sana. Meskipun tidak dipungkiri terkadang para tetangga bertanya-tanya apakah mungkin di zaman saat seperti ini ada keluarga yang tidak memiliki keluarga lainnya.
Saat pindah ke sana usia wiraditya masih sangat kecil, masih menggunakan seragam pakaian biru putih yang lusuh dan sudah usang, ayahnya katanya sudah meninggal dunia beberapa tahun karena sakit yang diderita, katanya pekerjaan nya dulu tukang ojek keliling. Sang ibu merupakan buruh cuci keliling, tidak ada yang pernah tahu identitas sebenarnya keluarga mereka.
Tapi pernah terdengar desas-desus di masa lalu katanya ayah Wiraditya terlibat pembunuhan terhadap seseorang, nyatanya hingga hari ini berita itu tidak memiliki bukti konkrit yang membenarkan mulut si pembawa berita, karena saat data diri dari kartu keluarga dibawa, tidak pernah ada catatan kriminal yang pernah dilakukan oleh ayah Wiraditya.
Mohammed Ashraf, nama itu bersih dari segala catatan kriminal.
__ADS_1
Perempuan tersebut menghela nafasnya saat melihat ibu Wiraditya masuk kedalam rumahnya.
Didalam sana ibu Wiraditya terlihat mencoba menghela pelan nafasnya untuk beberapa waktu, dia berusaha untuk bergerak menuju ke arah dapur, membawa teko dan cangkir teh secara perlahan kedalam. Membiarkan diri untuk meletakkan semua barang-barang secara perlahan ke atas meja kayu di dapur.
Wanita tersebut mencoba meraih cangkir air minum, dia pikir ini waktu nya makan obat untuk dirinya demi kesehatan sendiri, bergerak membalikkan tubuhnya secara perlahan sambil membawa air minum, tapi belum dia beranjak satu suara mengejutkan dirinya.
"Assalamualaikum." Satu suara terdengar dari arah luar sana.
"Wa'alaikum sallam." Wanita tersebut mengernyitkan keningnya, melangkah keluar dari dapur secara perlahan.
Berpikir siapa yang bertamu ke rumah nya.
Begitu keluar dia mencoba menajamkan pandangan, memperhatikan siapa yang melangkah masuk dari arah pintu depan, begitu sadar siapa yang datang, ibu mengulas senyuman terbaiknya, tergopoh-gopoh menyambut kedatangan sosok didepan sana. Namun didetik berikut nya ibu Wiraditya menghentikan langkah kakinya, saat dia sadar dibelakang sosok tersebut muncul seseorang yang lainnya yang bergerak mendekati dirinya.
__ADS_1
Pranggggg.
"Hahhhh." seketika ibu Wiraditya menjatuhkan cangkir ditangan nya, dia menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya, tubuhnya bergetar dan seketika air mata nya tumpah.