
Kembali ke masa kemarin,
Restoran xxxxxxxx,
pusat kota.
Pak Ram bergegas melangkah mendekati sosok tersebut dan duduk dengan terburu-buru di atas kursi tepat di hadapan sosok yang kini menatapnya dalam pandangan penuh tanya.
"Katakan." Suara berat dan datar tersebut langsung meluncurkan pertanyaan nya dalam rasa penasaran yang tinggi.
"Aku menemukan putra Adriansyah Widjaja." Tanpa berbelit-belit pak Ram bicara cepat pada sosok yang duduk dihadapan nya tersebut.
"Benarkah?."
__ADS_1
"Dia melamar pekerjaan di Hillatop company." Lanjut tuan Ram lagi.
Laki-laki tua yang masih menampilkan sisi karismatiknya tersebut terlihat menarik gelas minuman yang ada di hadapannya, dia menyesap minumannya secara perlahan kemudian meletakkan kembali gelas yang ada di tangannya tersebut.
"Aku pikir putranya pasti sudah sangat dewasa, Ram." Ucap laki-laki tua tersebut, menatap kearah tuan Ram dengan pandangan tajamnya.
Tuan Eden All Jaber (Kevin Burja) suami dari nyonya Ramira terlihat mengetuk-ngetuk jemarinya sejenak untuk beberapa waktu, dia tampak berpikir dengan keras.
"Apakah Adriansyah masih hidup?." Pada akhirnya laki-laki tersebut mulai membuka suaranya, dia masih menatap laki-laki yang ada di hadapannya.
"Dia sudah meninggal tidak lama setelah kejadian itu." Jawab laki-laki itu dengan cepat.
Mendengar apa yang diucapkan oleh tuan Ram, membuat Eden memejamkan bola matanya sejenak, sejuta rasa kehilangan menghantam dirinya, tidak tahu kenapa tapi rasanya begitu sakit saat mengetahui laki-laki itu benar-benar telah meninggal dunia.
__ADS_1
Adriansyah Widjaja, dia tidak pernah memiliki karyawan sejujur itu bahkan merelakan banyak hal untuk mengabdi pada dirinya selama bertahun-tahun, ada satu pengorbanan yang tidak bisa dilupakan dan laki-laki tersebut di masa lalu dan dia tahu Adriansyah Widjaja memiliki adab yang baik dan sifat yang jujur ditengah gemerlap godaan ini kota besar yang mampu membutakan mata siapapun yang ada.
"Selidiki bagaimana kehidupannya saat ini dan di mana keluarga mereka tinggal." Tuan Eden membuka bola matanya.
"Biarkan aku bertemu dengan putra nya dalam waktu dekat, kamu bisa menggunakan alasan membawanya pada permainan golf, memancing bersama atau apapun itu yang bisa membuat aku mengenal dengan baik putra nya." Lanjut laki-laki tersebut lagi.
"Aku ingin membalas jasa atas apa yang dilakukan oleh Adriansyah Widjaja, mungkin ini terlambat tapi aku pikir tidak ada kata terlambat untuk membayar pengorbanan seseorang atas kebaikannya." Setelah berkata begitu, tuan Eden berniat berdiri dari posisi duduknya.
"Wiraditya seperti nya memiliki karakteristik yang sama seperti ayahnya, aku tidak yakin dia mau menerima bantuan cuma-cuma tanpa penjelasan, dan lagi kita tahu sendiri bagaimana istrinya, bahkan kenangan di masa lalu mungkin menyisakan luka lama yang begitu dalam, Eden." Dan tuan Ram bicara dengan cepat.
Mendengar apa yang diucapkan oleh tuan drama ketika membuat tuan Eden mengurungkan niatnya untuk berdiri dari posisi nya dan beranjak.
"Mungkin melakukan pendekatan merupakan pilihan yang paling tepat dan bijaksana tapi memberikan bantuan secara langsung atau memberikannya uang atas segala macam jasa di masa lalu bukan hal yang baik, mungkin itu akan membuat Ambar semakin merasa bersalah atas peristiwa di masa lalu." lanjut tuan Ram lagi kemudian.
__ADS_1
"Aku pikir sebaiknya kita membaca situasi lebih dulu, akan ada banyak cara untuk membuat mereka menerima apa yang seharusnya memang menjadi milik mereka, Eden."
Dan bola mata kedua orang tua tersebut tampak saling menatap antara satu dengan yang lainnya kemudian tenggelam ke dalam pemikiran mereka masing-masing.