
Queen W yang kabur ke kamar mandi langsung bergerak menuju ke wastafel kamar mandi, menyiram wajah nya dengan air tanpa berpikir dua tiga kali, pemandangan tadi masih mengganggu dirinya, membuat gadis tersebut berkali-kali menepuk-nepuk wajahnya.
"Akhhhhh bagaimana ini?," dia menampilkan sisi berbeda dari Queen W yang tidak banyak bicara dan pendiam menjadi gadis yang kehilangan akal warasnya. Dia malu karena peristiwa tadi, sumpah demi apapun dia pikir bagaimana bisa dia melihat hal yang seharusnya tidak dia lihat.
Queen W menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, gadis itu pikir sepertinya dia harus mandi dengan cepat dan melupakan segalanya saat ini juga, mengingat di lantai bawah semua orang sudah menunggu kedatangan mereka untuk melewati makan pagi bersama.
Dia bergegas bergerak menuju ke arah air shower dan cepat-cepat membersihkan dirinya tanpa berpikir dua tiga kali, rasanya sungguh segar hingga membuat dia melupakan segala sesuatu yang seharusnya memang dia lupakan.
cukup lama dia berkutat di kamar mandi hingga pada akhirnya Queen W menyelesaikan sesi mandinya dengan cepat kemudian dia berpikir untuk menarik handuk milik nya yang ada di bagian gantungan di mana biasanya handuk berada namun tiba-tiba gadis tersebut mengeringkan keningnya saat dia menyadari sepertinya saking terburu-burunya dia lupa membawa handuk mandinya tadi.
"Oh god," Queen W percikan untuk beberapa waktu, dia menatap ke arah gantungan yang tidak menyediakan satu handuk pun di sana baik yang kering maupun yang basah, baik yang kecil maupun yang besar.
Queen W seketika menelan salivanya.
Gadis tersebut seketika menatap berharap pintu kamar mandi untuk beberapa waktu sembari dia mencoba untuk menghela pelan nafasnya.
"Bagaimana bisa?," batinnya pelan.
Queen W pada akhirnya memejamkan sejenak bola mata nya, mencoba untuk menarik nafasnya dengan dalam dan setelah itu bergerak menuju ke arah pintu kamar mandi mencoba membukanya secara perlahan dan berusaha untuk mengintip ke arah luar.
Bisa dia lihat sang suami tampak membereskan kasur mereka tidur, mengencangkan sprei dan baru saja berusaha untuk melipat selimut.
Dengan perasaan tidak menentu mengingat dia tidak menggunakan handuk, Queen W terlihat menggigit bibir bawahnya, menatap kearah Wiraditya yang ada di ujung sana sembari gadis tersebut pada akhirnya berkata.
"W," dia menyembulkan kepalanya sedikit tanpa benar-benar membuka pintu tersebut, menatap para suaminya dan bicara dengan sedikit gugup.
"Hmmm?," Wira Ditya yang mendengar istrinya memanggil dirinya seketika langsung menoleh, menatap kearah pintu kamar mandi, di mana bisa dia lihat Queen W hanya menimbulkan sedikit kepalanya saat ini.
__ADS_1
"Ada apa?," laki-laki tersebut bertanya sambil mengerutkan keningnya, menatap ke arah Queen W yang seolah-olah tidak berani beranjak keluar.
"Bisa bantu aku?," pada akhirnya gadis itu bicara secara perlahan, rambut basah yang tergerai dengan wajah memerah itu bicara dengan gugup.
"Tentu saja." Wiraditya jelas saja menjawab dengan cepat mencoba untuk bergerak mendekati istrinya.
"W, bisa ambilkan aku handuk? aku...lupa membawa nya tadi." pada akhirnya gadis tersebut bicara dengan terus terang, agak malu memang mengatakan nya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh sang istrinya membuat Wiraditya sejenak menaikkan ujung alisnya.
"Tunggu sebentar," pada akhirnya laki-laki tersebut bicara seperti itu membalikkan tubuhnya dan bergerak menuju ke arah di mana dia meletakkan handuk miliknya tadi, buru-buru mengambilnya kemudian berbalik lagi menuju ke arah kamar mandi dan mendekati sang istrinya.
"Aku akan memberikan nya, tapi bolehkah aku minta sesuatu?," laki-laki itu berkata dengan nada perlahan menyembunyikan handuk yang ada di tangannya di belakang punggungnya, bicara pada sang istrinya sembari mengulum senyuman.
Queen W yang mendengar permintaan suami jelas saja mengerutkan keningnya.
"Bisa ulangi lagi ya permintaan mengambil handuknya?," ucap Wiraditya lagi kemudian.
"Ya?,"
"Katakan sekali lagi,"
"W bisa ambilkan aku handuk?," meskipun agak bingung gadis tersebut menuruti permintaan suaminya, mengulang ucapannya lagi yang dia ucapkan tadi kepada Wiraditya.
"bisakah mengubahnya jauh lebih manis? ganti panggilan W ku dengan kata yang lain," dan wiraditya meminta.
"Mengganti nya? dengan panggilan bagaimana?," gadis tersebut jelas bertanya bingung.
__ADS_1
"Ganti dengan yang lebih manis, misalnya sayang." Pinta Wiraditya dengan cepat.
"Itu terdengar lebih manis bukan?," lanjut Wiraditya lagi.
Blusshhhh.
Bayangkan bagaimana wajah Queen W memerah saat ini.
"W,"
"Katakan lah, aku menunggu," laki-laki tersebut benar-benar nakal.
Queen W sejenak menggigit bibir bawahnya, dengan perasaan berdebar-debar dia mencoba berkata.
"Sayang bisa ambilkan aku handuk?," dia bicara dengan pelan, masih malu menyebutkan nya.
Wiraditya seketika merasa jantungnya tidak baik-baik saja, hati nya berbunga-bunga dan dia mengulum senyumannya.
"Apa? sayang, aku tidak mendengar nya."
"Sayang bisa ambil kan aku handuk?,"
"Sekali lagi, aku belum mendengar nya."
"Ishhh sayang bisa ambil kan aku handuk?," dan akhirnya Queen W benar-benar mengeluarkan suaranya yang cukup keras, meskipun malu dia mencoba menahan nya, kata sayang memang tidak buruk, tapi membuat dia sangat malu saat mengatakan nya.
Wiraditya sembari mengulang senyumannya dengan cepat langsung memberikan handuk kepada sang istrinya.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang. Jangan terlalu lama, Grandma dan Grandpa pasti sudah menunggu kita." bisa-bisanya laki-laki tersebut bicara seperti itu meninggalkan Queen w here yang wajahnya masih memerah karena malu atas panggilan sayang yang dimintanya.