
Masih di mansion utama keluarga Ahem Hillatop,
Kamar pengantin,
Subuh.
Wiraditya tersentak dari tidur panjangnya, laki-laki itu menatap lurus ke arah atap kamar dimana dia berada saat ini, buru-buru mencari posisi jam dinding dan melihat pukul berapa saat ini. Spontan laki-laki tersebut istighfar kemudian mengucapkan kata syukur luar biasa.
"Astaghfirullahul'adzim, Alhamdulillah."
Dia beristighfar karena sempat terbuai dalam alam mimpi nya dan nyaris bangun terlambat dari biasanya, kemudian berucap syukur karena malam ini nyatanya dia tidur di kamar luar biasa indah yang seumur hidupnya tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Meksipun hanya tidur di atas karpet permadani selembut sutra tapi itu karpet yang begitu indah, mereka tidak memiliki nya dan sebuah bantal empuk yang menjadi alas kepala membuat dia tidak perlu meras sakit leher ketika bangun dari tidurnya, demi Allah itu nyaman sekali. Dan meskipun tidak tidur di atas kasurnya tapi ini benar-benar keren menurutnya, seperti tidur di hotel bintang lima, ah tidak dia pikir ini jauh lebih indah dari fasilitas hotel menurutnya.
Dalam wajah polos nya Wiraditya mengulum senyuman bahagia dan penuh syukur, menyentuh lembut dadanya yang merasa begitu beruntung karena bisa menikmati sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
"Maha suci Allah atas segala karunia-Nya." Batin laki-laki tersebut sambil terus mengulum senyuman nya.
Seolah-olah sadar jam berapa ini, Wiraditya sejenak menoleh kearah sisi kirinya, bisa dia lihat Queen W, gadis yang sejak kemarin menjadi istrinya masih terlelap didalam tidur nya. Laki-laki tersebut perlahan bangun dari tidurnya, menggeser pelan tubuhnya kemudian membiarkan kedua tangannya naik ke atas kasur dimana secara diam-diam laki-laki tersebut meletakkan wajah nya di atas kedua tangannya tadi.
Dia menatap istrinya untuk waktu yang cukup lama, memperhatikan mata, bulu mata, hidung, bibir, pipi dan,
"Subhanallah, ya bidadari surga," Dia bergumam didalam hati nya.
Bola mata Wiraditya seolah-olah enggan beranjak menatap wajah gadis tersebut, membiarkan diri terus menatap istrinya sendiri.
"Tentu saja halal untuk dilihat." Batin nya lagi kemudian, mengulumkan senyumannya dan tidak mau melepaskan pandangannya sama sekali dari Queen W.
Gadis tersebut masih terlelap panjang, begitu tenang dengan nafas teratur nya, terlihat jauh lebih alami dan cantik tanpa polesan lipstik atau cream halus di wajah nya, tanpa pakaian ribet ala kantoran dengan gaun tidur yang sopan. Tidak transparan meskipun tidak dipungkiri menampilkan bagian kulit putih mulusnya, tapi jelas dalam balutan kesopanan yang tidak akan membuat khilaf mata Wiraditya memandang.
__ADS_1
Entahlah berapa lama waktu berlalu dia nyaris lupa, karena terpesona pada sosok istri nya yang terlihat begitu indah dan juga istimewa, hingga pada akhirnya tanpa dia sadari Queen W tampak menggerakkan tangan kirinya, gadis tersebut seolah-olah tersentak dari tidurnya, langsung membuka bola matanya secara spontan.
Dan bayangkan bagaimana ekspresi kedua orang tersebut saat bola mata mereka saling bertemu antara satu dengan yang lainnya.
Queen W jelas mengernyit kan dahi nya saat dia menyadari posisi Wiraditya saat ini.
"Assalamualaikum ya ukhti, sudah masuk adzan subuh," Alih-alih terkejut karena Queen W terjaga secara tiba-tiba, laki-laki tersebut bersikap begitu tenang, bicara dengan lembut sambil membenahi posisinya.
"Ingin jadi Makmun atau sholat sendiri?." Lagi Wiraditya bertanya, mengembangkan senyuman terbaiknya pada sang istrinya.
Queen W tidak bergeming, tidak pula mengeluarkan sedikitpun ekspresi nya, menatap Wiraditya yang perlahan berdiri dari sisi kanan nya, laki-laki itu berdiri dan bergerak menjauhi dirinya, begitu tenang seperti tanpa dosa.
Padahal sejujurnya, saat dia berbalik dan berusaha untuk bergerak ke arah kamar mandi, dia mencoba menahan wajah nya yang memerah karena malu, jantung Wiraditya tidak baik-baik saja, nyaris melompat keluar karena malu yang luar biasa, rasanya tidak mampu untuk melihat Queen W setelah mandi.
__ADS_1
Apa dia tidak usah keluar saja dari kamar mandi??!.
"Astaghfirullahul'adzim, malunya kalau ketahuan memuji didalam diam." Dia terus beristighfar didalam hati.