Suami Kontrak Nona Crazy Rich

Suami Kontrak Nona Crazy Rich
Uluran tangan


__ADS_3

Menuju ke rumah keluarga Wiraditya


Minggu pagi.


Wiraditya baru saja menghentikan mobil milik mereka di bagian gang depan menuju ke arah rumahnya, mengingat mobil tidak bisa benar-benar masuk kedalam gang, biasanya para mobil tetangga diletakkan pada bagian sebuah tanah kosong yang di pagari oleh seng yang mengelilingi tanah tersebut di ujung sana, ada penjaga khusus yang dibayar bulanan untuk menjaga mobil atau mereka akan menitipkannya ke rumah saudara yang tidak jauh dari sana karena memang agak sulit untuk masuk ke dalam wilayah gang sempit di pemukiman penduduk di mana mereka tinggal.


Pada akhirnya wiraditya menitipkan mobil mereka pada salah satu rumah di mana ibu-ibu pemilik rumah merupakan orang yang cukup berteman dekat dengan ibunya.


"Eh Abang W, pengantin baru akhirnya datang juga." Si ibu bicara dengan sangat ramah melirik ke arah istri wiraditya sembari mengembangkan senyumannya.


Agak takut juga mungkin sambutannya tidak diterima dengan ramah, maklum biasanya anak orang kaya akan terlihat begitu angkuh dan juga sombong untuk mengenal manusia-manusia rendah seperti mereka.

__ADS_1


Nyatanya apa yang dipikirkan oleh ibu-ibu tersebut malah cukup berada di luar prediksi mereka, Queen W langsung mengembangkan senyuman ramah nya sembari menyalami semua orang satu persatu meskipun tidak dipungkiri gadis tersebut sedikit canggung dan malu-malu.


Hal tersebut cukup membuat wiraditya senang dia pikir gadis sekelas Queen W tidak jijik berbaur dengan orang-orang yang berada di kelas bawah seperti mereka.


"Pulang berkunjung untuk melihat ibu?." salah satu bertanya.


"He em." Wiraditya hanya menjawab seadanya tidak berani terlalu banyak bicara, maklum ibu-ibu jika sudah bertanya dan dijawab maka akan ada pertanyaan berikutnya yang terus diberikan kepada dirinya sepanjang gerbong kereta api.


"Saya titip mobil ya bu, mau ke belakang dulu." laki-laki tersebut bicara sembari sedikit menundukkan kepalanya dia bicara dengan sangat sopan dan perlahan beranjak membawa Queen W dari sana.


"Digenggam atuh bang tangan si eneng, jalanannya tanah dan sedikit berlumpur, takutnya si eneng agak kesulitan melangkah." ibu-ibu yang lainnya bicara dengan cepat, mengingatkan wiraditya soal jalanan setapak yang mereka lewati tersebut menuju ke arah rumah laki-laki itu.

__ADS_1


Rinai hujan di pagi hari tadi sempat membasahi jalanan, yang jelas jalanan sedikit becek dan akan menenggelamkan kaki siapapun yang berjalan di sana, ibu-ibu itu memperingatkan Wiraditya, aku juga istrinya kesulitan berjalan dan tergelincir di tanah, heels yang digunakan memang tidak terlalu tinggi, tapi menggunakan sepatu seperti itu di jalanan yang begitu cukup beresiko menurut mereka.


Wiraditya buru-buru langsung menjawab.


"Baik Bu." dia bicara dengan cepat.


Dengan agak ragu-ragu laki-laki tersebut mencoba untuk mengulurkan telapak tangan nya, menunggu garis tersebut apakah mau menerima uluran tangannya atau malah menolaknya. Terlalu lancang jika dia harus langsung menggenggam tangan sang istri, meskipun status mereka adalah suami istri namun pada nyatanya pernikahan mereka tidak sungguh-sungguh terjadi.


dia masih harus menggunakan akal sehat dan juga logikanya dalam memberikan perhatian atau memperlakukan Queen W, takut juga gadis itu keberatan dengan apa yang dilakukannya.


Bisa dia lihat bola mata Queen W menatap uluran tangannya untuk beberapa waktu, dan di beberapa detik kemudian gadis tersebut menatap dirinya dengan tatapan yang cukup sulit untuk wiraditya artikan.

__ADS_1


__ADS_2