
Wiraditya berjalan perlahan, menyusuri jalanan sambil membawa Queen W kedalam gendongan nya. Mengabaikan apapun yang ada di sekitar mereka dan bergerak menuju ke hotel dimana mereka tinggal.
"Kamu bisa menurunkan ku di sini." Queen W bicara pelan, dia cukup gugup dengan keadaan.
"Aku pikir laki-laki itu masih ada dibelakang kita." Wiraditya menjawab cepat, cukup berdusta karena dia masih ingin menikmati perannya membawa istrinya dalam gendongan nya.
Queen W sedikit terkejut, ingin menoleh tapi Wiraditya langsung berkata.
"Dengan menoleh akan memicu semakin dekat kejahatan, aku bisa melihat ekor matanya mengikuti kita dan memperhatikan kamu." Sungguh terkutuk, dia berbohong pada gadis tersebut.
Queen W, meskipun dia memiliki segalanya, begitu dingin dan datar, sangat tertutup dan sulit ditebak, pada akhirnya perempuan tetaplah perempuan, dan dia tetaplah gadis polos yang mampu dibohongi oleh seorang laki-laki bukan?.
Jika tidak bagaimana bisa di bodohi oleh 2 laki-laki didalam hidupnya dengan kata cinta.
Terlalu naif, polos atau entahlah Wiraditya enggan berspekulasi.
Mereka diam untuk beberapa waktu, dimana Queen W memilih tidak lagi berisik untuk turun. Wiraditya sengaja memperlambat langkah, berjalan memutar dan memilih belum menyeberang. Langit malam terlalu indah, jalanan dilewati beberapa mobil tapi tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.
__ADS_1
"Jangan melangkah dengan laki-laki yang tidak memiliki sisi tegas dalam memilih." Pada akhirnya laki-laki tersebut bicara, membiarkan diri mencoba mengingatkan istrinya.
Queen W diam mendengar apa yang diucapkan oleh Wiraditya.
"Aku bicara sebagai seorang teman yang peduli dan baik." Laki-laki tersebut mencoba untuk menegaskan posisi nya bicara, sebenarnya hatinya memberontak ingin berkata aku bicara begini karena aku ini suami mu, kurang apa aku coba?, aku ini suami limited edition, tidak akan menipu mu seperti mereka, cihhh terlalu percaya diri dia.
"Jika sejak awal hatinya sudah linglung dan goyah, maka mereka tidak bisa dipercaya untuk dijadikan partner sehidup semati, W." Lanjut Wiraditya lagi.
"Pada dasarnya, menikah merupakan ibadah dengan jangka waktu yang terlama, dijalani seumur hidup hingga maut memisahkan."
"Jika laki-laki tersebut hanya berkata cinta dan bimbang saat menentukan sesuatu, satu hari hidup bersama laki-laki seperti itu, baginya kamu hanyalah beban dalam hubungan sekedar tanggung jawab, begitu tugas mereka terpenuhi, mereka bisa saja pergi dan hal seperti itu seringkali menimbulkan banyak penderitaan emosional."
Queen W terlihat diam, tidak merespon sama sekali ucapan Wiraditya, masih memilih diam dan memperhatikan jalan'an depan.
"Teman bukan pilihan, jika sejak awal dia tidak bisa menempatkan hati dan beranggapan teman yang sakit adalah tanggung jawab, dan meninggalkan teman yang dicintainya karena kebimbangan, maka tinggalkanlah, jangan memberikan kesempatan pada laki-laki seperti itu, satu hari saat masalah datang dalam pernikahan dia tidak akan memikirkan perasaan kamu, karena baginya akan ada tempat lain untuk nya mengadu." Lanjut Wiraditya lagi kemudian.
Keheningan terjadi di antara mereka, dimana Wiraditya masih terus memilih langkah dan Queen W tampak diam menatap jejak bayangan mereka berdua.
__ADS_1
"Lalu teman seperti kamu, teman yang bagaimana?." Tiba-tiba Queen W bertanya pelan, membiarkan bola matanya terus menatap bayangan mereka berdua di aspal jalanan.
"Apakah kau akan meninggalkan teman demi teman lainnya, W?." Ini kali pertama Queen W memanggil Wiraditya dengan panggilan nama yang sama dengan dirinya.
Wiraditya terlihat diam, dia berhenti sejenak di pinggir jalan, menunggu waktu untuk menyerang.
"Aku tidak terbiasa meninggalkan, tapi aku ini ditakdirkan untuk ditinggalkan oleh siapapun sejak dulu hingga masa yang akan datang." Jawab laki-laki tersebut pelan.
Dan mendengar jawaban Wiraditya membuat Queen W menatap ke arah pipi sisi kanan laki-laki tersebut, Wiraditya kembali melanjutkan perjalanan nya, melangkah menyeberangi jalanan secara perlahan.
Queen W yang awalnya menatap kearah Wiraditya pada akhirnya diam, dia secara perlahan menyadarkan pipinya ke punggung laki-laki tersebut, mengencang kan pelukan nya di leher laki-laki tersebut kemudian memilih memejamkan bola matanya.
Ada yang ingin tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan saat ini?!. Dia tidak pandai menjabarkan perasaan nya dengan kata-kata atau mengekspresikan dirinya secara langsung, tapi saat dia memejamkan bola matanya, secara perlahan air matanya tumpah tanpa pernah Wiraditya sadari.
*****
Jangan terlalu baik pada ku, W.
__ADS_1
Karena aku takut kebaikan itu satu hari bisa membunuh ku.
Queen W.