Suami Kontrak Nona Crazy Rich

Suami Kontrak Nona Crazy Rich
Sesuatu di Rumah mertua


__ADS_3

Pada akhirnya secara perlahan Queen W mengulurkan tangannya ke arah wiraditya dan membiarkan laki-laki tersebut menggenggam erat telapak tangannya dan membawanya berjalan untuk menjauh dari sana. Wiraditya cukup tidak menyangka jika gadis itu akan menerima uluran tangannya dan hal tersebut jelas saja membuatnya cukup kehilangan kata-kata.


saat tangan laki-laki tersebut menggenggam erat telapak tangan tersebut bisa dirasakan betapa halusnya telapak tangan sang istrinya di mana menandakan gadis tersebut memang tidak pernah mengerjakan tugas-tugas kasar di dalam hidupnya, mereka bilang telapak tangan yang halus menandakan jika si empunya tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah atau pekerjaan apapun yang tergolong kasar dan tangan-tangan yang kasar dipastikan telah terbiasa mengerjakan pekerjaan apapun seperti telapak tangan dirinya


Telapak tangannya tentu terasa begitu kasar bersentuhan dengan telapak tangan selembut milik bayi tersebut jadi membuat Wiraditya minder, tapi setelah dipikir-pikir kenapa? laki-laki wajib bekerja kasar untuk menyenangkan orang-orang yang dia cintai dan jika ada yang bertanya apakah jantung Wiraditya saat ini baik-baik saja, jawabannya tentu saja tidak baik-baik saja. rasanya seolah-olah jantung nya saat ini ingin melompat keluar secepat nya tanpa bisa dia kendalikan, tapi bukankah terlalu alay dan lebay jika dia terpaksa melompat saking gembiranya saat ini.


"Oh Wiraditya, seharusnya kamu cukup sadar diri tentang siapa kamu dan dirinya." laki-laki tersebut membatin di dalam dirinya.


Mereka melangkahkan kaki menuju ke arah depan secara perlahan di mana laki-laki tersebut mencoba untuk terus memapah istrinya agar tidak tergelincir di jalanan tanah menuju ke arah rumahnya di belakang sana, sebenarnya tidak terlalu memakan waktu tapi cukup menyulitkan karena hujan di pagi hari sempat mengguyur bumi. cukup becek dan juga sangat tidak bersahabat.


"Maafkan aku karena harus membawamu ke tempat seperti ini, sedikit kurang bagus dan tidak layak." Wiraditya bicara para istrinya dengan perasaan tidak enak, cukup malu membawa gadis tersebut datang ke kediamannya yang jelas bukan level seorang gadis sekelas Queen W.


"bukan masalah." Queen W menjawab dengan pelan di mana gadis tersebut memfokuskan pandangannya pada jalanan.


Hingga pada akhirnya mereka sampai pada satu rumah, Wiraditya menghentikan langkahnya dan membiarkan Queen W melihat sendiri bagaimana kondisi rumah mereka, di mana bisa dilihat saat ini istrinya menatap bangunan rumah sederhana yang ada di hadapan mereka tersebut untuk beberapa waktu.


Sangat sederhana, bangunan semi permanen dengan ukuran tidak lebih besar dari garasi rumah Queen W, masih berlantaikan semen tanpa keramik dengan pintu yang mulai usang karena termakan usia dan waktu ditambah sering terkena percikan air hujan, atap seng yang mulai berkarat dengan beberapa lubang berbintang di beberapa sisi nya.


"Assalamualaikum." Wiraditya bicara, memanggil sang pemilik rumah yang tidak lain ibunya.


"Wa'alaikum sallam." Bisa dia dengar sahutan penuh kebahagiaan didalam sana, berlarian keluar dengan tergopoh-gopoh saking tidak menyangka nya atas kehadiran putra nya dan,


"Oh subhanallah." Ibu Wiraditya terkejut melihat kedatangan menantunya.

__ADS_1


Queen W memberikan salam, mencium telapak tangan ibu Wiraditya sambil mengembang kan senyuman nya.


"Rumah ibu tidak sebaik yang dibayangkan, takut W tidak nyaman disini." Wanita tua itu serba salah, bingung bagaimana menyusun kata-kata untuk menantu nya.


Orang-orang sekelas Queen W mungkin tidak akan pernah mau melangkahkan kaki dirumah jelek dan duduk di kursi usang yang nyaris kehilangan warnanya karena termakan waktu.


"Ibu rajin merawat rumah dan bunga." Queen W bicara pelan, awalnya melirik ke arah bunga yang disusun sejajar di dalam pot-pot plastik yang ada di sekeliling rumah, semua tumbuh dengan asri dan indah, sudah berbunga dan bermekaran.


Meskipun rumah Wiraditya kecil dan mungil juga sangat sederhana, rapi, bersih dan wangi itu kesan pertama yang dirasakan oleh Queen W. Nyatanya sekeren apapun rumah, jika seperti kapal pecah, orang-orang tentu tidak nyaman dibuatnya, tapi meskipun kecil dan terlalu sederhana, bukankah rapi, bersih dan wangi, percayalah siapapun akan betah tinggal disana.


