
Masih di Kediaman utama keluarga Hurairah,
Mansion utama Ramira dan Eden.
Begitu masuk ke depan pintu mansion yang ada di hadapan mereka, bisa Wiraditya lihat sepasang suami istri menyambut kehadiran mereka dengan penuh kebahagiaan, apalagi ketika mereka melihat Wiraditya yang datang, seolah-olah mendapatkan satu kebahagiaan yang luar biasa berikan menyambut Wiraditya di dunia cara yang begitu luar biasa.
"Oh god," Nyonya tua Ramira terlihat bergerak mendekati Wiraditya, dengan bola mata berkaca-kaca menatap wajah laki-laki muda tersebut dengan perasaan yang sulit untuk di deskripsikan.
Dia pikir Wiraditya sudah sebesar itu, tapi tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, memilih diam dan bungkam sembari jembatan tangan yang memilih untuk menyentuh wajah Wiraditya.
Wiraditya terlihat diam, membiarkan wanita di hadapannya tersebut menyentuh wajahnya dan menatap dalam bola matanya.
"Kau benar-benar mirip dengan nya nak," Pelan wanita tua itu bicara, nyaris tidak terdengar tapi telinga Wiraditya jelas mendengar ucapan wanita dihadapan nya itu.
Seolah-olah nyonya tua Hurairah sengaja bicara dengan volume suara kecil agar tidak terdengar oleh Queen W. Di mana istri Wiraditya terlihat di sambut oleh tuan Eden.
Wiraditya menatap nyonya tua Hurairah untuk beberapa waktu, bola matanya terlihat berkaca-kaca ketika dia mendengar wanita di hadapannya tersebut berkata jika dia mirip dengan ayahnya.
"Apakah dia begitu mirip dengan ku, grandma?," Wiraditya bertanya dengan bibir gemetar, dia menahan rasa sedihnya saat mendengar soal ayahnya.
Kerinduan yang memuncak selama puluhan tahun seolah-olah ingin meledak dan pecah, dia lupa bagaimana rupa ayahnya, tapi kenangan baik selalu tersimpan di balik ingatan nya. Dia tidak lagi punya foto laki-laki gagah perkasa tersebut, karena saat ayahnya meninggal ibunya sengaja menyembunyi kan segala sesuatu tentang ayah mereka satu persatu, kisah masa lalu membuat ibunya malu. Bukan soal ayahnya tapi ini soal apa yang dilakukan oleh keluarga ayahnya pada salah satu keturunan keluarga Hurairah di masa lalu yang tidak lain istrinya sendirian.
Mendengar pertanyaan Wiraditya, nyonya Ramira menganggukkan kepalanya secara perlahan.
"Kau benar-benar mirip dengan nya," jawab wanita tersebut cepat.
"Seperti duplikat nyata." lanjut wanita tersebut lagi kemudian.
Yah seperti duplikat nyata, dia cukup merindukan laki-laki yang memiliki rupa seperti Wiraditya, yang pernah masuk dalam kehidupan keluarga Hurairah. Jasa baiknya selalu dikenang disepanjang masa, bahkan kebaikan nya yang tidak bisa dilupakan oleh suaminya dimasa lalu membuat tuan Eden terus berkata, satu hari akan membalas budi baik tuan Widjaja dengan berbagai cara.
Candaan di masa lalu yang pernah di ucapkan oleh tuan Eden dan nyonya Hayat mommy Queen W siapa sangka benar-benar terlaksana, menjadikan putra Widjaja bagian dari jodoh keluarga Azzura atau Hurairah.
"Kami mencari kamu dan ibu mu cukup lama, tanpa petunjuk apapun karena kalian menghilang seperti ditelan bumi setelah kejadian pada hari itu, membuat suami ku putus asa dan merasa bersalah." Lanjut wanita itu lagi kemudian.
"Ibu bilang dia malu untuk kembali bertemu dengan keluarga Hurairah." Jawab Wiraditya kemudian.
"Tapi itu bukan kesalahan ayah mu nak, kenapa harus malu?,"
"Memang bukan, tapi pelaku nya adalah adik bagian keluarga dari Widjaja, bagaimana bisa ibu pura-pura menutup matanya, Grandma?,"
Dan mendengar ucapan Wiraditya, mereka pada akhirnya diam seribu bahasa.
"Kemarilah, son." tiba-tiba suara tuan Eden memecah keadaan.
Wiraditya langsung menoleh ke arah tuan Eden, sedangkan nyonya Ramira buru-buru mendekati Queen W, wanita tersebut memeluk hangat cucu nya dengan kehangatan luar biasa.
__ADS_1
Queen W memejamkan bola matanya, menerima pelukan hangat dari grandma nya dengan cepat, kemudian nyonya Ramira membawa cucu nya tersebut menuju ke arah belakang, dimana meja makan berada. Di sana tampaknya memang telah disiapkan sejak awal berbagai macam hidangan untuk makan malam bersama mereka.
