
Masih di mansion utama Queen W
Kamar Queen W.
Setelah menyelesaikan sesi makan malam mereka pada akhirnya Queen W dan Wiraditya kembali ke kamar gadis tersebut, dan persis seperti di mana laki-laki tersebut kemarin tinggal di kamar pengantin di rumah ayah mertuanya, dia juga kali ini menatap bingung ke mana dia harus tidur. Menelisik ruangan kamar besar yang ukurannya mengalahkan rumah mereka hingga pada akhirnya seulas senyuman mengembang dibalik wajah Wiraditya.
Dia menemukan sebuah kursi sofa di sana, didepan televisi besar yang ukurannya selebar pintu rumah. Demi Allah dia pikir kenapa orang kaya selalu memiliki sesuatu yang begitu luar biasa, bahkan saking keren nya apa yang mereka miliki diluar jangkauan orang-orang seperti mereka.
Wiraditya bergegas bergerak mendekati kursi sofa, membawa sebuah bantal dan guling ke sana tanpa menarik selimutnya, dia takut Queen W kedinginan, jadi membiarkan satu selimut dimiliki istri nya.
Queen W tampak baru menyelesaikan sesi membersihkan dirinya, seperti biasa gadis itu memilih duduk di depan meja rias untuk kemudian membersihkan wajah nya. Wiraditya Masih sempat mengintip ke arah gadis itu sembari mengulum senyuman, di mana pada akhirnya dia berusaha untuk membaringkan tubuhnya secara perlahan ke atas kursi sofa yang terasa begitu empuk, saking empuknya mengalahkan seluruh kasur yang pernah dia tidur baik di rumahnya atau di rumah teman-temannya saat dia masih sekolah dulu.
laki-laki itu berencana untuk memejamkan bola matanya namun tiba-tiba suara Queen W cukup mengejutkan dirinya.
"katakan padaku apa kamu telah menentukan tempat liburan nya?," gadis itu membuka suaranya dan jelas saja membuat wiraditya mengurungkan niatnya untuk memejamkan bola matanya, membalikkan tubuhnya dan membenahi kembali posisi nya.
Secercah rasa bahagia menghiasi wajahnya ketika dia menyadari ini untuk pertama kalinya gadis itu mengajaknya bicara lebih dulu.
"Aku tidak tahu harus pergi ke mana, kamu bisa memutuskannya dan aku akan ikut kemanapun kamu ingin pergi." dia menjawab dengan cepat apa yang dipertanyakan oleh istrinya.
Ini soal destinasi tempat bulan madu yang akan mereka datangi, sebenarnya itu tidak penting tapi karena keluarga mendesak mereka terpaksa pura-pura untuk pergi melewati bulan madu yang jelas tidak pernah ada, itu dilakukan untuk memangkas kecurigaan seluruh keluarga, tidak mungkin untuk berkata tidak atau menolaknya karena jika tidak orang-orang akan berpikir bagaimana bisa pengantin baru tidak mendapatkan bulan madu.
"Kamu bisa memutuskannya jika mau." Queen W kembali bicara di mana dia baru saja selesai membersihkan wajahnya.
"Satu tempat yang ingin sekali kamu kunjungi dalam seumur hidupmu, kamu bisa memutuskan untuk pergi ke sana teh kita akan berangkat sesuai dengan jadwal yang akan diberikan oleh kak Nyx." lanjut gadis itu lagi kemudian.
Mendengar ucapan Queen W, sejenak membuat Wiraditya diam.
__ADS_1
"Tempat yang paling ingin dia datangi?." Laki-laki tersebut bertanya didalam hatinya sambil mengernyitkan keningnya.
Apa dia memiliki tempat impian yang ingin dia datangi dalam seumur hidupnya?!. Sebenarnya ada, tapi itu bukan harapan dirinya, tapi harapan seseorang yang dia sangat cintai dimasa anak-anak nya.
"Ada satu tempat yang ingin sekali ku datangi di mana itu menjadi impian ayah ku di masa lalu." Spontan Wiraditya bicara, menatap lurus kedepan dalam pandangan nanar nya.
Queen W terlihat menatap kearah Wiraditya untuk beberapa waktu.
"Ayah?." Gadis tersebut seolah-olah baru sadar jika Wiraditya tidak memiliki seorang ayah.