"Ibu suka bunga-bunga." ibu menjawab sambil mengembangkan senyumannya, dia membiarkan istri putranya duduk di kursi sofa usang yang ada di dalam rumah sederhana mereka.


Bisa dilihat Queen W memperhatikan seluruh ruangan disana, memperhatikan beberapa pajangan juga bingkai-bingkai foto yang terpajang di beberapa dinding di sepanjang rumah.


Wiraditya memilih kebelakang bersama ibu, menyiapkan minuman untuk istrinya tersebut.


Dia malu pada menantunya, atas ketidakpantasan rumah mereka, bahkan gudang rumah menantunya 10x lebih bagus dan indah dari rumah mereka. Tong sampah di rumah Queen W jelas lebih bagus daripada kamar mereka.


Wiraditya tidak menjawab, dia menatap wajah ibunya untuk beberapa waktu, bisa dia lihat sang ibu mulai membuatkan teh untuk mereka saat ini, dengan tangan tua dan rentahnya dia menatap ibunya yang mulai dengan cekatan meletakkan teh, gula dan menunggu air hangat di atas kompor 1 tungku milik mereka, dimana kompor itu sudah terlihat mengelupas di beberapa bagian nya.


Laki-laki tersebut secara perlahan memeluk ibunya, membuat wanita itu diam untuk beberapa waktu.


"Bu-," Ucap Wiraditya pelan.

__ADS_1


Sang ibu menghentikan gerakan tangan dia diam dan membiarkan putra hanya memeluk dirinya, wiraditya membiarkan telapak tangannya mengelus lembut punggung tangan ibunya.


"Mungkin kita sebaiknya ke makam bapak jika ada waktu." Ucap Wiraditya pelan.


Sang ibu terlihat diam, dia menatap teko air yang belum mendidih di atas kompor untuk beberapa waktu.


Sudah berapa lama berlalu? hidup tanpa laki-laki yang dia cintai?, semua nya awalnya baik-baik saja, tapi sejak adik suami nya dan istri nya datang semua agak berubah. Andaikan saja suami nya pada masa itu mendengar kan dirinya untuk menolak kehadiran mereka dan tidak membiarkan mereka berada di Jakarta, mungkin sekarang mereka hidup bahagia berempat.


Dia, suaminya, Wiraditya dan Aisyah. Bisa jadi tidak tinggal dirumah ini tapi di rumah lama mereka yang besar dan asri, dia tidak perlu bekerja menjadi seorang pembantu setelah suaminya masuk pada masa kritis, bangun kembali dan terpuruk kembali lalu meninggal, seharusnya suami nya masih bekerja di perusahaan besar ternama dan bisa jadi sekarang laki-laki tersebut mendekati masa pensiun nya.


Andaikan saja malam itu dia tidak melepaskan suaminya pergi, andaikan saja, yah andaikan saja. Tiba-tiba air mata wanita tersebut mengalir dengan deras.


"He em Mari kemakam bapak sebelum kamu dan W pergi berbulan madu." Ucap Ibu nya pelan.


Diluar sana Queen W terlihat menatap beberapa pajangan yang ada, bergerak perlahan dengan rasa penasaran pada beberapa foto yang ada di dinding. Ada Wiraditya kecil, adik perempuan Wiraditya dan ibu nya. Anehnya Queen W tidak mendapatkan satu foto ayah Wiraditya sama sekali di setiap pajangan foto yang ada, membuat gadis tersebut cukup penasaran bagaimana rupa ayah Wiraditya.


Sejenak bola mata Queen W tertuju pada mesin jahit lama, yang ada di dekat kamar di sisi kirinya. Gadis tersebut melangkah untuk melihat, itu adalah mesin jahit singer lama yang nyaris tidak pernah terlihat lagi di masa sekarang. Dijadikan meja untuk meletakkan beberapa pajangan oleh keluarga Wiraditya.


Queen W mengusap mesin jahit singer tersebut secara perlahan, menyentuh nya dengan gerakan lembut hingga pada akhirnya bola matanya tertuju pada sesuatu di bagian sudut atas mesin jahit. Satu sticker timbul yang terasa tidak asing untuk dirinya. Queen W memperhatikan dengan seksama dan mencoba membacanya.


The Hurairah company.


Gadis tersebut mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Itu adalah perusahaan dari istri kakek buyut Hill A top yang menikah dengan nenek buyut Alea nya, para penerus keluarga Ghanem Hurairah dan violet Hurairah, biasanya para pekerja lama dan tetap akan mendapatkan stiker frame timbul dengan cap perusahaan di atasnya, tidak sembarang orang bisa memilikinya kecuali karyawan paling aktif, baik dan dipercaya dengan pengabdian lama di atas 15 tahun rata-rata.


Queen W terlihat mengerutkan keningnya, dia pikir apakah ada keluarga Wiraditya yang pernah bekerja dengan perusahaan Hurairah di masa lalu?, siapa?!.


__ADS_2