
Entahlah berapa lama waktu berlalu saat Wiraditya membiarkan jari telunjuk Queen W tenggelam kedalam mulutnya, hingga pada akhirnya saat 2 bibi pelayan membawa air bersih didalam ember, kotak tisu dan kotak P3K Wiraditya melepaskan hisapannya pada jemari istrinya.
Laki-laki tersebut terlihat panik, meraih tisu dan bergerak meraih sebuah mangkuk yang diberikan pelayan berisi air didalam nya. Wiraditya membersihkan tangan istrinya dengan air, bisa dilihat air bening dan bersih tersebut berubah sedikit memerah. setelah itu laki-laki tersebut mulai membersihkan nya dengan tisu, buru-buru meraih botol alkohol dengan cepat dan menuangkan nya di jemari Queen W yang terluka.
"Akhhhhhh." Queen W meringis, nyaris menarik jemari nya namun ditahan oleh Wiraditya.
"Sakit?," laki-laki tersebut bertanya khawatir.
"Perih." Queen W menjawab pelan.
"Luka nya cukup besar, aku sudah menduga kamu pasti tergelincir menggunakan pisau." Laki-laki tersebut bertanya dan bicara, menampilkan ekspresi wajah panik keatas Queen W, Seolah-olah lupa ada orang lain disekitar mereka.
"Akhhhhhh." Kembali Queen W meringis saat alkohol disiram di jemari nya.
__ADS_1
Wiraditya buru-buru meniup-niupkan jemari istrinya beberapa kali, kemudian dia menyambar betadine dan meletakkannya ke jemari istrinya tersebut dengan sangat hati-hati dalam gerakan yang begitu lembut, setelah itu secara perlahan laki-laki itu membalut luka Queen W dengan hansaplas.
"Biar aku yang menggantikan tugas nya setelah ini." Pada akhirnya Wiraditya bicara.
Nyonya Hayat yang tadinya panik seketika diam melihat bagaimana cara menantunya memperlakukan putri nya, sejenak wanita tersebut menatap Wiraditya untuk beberapa waktu kemudian dia mengulum senyumannya dengan senang, wanita tersebut pikir meskipun Wiraditya bukan laki-laki kaya raya, setidaknya dia laki-laki yang tulus mencintai dan melindungi putri nya. Queen W nya tidak salah memilih seorang suami.
Wanita tersebut melirik kearah suaminya dimana laki-laki tersebut terlihat sama sekali tidak mengeluarkan suaranya atau ekspresi nya sejak tadi.
"Ini tidak begitu parah." Queen W bicara pelan, merasa tidak enak dengan keadaan.
Tanpa dia sadari rona di balik wajah cantik tersebut sedikit memerah hanya saja Queen W cukup pandai menutupi nya dengan ekspresi wajah nya. Gadis tersebut terlihat gugup, berusaha untuk meraih pisau yang dia jatuhkan.
"No W, jangan gunakan pisau lagi, biar aku yang melakukan nya." Wiraditya kembali bersikeras minta berpindah tugas, dia meminta pisau dari tangan istrinya tersebut.
__ADS_1
Bola mata laki-laki tersebut menatap dalam bola mata istrinya, dimana tangan nya meminta pisau yang dipegang Queen W. Gadis tersebut terlihat ragu-ragu, menggerakkan pisau nya secara perlahan kearah Wiraditya.
Begitu Queen W memberikan dia pisau nya, secara refleks laki-laki tersebut mengacak-acak bagian depan rambut istrinya sambil dia mengembangkan senyumannya Kembali rona wajah Queen W memecah, begitu Wiraditya melepaskan tangannya dari rambutnya, Queen W menyentuh lembut ujung keningnya secara perlahan.
Entahlah apa yang dirasakan gadis tersebut, yang jelas gadis itu tidak pernah mau mendeskripsikan perasaannya pada siapapun, dia menatap Wiraditya untuk beberapa waktu dan selang beberapa waktu seolah-olah sadar ada orang tua disana, Queen W seketika langsung menoleh kearah mommy dan daddy nya.
Seulas senyuman mengembang dibalik wajah sang mommy.
"Ini tidak apa-apa." Gugup gadis tersebut bicara.
"Kemarilah." Nyonya hayat bicara sambil menatap dalam wajah putri nya tersebut.
Masih sempat dia melirik kearah Wiraditya, dimana laki-laki tersebut perlahan mulai mengupas buah di tangan nya, menggantikan pekerjaan Queen W.
__ADS_1
Tuan Ahem terlihat masih diam, menatap Wiraditya dan putri nya secara bergantian.