
Kembali ke masa kemarin
Beberapa minggu sebelum Wiraditya diterima bekerja.
Wiraditya terlihat menggenggam erat telapak tangannya dengan erat saat beberapa orang yang duduk dihadapan nya melakukan interview pekerjaan pada dirinya, raut cemas menghantam dirinya saat ini. Sejujurnya impiannya sejak dulu masuk keperusahaan raksasa yang dia injakan kakinya saat ini sejak dia sekolah di bangku SD, dulu saat pergi bersama ayahnya dia selalu melirik beberapa perusahaan raksasa yang dilewati ayahnya jika membawa dia dan ibu nya pergi berkeliling di akhir minggu dan Hillatop mencari perusahaan yang paling dia impikan.
"Kenapa tidak Hurairah company?." ibunya sering bertanya seperti itu.
"Perusahaan tempat ayah bekerja lebih bagus tapi Hillatop terlihat keren." Dia selalu menjawab seperti itu.
"Kenapa tidak jadi pilot saja?." ayah sering bertanya.
"Jangan, kalau terbang pasti jarang pulang, resiko nya terlalu tinggi." ibu pasti melarang nya.
"Dia pasti bisa masuk ke sana selama ayah masih hidup dan bekerja dengan baik, belajar yang rajin, sekolah yang benar dan kuliah yang tinggi, ayah akan melihat kamu menjadi direktur disana satu hari nanti."
Dan cita-cita tersebut selalu tersemat didalam hati nya hingga kini, meskipun dia tahu harapan ayah nya tentang dia tidak mungkin tercapai, minimal dia bisa bekerja Hillatop company dalam pekerjaan apapun sudah merupakan pencapaian yang sangat luar biasa untuk nya.
__ADS_1
"Jadi belum pernah memiliki pengalaman kerja sebelum?." seorang laki-laki bertanya sembari menaikkan ujung alisnya ke arah Wiraditya, mata dalam bola mata Wiraditya untuk beberapa waktu.
"Untuk diperusahaan belum, tapi di luar saya terbiasa bekerja sejak masih anak-anak." Wiraditya bicara dengan sangat terus terang soal dirinya.
"Yakin akan diterima bekerja disini?, perusahaan besar berskala internasional, tanpa pengalaman kerja, tanpa catatan keluarga, hanya lulusan SMA cukup membuat sulit kamu bisa masuk disini, saingan yang hadir cukup banyak." Seorang perempuan bicara, dia memajukan tubuhnya sambil menatap intens ke arah Wiraditya.
Arlina perempuan dengan wajah menggoda tersebut menatap Wiraditya penuh dengan hasrat yang membara, siapa tahu dikemudian hari dia akan terlihat skandal memalukan bersama perempuan yang telah memiliki suami tersebut.
"Saya membawa kepercayaan diri yang tinggi, saya yakin bisa melewati seluruh peserta juga mampu melewati tahap seleksi sesuai dengan kemampuan yang saya miliki." Modal utama dalam bekerja jelas adalah kepercayaan diri menurut Wiraditya.
"Dan saya tidak memiliki catatan buruk apalagi kriminal umum bisa diterima di tempat ini." Lanjut Wiraditya lagi kemudian.
"Tidak melanjutkan kuliah?." Laki-laki paruh baya tersebut bertanya cukup penasaran, memotong ucapan Arlina.
Wiraditya sejenak diam, menatap kearah laki-laki tua di sisi kirinya.
"Berhenti ditengah jalan karena terkendala biaya, sir." Jawab Wiraditya sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Laki-laki tersebut tidak melanjutkan pertanyaannya, memilih membolak-balikkan berkas Wiraditya untuk beberapa waktu hingga akhirnya sebuah kerutan terlihat di balik wajahnya.
"Wiraditya Adiguna Widjaja?." Dia menyebutkan nama lengkap laki-laki muda dihadapan nya tersebut dengan lantang, menoleh dengan refleks kearah laki-laki muda tersebut dengan detak jantung tidak baik-baik saja.
"Yes sir, itu nama lengkap saya."
"Nama belakang kamu, nama ayah?." Dia kembali bertanya untuk memastikan.
"Yes sir."
"Adriansyah Widjaja?." Spontan laki-laki tersebut bertanya, menatap bola mata Wiraditya dengan jantung yang tidak baik-baik saja.
Wiraditya jelas terkejut mendengar nya.
"Ya?-, yes sir." Anak itu menjawab sedikit ragu-ragu.
Wiraditya mengernyitkan dahinya saat laki-laki tua itu tahu dengan nama ayah nya.
__ADS_1
"Aku cukup terkejut, teman lama yang tidak pernah bertemu." Dan seolah-olah menyembunyikan keterkejutan nya, laki-laki tua itu berusaha bicara apa adanya.
Para relasi interview tampak biasa-biasa saja, Arlina menaikkan ujung bibirnya, berpikir dia menemukan mangsa baru.