
Masih di mansion utama nyonya Ramira dan tuan Eden,
kamar kedua.
Wiraditya menatap dalam wajah Queen W Yang sudah terlelap sejak tadi, dia tidak ingin mengedipkan bola matanya bahkan tidak sanggup untuk terlelap di dalam tidurnya karena takut apa yang terjadi malam ini hanya mimpi, dia takut pergi tidur dan bangun esok pagi semua akan menghilang seperti butiran debu sebab dia pikir apakah yang terjadi malam ini sungguh-sungguh atau sekedar mimpi belaka.
berkali-kali dia mencoba mencubit lengannya, namun nyatanya begitu sakit dan dia sama sekali tidak terjaga dari tidurnya, menandakan jika semua bukan mimpi melainkan realita, tapi meskipun begitu tetap saja dia takut ini semua hanya mimpi di mana gadis yang ada di hadapannya tersebut telah mau membuka hati bahkan mau menghapus surat perjanjian pernikahan di antara mereka.
Secara perlahan Wiraditya menggerakkan jemari nya, membenahi rambut Queen W yang menutupi bagian indah dari wajah gadis tersebut, Queen W terlihat benar-benar tenggelam didalam tidurnya, tertidur pulas tanpa menyadari gerakan Wiraditya. Laki-laki tersebut pada akhirnya secara perlahan mengelus lembut wajah istrinya untuk beberapa waktu membiarkan jembar-jemur indahnya merasakan wajah lembut dan juga halus sang istrinya. Ada berbagai macam rasa yang menghantam perasaannya saat ini di mana Wirditya merasa seakan-akan dia hidup kembali dalam sebuah semangat baru saat Queen W membalas perasaan nya.
Sedikit tapi pasti, itu yang dirasakan oleh laki-laki tersebut saat ini.
Wiraditya menghela pelan nafasnya, dia mengembangkan senyumannya kemudian secara perlahan memajukan wajahnya, laki-laki tersebut membiarkan bibirnya menyatu pada bibir Queen W dengan gerakan lembut, memberikan ciuman penuh cinta kepada gadis tersebut tanpa banyak bicara. Jika dulu dia pernah mencium gadis itu dengan caranya begitu cepat kali ini dia melakukannya dengan cara yang begitu lamban dan lembut, memberikan sebuah ciuman hangat dan ucapan selamat malam menjelang pagi pada gadis itu.
Setelah itu Wiraditya melepaskan ciumannya kemudian dia memilih untuk membenahi posisinya menatap ke arah laki-laki di kamar sejenak, dia berdoa di dalam hatinya dan berharap jika dia terlambat sejenak maka keesokan pagi ketika dia terjaga dan terbangun semua bukan mimpi melainkan satu nyata yang tidak akan menghilang ditelan waktu. Laki-laki tersebut mulai mengantuk, memilih untuk secara perlahan memejamkan bola matanya.
Hingga pada akhirnya Wiraditya menenggelamkan dirinya secara perlahan ke alam mimpi.
*******
__ADS_1
Masih di mansion utama nyonya Ramira dan tuan Eden,
kamar kedua.
Begitu Wiraditya terjaga dari tidurnya, laki-laki tersebut buru-buru langsung menoleh ke arah sisi kanannya, dia melihat sang istri masih terlelap didalam tidurnya, membuat laki-laki tersebut sejenak berpikir apakah persoalan semalam mimpi atau kenyataan. Hingga tiba-tiba bisa dia rasakan Queen W menggerakkan jemari-jemari tangan nya sejarah perlahan dan kemudian bisa dilihat dari situ mulai membuka bola matanya dengan gerakan enggan.
Sejenak membiarkan bola matanya tidak lepas memandangi istrinya, membiarkan dirinya memperhatikan dengan seksama wajah cantik bangun tidur tersebut.
Begitu Queen W membuka bola matanya secara perlahan, netra mereka sejenak bertemu antara satu dengan yang lainnya. Mereka sama-sama terpaku, saling menatap untuk beberapa waktu. Hingga akhirnya seulas senyuman mengembang dari balik bibir Queen W, gadis tersebut menenggelamkan kembali wajah nya ke dalam bantal nya sembari berkata.
"Jangan melihat ku seperti itu," dia malu, wajah bangun tidur merupakan hal paling memalukan untuk sebagian para gadis dan perempuan, terlalu jelek karena semua hal akan terlihat dengan jelas dan pasti di kala mereka bangun dari tidur mereka.
"Kamu terlihat lebih cantik dan alami ketika bangun dari tidur W," Wiraditya pada akhirnya bicara, mengatakan soal kenyataan atas pandangan nya, dia menyentuh lembut rambut Queen W dan meminta gadis tersebut membuka bola matanya.
Dengan malu-malu Queen W membuka bola matanya, mencoba membenahi posisi kepalanya secara perlahan.
"Itu terdengar gombal." protes Queen W sedikit mencibir.
Wiraditya terkekeh kecil, dia kemudian dengan berani mencium kening istrinya kemudian berkata.
__ADS_1
"Selamat pagi W,"
Gadis tersebut memejamkan bola matanya sejenak, refleks terkejut karena mendapatkan ciuman selamat pagi dari sang suami, wajahnya memerah semerah tomat 🍅 masak.
"Kamu memang terlihat jauh lebih cantik saat bangun tidur," lagi Wiraditya menggoda nya dengan berani.
Yah kenyataan nya sang istri memang jauh terlihat lebih muda tanpa polesan make up nya juga tanpa pakaian kerja nya, wajah nya terlihat lebih kekanakan dari usianya saat polos seperti itu, meskipun usia Queen W lebih tua sedikit dari nya, tapi nyatanya Wajah gadis itu terlihat lebih muda dari seharusnya. Baginya wajah polos tanpa polesan apapun terlihat lebih menawan dan membuat nya sedikit bergairah.
"Wait, apa? bergairah?," Wiraditya langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, dia pikir kenapa tiba-tiba memikirkan hal terkutuk seperti itu.
Astaghfirullahul'adzim.
"Sayang ayo pergi mandi dan sholat subuh bersama," dia mencoba menekan pemikiran tidak-tidak dikepalanya, Wiraditya pikir ada yang salah dengan dirinya di pagi hari ini.
Mendengar Wiraditya kembali memanggil nya sayang, membuat wajah gadis itu kembali memerah karena malu. Dia menatap punggung laki-laki yang ada di hadapannya tersebut di mana Wiraditya sudah bergerak secara perlahan melesat pergi meninggalkan dirinya menuju ke arah kamar mandi.
Wiraditya secepat kilat langsung bergegas masuk ke kamar mandi dengan cepat, laki-laki itu menutup pintu kamar mandi tanpa berpikir dua tiga kali di mana saat ini dia merasa kepalanya berdenyut-denyut tidak menentu, laki-laki itu pikir ada yang terjaga di pagi hari ini, sesuatu yang tidak seharusnya terjaga di waktu yang tidak tepat.
Meskipun itu respon alamiah laki-laki, tapi dia seharusnya tahu diri, ini masih terlalu dini.
__ADS_1
"Oh sungguh sial." Wiraditya hanya bisa mengeluh di dalam hati.