
Dibalik hati dan jantung yang saat ini jelas tidak baik-baik saja, grandma Ramira langsung mengembangkan tertawa renyah.
"Sayang dia persis dirimu." wanita tua itu bicara pada suaminya, menatap tuan Eden sambil tertawa senang.
"Ketika jatuh cinta tidak main-main, agak mengesampingkan rasa malu, berterus-terang dan sangat penuh perhatian, melihat dia membuat ku merasa kembali muda." nyonya Ramira bicara pada suaminya, ingat bagaimana di masa lalu cara laki-laki tua itu mencintai dirinya.
Sangat terus terang dan tidak mau menutupi perasaannya, terlalu penuh perhatian dan berulang kali melamar nya meskipun juga ditolak berulang kali karena berbagai macam alasan namun nyatanya laki-laki tersebut tidak pernah sedikitpun putus asa karena keadaan.
Mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya seketika membuat tuan Eden ikut tertawa renyah.
"Karena pada dasarnya perempuan yang tidak banyak bicara dan mandiri itu sangat rumit dan sulit, mereka tipe yang tidak peka dan tidak pernah tahu perasaan orang lain, mereka baru mengerti jika pasangan berterus terang tentang perasaan mereka." dan laki-laki tua itu langsung bicara alasan pada intinya kenapa laki-laki seperti mereka harus lebih berterus tentang perasaan mereka pada type Perempuan rumit yang mandiri, mampu berpijak pada kaki sendiri dan sedikit bicara.
"Queen W itu persis seperti kamu juga persis seperti mommy Elvitania, cukup tidak peka terhadap perasaan orang-orang disekitar, tidak tahu jika ada laki-laki yang mencintai dengan tulus." ejek tuan Eden dengan cepat.
Nyonya Ramira kembali tertawa kecil.
__ADS_1
"Karena itu type orang seperti kami harus memiliki laki-laki yang sedikit tidak tahu malu, jatuh cinta pada kami dengan gaya sedikit agresif."
Sepasang suami istri tersebut tertawa kecil, menoleh ke arah Wiraditya dan Queen W dengan cepat.
"Grandma mu memang seperti itu, jangan terlalu diambil hati dan jangan terlalu takut ketika dia memberikan banyak pertanyaan pada diri kalian." laki-laki tersebut pada akhirnya bicara pada sepasang suami istri tersebut, dia bergantian menatap Wiraditya dan Queen W.
Wiraditya terlihat ikut tertawa kecil mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki tua di hadapannya tersebut dia mengangguk mengerti. Mencoba memahami dan membaca karakter tiap orang yang dia temui.
"Aku hanya sedikit bertanya tidak terlalu banyak, sayang." nyonya Ramira terlihat protes pada suaminya.
"Dasar." wanita tua itu menampilkan sisi lain di balik keharmonisan rumah tangga mereka.
Mereka benar-benar pasangan yang adem ayem dan sering saling menggoda hingga usia tua.
"Baiklah kita bisa melanjutkan obrolan di depan dan meninggalkan meja makan saat ini, biarkan para pelayan yang membereskannya dan kita bisa pergi ke arah depan saat ini juga." pada akhirnya tuan Eden bicara dengan cepat, dia berdiri dari posisi nya, meraih tangan istrinya dan membantu wanita tua itu berdiri dan beranjak pergi dari sana.
__ADS_1
Wiraditya dan Queen W patuh, mencoba berdiri dari posisi duduk mereka dan beranjak dari sana sesuai ajakan grandpa Eden.
"Kita bisa menikmati waktu sejenak untuk menikmati secangkir kopi hangat atau teh hangat bersama," nyonya Ramira berdiri dari posisinya membiarkan suaminya membantu menggenggam telapak tangannya dan berjalan menjauh dari dapur.
Setelah berkata seperti itu dia kemudian menatap kearah Wiraditya dan Queen W, bicara dengan cepat pada kedua orang tersebut.
"Malam ini tidur di sini saja." Ucap nya tiba-tiba.
Queen W yang baru beranjak dari posisi nya seketika langsung menoleh kearah grandma nya.
"Ya?,"
"Kalian bisa tinggal di kamar ke dua, suasananya sangat cocok untuk pasangan pengantin baru." Lanjut wanita tua tersebut lagi sambil mendekati Queen W, dia menepuk-nepuk lembut punggung gadis tersebut dengan perasaan senang.
"Tapi-," Queen W jelas agak gelagapan, tidak memiliki rencana untuk tidur disana sama sekali, tanpa pakaian ganti, tanpa persiapan sama sekali.
__ADS_1
"Tidak ada penolakan hmmm." ucap nyonya Ramira dengan cepat.