Wiraditya menatap Queen W dan nyonya Ramira yang menghilang secara perlahan menuju kearah belakang.
"Katakan pada ku," suara tuan Eden mengejutkan Wiraditya.
Laki-laki tersebut buru-buru menoleh dan melihat ke arah tuan Eden dengan cepat.
"Katanya kamu begitu marah pada Ram saat mengetahui soal kenyataan?," Tanya laki-laki tua tersebut kearah Wiraditya.
Hal tersebut membuat Wiraditya diam sejenak, dia menatap laki-laki tua di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu
" Sebegitu marah nya kamu saat mengetahui semua telah direncanakan?," kembali laki-laki tersebut bertanya tidak melepaskan pandangannya pada Wiraditya.
"Maafkan kami son, awalnya bukan seperti itu rencana awalnya." Dan tuan Eden bicara sambil merangkul Wiraditya.
Dan saat laki-laki tua tersebut bicara seperti itu Wiraditya seketika terdiam, membiarkan tuan Eden memeluk dirinya. Wiraditya memejamkan bola matanya sejenak dimana tuan Eden berbisik padanya secara perlahan.
"Ayah mu dan ibu Queen W sejak awal memang pernah membicarakan soal masa depan kalian sebelum Queen W dilahirkan."
Percayalah mendengar hal tersebut Wiraditya langsung membuka bola matanya dengan lebar.
"Apa?,"
*******
Ruang makan.
Mereka terlihat fokus menyantap menu makan malam yang ada dihadapan mereka sejak tadi, Wiraditya beberapa kali memberikan menu makanan pada Queen W, bahkan membiarkan gadis tersebut memilih makanan apapun yang sesuai dengan selera nya.
4 orang tersebut menikmati makan malam tanpa banyak bicara, dimana nyonya tua Ramira terkadang mengembangkan senyumannya melihat bagaimana cara Wiraditya memperlakukan Queen W dengan baik.
"Bukankah aku sudah bilang? dia mirip diri mu." Nyonya Ramira berbisik pada suami nya pelan.
Tuan Eden terlihat melirik kearah Ramira, menatap wajah wanita yang telah hidup bersama nya hingga puluhan tahun lamanya, wanita yang menjadi cinta pertama nya hampir dalam seumur hidup nya dan pernah berpisah dari nya hingga belasan tahun karena keadaan.
"Karena itu aku bilang dia pantas untuk nya, jika saja dia tidak memiliki silsilah dengan keluarga Burja, aku sudah memberikan nya pada putri kita." Lanjut wanita tersebut sambil terus bicara setengah berbisik pada suaminya.
Tuan Eden terlihat mengembang kan senyuman nya, dia menggelengkan kepalanya secara perlahan kemudian membiarkan jemari nya menjentik lembut hidung istrinya, membuat wanita tua tersebut seketika memejamkan bola matanya, kemudian dia tertawa kecil sambil menyentuh hidung nya.
Mereka tetap terlihat romantis di usia tua, membuat siapapun yang melihatnya iri akan kisah cinta mereka. Di masa lalu perjalanan cinta mereka begitu kontroversial, penuh lika liku bahkan caci maki di sisi kiri dan kanan, jatuh bangun berkali-kali dan terpisah karena kekejaman orang-orang disekitar. Nyata kehidupan dan perjalanan cinta mereka selalu jadi panutan setiap orang di keluarga Hurairah dan Azzurra, mereka bilang jika cinta dan jodoh telah digariskan oleh Allah SWT, bagaimanapun mereka terpisah dan sulitnya melewati banyak ujian pada akhirnya hati dan perasaan mereka akan berlabuh pada sang pemiliknya meskipun menyatu di waktu yang nyaris terlambat.
Mereka sepasang suami istri yang begitu dikagumi oleh anak dan cucu mereka di sisi kiri dan kanan, cerita mereka terus melekat didalam hati hingga sekarang.
Melihat bagaimana cara tuan Eden memperlakukan istrinya, membuat wajah Queen W memerah, dia malu, melirik sejenak kearah Wiraditya yang menatap kagum pada pasangan suami istri dihadapan mereka tersebut. Queen W buru-buru menundukkan kepalanya, menyantap sisa makanannya dengan cepat tanpa banyak bicara.
__ADS_1
Wiraditya langsung membuang pandangannya dari sepasang suami istri tersebut ia memilih untuk melirik ke arah istrinya sejenak dimana bisa dilihat Queen W terlihat fokus menyantap makanan yang ada di hadapannya sejak tadi menghabiskan sisa-sisa yang ada di piringnya secara perlahan.
Laki-laki tersebut tersenyum, meraih kotak tisu secara perlahan kemudian dia mengambil selembar tisu dan memanggil istrinya dengan lembut.
"W,"
"Hmmm?,". Queen W menoleh, meñatap kearah Wiraditya.
Siapa sangka laki-laki tersebut menghapus sesuatu di pinggir bibir nya, membuat gadis itu terkejut dan langsung mengedipkan bola matanya beberapa kali atas tindakan dari sang suaminya.
