
Disisi lain,
kediaman utama keluarga Amanda.
Gadis tersebut terlihat meringkuk di bagian pinggiran kasur dimana kamar nya berada, tidak beringsut sama sekali dari posisinya sejak beberapa jam yang lalu, dia kehilangan keinginan makan nya apalagi keinginan lainnya.
Ucapan yang diberikan Wiraditya padanya menorehkan sebuah luka yang begitu mendalam, tidak menyangka jika laki-laki yang pernah begitu dia cintai menganggap nya seperti manusia asing yang tidak pernah mengenal antara satu dengan dan yang lain. Hal itu tentu saja sangat menyukai perasaan nya, dan katakan hati perempuan yang tidak akan sakit mendengarnya.
Ditambah lagi saat jalan matanya menangkap bagaimana cara memperlakukan istrinya tepat dihadapan Amanda, perasaannya benar-benar merasa tercabik-cabik, seolah-olah seperti luka yang disiram air cuka, terlalu sakit untuk dirasakan bahkan dideskripsikan dengan kata-kata.
Amanda tidak pernah bisa mengungkapkan kekecewaannya dalam kemarahan, bahkan dia tidak akan pernah mampu untuk membuang barang-barang atau membantunya hanya untuk menghilangkan kesedihan, dia selalu melakukan hal yang mungkin lebih ke menyakitkan diri sendiri untuk meluapkan emosional nya yang tidak bisa dikendalikan, atau bahkan mungkin tanpa sadar gelap mata, ingin mengakhiri hidupnya begitu saja.
__ADS_1
Gadis tersebut memilih terus meringkuk, menangis di dalam diam di kamar gelap miliknya tersebut, menahan segala perasaan dan terasa yang terus meledak tidak menentu.
Sang ibu di luar sana jelas terlihat begitu takut, putrinya sama sekali tidak keluar dari kamarnya sejak tadi, belum ada satu makanan pun yang disenggol oleh putrinya, dan itu membuat nya khawatir setengah mati.
"Lakukan sesuatu, pa." Wanita itu bicara pada suaminya, berpikir takut jika putrinya akan melakukan hal yang nekat.
Dia tahu terkadang Amanda sering melakukan hal yang di luar akal pikiran sehatnya, tapi biasanya dia mampu membujuk gadis tersebut, namun nyatanya kali ini dia gara-gara melakukannya, Amanda sama sekali tidak termakan bujuk rayuannya.
"Katanya cinta, lagu cinta macam apa itu ketika diberikan kesempatan malah dibuang, dia pikir perempuan yang dia nikahi itu cantik? hah yang benar saja, tentu saja lebih cantik putriku daripada putri Hillatop itu." terus saja wanita tersebut mengoceh sejak tadi, membanding-bandingkan antara Amanda dan Queen W.
"Baru menikah dengan perempuan seperti itu sudah sombong."
__ADS_1
Laki-laki yang diminta untuk membujuk Putri tersebut terlihat diam, mendengarkan ocehan istrinya untuk beberapa waktu, dia menatap istrinya lekat -lekat sambil berusaha menahan perasaan didalam hatinya. Dia tidak banyak bicara memang, hanya memperhatikan orang-orang disekitar nya dan memutuskan sesuatu atau memilih diam tanpa bicara.
"Apa papa tidak dengar ucapan mama? lakukan sesuatu pada laki-laki bodoh sialan itu kemudian bujuk Amanda, jika tidak mama akan bergerak melakukan sesuatu lebih cepat untuk menyelesaikan semuanya." kembali Wanita tersebut mengoceh, dia menatap kearah suaminya dengan perasaan kesal.
Berpikir selalu saja suaminya diam dan tidak merespon ucapannya.
"Apa kamu tidak punya sedikit pun urat malu, ta?," dan tiba-tiba suaminya angkat bicara, membuat ibu Amanda terkejut dibuatnya.
"Apa?,"
Kata tidak punya urat malu cukup mengejutkan dirinya.
__ADS_1
"Kau bilang apa?"