"Dimana beliau kini?." Tanya gadis tersebut kemudian.
Wiraditya menoleh kearah Queen W, meñatap wajah gadis tersebut untuk beberapa waktu. Laki-laki tersebut diam, belum menjawab sama sekali, memilih dan membiarkan pikiran nya berkelana jauh entah kemana.
Dia masih dengan seragam sekolah dasarnya, menatap punggung kokoh yang selalu pergi pagi pulang malam untuk mencari makan dan memenuhi kebutuhan mereka. Ibu, dia dan adiknya.
"Sudah besar abang, masa masih minta beli mainan?." Kala itu ibu bicara sambil terkekeh geli mendengar pemerintah Wiraditya agar laki-laki tersebut membawa nya sebuah pesawat terbang yang menggunakan remote kontrol.
"Tidak apa-apa, akan ayah belikan." Senyuman laki-laki tersebut masih merekah, menyentuh lembut kepalanya dalam jutaan janji yang masih dia ingat hingga hari ini.
Tapi setelah itu mereka tidak mendapatkan ayah nya kembali kerumah, pihak rumah sakit menghubungi mereka dan berkata ayah tidak baik-baik saja.
"Dia berusaha untuk menyelamatkan seseorang, pendarahan nya begitu hebat, beberapa sistem saraf nya lumpuh total." Dan Wiraditya jatuh tidak sadarkan diri diiringi tangis ibunya yang pecah.
"Sudah pulang menghadap nya dalam rasa tenang." Ucap Wiraditya pelan sambil menatap dalam wajah Queen W dari kejauhan.
Bisa dia lihat raut penuh sesal dan sedih tampil dibalik wajah gadis tersebut.
__ADS_1
"Maafkan aku karena membuka luka lama." Gadis itu terlihat menyesal atas pertanyaan nya.
"Tidak masalah, bukankah seharusnya seorang teman mengetahui soal teman yang lainnya?." Jawab Wiraditya sambil berusaha mengembangkan senyumannya.
Queen W terlihat diam untuk beberapa waktu.
"Karena sakit?." Queen W pada akhir kembali bertanya penasaran.
Wiraditya masih menatap dalam wajah gadis yang duduk di atas kursi meja rias yang jaraknya beberapa meter dari nya.
Laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya.
"Menyelamatkan seorang gadis kecil yang tidak baik-baik saja." Jawab Wiraditya pelan.
Dan setelah laki-laki tersebut berkata begitu, dia kembali membalikkan tubuhnya, membaringkan nya ke atas kursi, dan berusaha melupakan tentang kesedihan soal ayahnya. Queen W terlihat ikut diam, menatap laki-laki tersebut yang kini berbaring tanpa bicara, masih mencoba mencerna ucapan Wiraditya tentang ayahnya.
Menyelamatkan seorang anak kecil?, apakah hingga membunuh ayahnya?.
Gadis tersebut masih ingin bertanya kemana tujuan ayah Wiraditya yang ingin dipenuhi laki-laki tersebut, tapi dia mengurungkan diri untuk bertanya sebab dia pikir mungkin Wiraditya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Queen W beranjak dari posisi nya, naik ke kasur dan membaringkan dirinya disana, menatap Wiraditya yang entah apakah sudah terlelap di atas kursi sofa atau belum.
Dibalik jendela angin sepoi-sepoi terlihat menggoyang pohon dan ranting, menabrak sedikit bagian kaca yang menghadap tepat kearah Wiraditya, langit seolah sedang bernyanyi dan bersenandung indah, dimana cahaya rembulan mengintip diam-diam dan menatap dua anak manusia yang telah digariskan kehidupan nya berdasarkan kehendak Allah SWT.
Dan tanpa mereka sadari lauhul Mahfud telah mencatat jodoh mereka sejak lama dengan caraNya, dimana lauhul mahfudz dipahami banyak orang sebagai sebuah kitab yang menuliskan seluruh catatan Allah SWT mengenai takdir dan kejadian yang terjadi di alam semesta
*****
Jodoh itu unik juga menarik, sekuat apapun kamu berusaha jika dia bukan milik mu maka dia akan pergi juga, tapi se'enggan apapun kamu dengan nya saat Allah SWT sudah berkehendak dan mencatatnya, kamu tidak akan pernah mampu menolaknya.
__ADS_1