"Makanlah dengan hati-hati," laki-laki itu bicara sembari mengembangkan senyumannya lantas melepaskan tangannya yang menggenggam tisu dari bibir istri nya.
Queen W jadi salah tingkah, mencoba untuk menarik nafasnya beberapa waktu sebarin dia langsung kembali memfokuskan pandangannya pada makanan yang ada di hadapannya. tidak tahu kenapa tapi sepertinya jantung gadis tersebut saat ini tidak baik-baik saja.
"Kalian belum berkunjung ke keluarga lainnya?," tanya nyonya Ramira saat dia menyelesaikan makan malam nya, wanita tersebut bicara memecah keadaan.
Mendengar pertanyaan dari wanita di hadapannya tersebut seketika wiraditya langsung menoleh, dia kemudian menjawab dengan cepat.
"Rencananya kami baru akan mengunjungi semua orang satu persatu di akhir minggu," laki-laki itu berucap dengan cepat memastikan jika yang mereka akan pergi pada akhir minggu ini.
"Banyaknya pekerjaan membuat kami nyaris tidak memiliki waktu untuk berkunjung, Grandma. Maafkan aku, ini semua salah ku." Wiraditya terus melanjutkan ucapannya sembari menundukkan kepalanya merasa malu karena dia terlambat memikirkan hal seperti itu untuk mengunjungi keluarga besar Queen W satu persatu.
"Queen W pernah beberapa kali membicarakannya padaku tapi aku yang terlambat untuk memulai kunjungan, benar-benar maafkan aku." Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.
Queen W yang mendengar ucapan Wiraditya jelas saja langsung menoleh ke arah suaminya dengan cepat, dia pikir bagaimana bisa laki-laki tersebut bicara begitu dimana Wiraditya merasa paling bersalah, padahal seharusnya dialah yang diserahkan, karena dia tidak pernah membicarakan hal tersebut kepada wiraditya bahkan di berusaha untuk menghindari dari seluruh anggota keluarga karena takut pernikahan mereka lambat laut akan dipertanyakan.
Awalnya konsep pernikahan tidak menjadi serumit ini, mengajukan pernikahan kontrak dan memutuskan mengakhiri semuanya cepat atau lambat. Nyatanya jangankan untuk mengeksekusi seluruh harapan tersebut, di awal pernikahan saja hubungan mereka terasa sangat tidak mungkin untuk dihentikan dan itu membuat Queen W cukup khawatir dengan keadaan.
Dia mencoba untuk bicara, tapi siapa sangka di bawah meja Wiraditya menggenggam erat telapak tangannya, seolah-olah berkata semua akan baik-baik saja dan meminta gadis tersebut untuk tidak membuat semua menjadi semakin rumit dan mencurigakan.
Mendapatkan telapak tangannya digenggam oleh laki-laki tersebut seketika membuat wajah Queen W memerah, dan satu desiran halus menghantam dirinya. Laki-laki tersebut menggenggam erat telapak tangannya dan tidak melepaskan nya sama sekali.
"Meskipun sibuk atau kebingungan mengurus perusahaan karena belum terbiasa, seharusnya sebagai yang termuda dan terkecil, harus tetap mendahulukan untuk bisa mengunjungi keluarga yang lebih tua untuk meminta Restu dan doa," nyonya Ramira bicara dengan cepat sembari menatap bola mata Wiraditya.
"Aku benar-benar minta maaf, grandma." Wiraditya kembali menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan.
"Itu bukan masalah untuk saat ini, pergilah berkunjung saat akhir minggu nanti, pastikan kalian memperkenalkan diri dan juga meminta Restu dan doa, karena hal seperti itu akan membuat pernikahan jauh lebih baik dan doa orang tua biasanya akan dikabulkan oleh Nya, sepertinya beberapa keluarga berharap mereka mendapatkan cucu dan keponakan baru." Ucap laki-laki tua tersebut dengan cepat.
Dan percayalah mendengar apa yang diucapkan oleh grandpa Eden, membuat Queen W sedikit terkejut.
"Aku pikir yang paling tidak sabaran, Ahem dan Hayat sudah ingin menimang cucu yang kedua." dan nyonya Ramira menambahkan ucapan suaminya, bicara jika mommy dan daddy Queen W lah yang sebenarnya mulai tidak sebaran ingin menimang cucu kedua setelah kelahiran cucu pertama J putra dari Nyx Zaighum.
"Semakin cepat terdengar semakin baik jika sudah ada rezekinya." lanjut wanita tersebut lagi kemudian sambil tertawa kecil sembari menatap ke arah Queen W.
Gadis yang di tatap seketika menelan salivanya, Queen W dengan cepat meraih gelas minuman yang ada di hadapannya dan mencoba untuk meminumnya dengan perasaan yang tercampur aduk menjadi satu.
__ADS_1
Dan percayalah saat melihat ekspresi Queen W, grandma Ramira tampak mengeluarkan ekspresi anehnya.