
" ini akan jadi cukup baik untuk masa depan mu ke depannya, sedikit banyak kamu butuh pendidikan yang bisa membawamu menjadi lebih baik, jika hanya mengandalkan lulusan SMA itu akan cukup mempersulit untuk kamu bisa memimpin hillatop, W." Tuan Eden kembali bicara pada Wiraditya, menyakinkan laki-laki itu memang membutuhkan pendidikan yang jauh lebih tinggi saat ini.
Wiraditya sejenak cukup terdiam atas ucapan dari laki-laki yang ada di hadapannya tersebut, pada dasarnya apa yang di ucapkan oleh tuan eden jelas benar, dia tidak mungkin berkembang dalam pendidikannya yang hanya sebatas SMA, memimpin sebuah perusahaan besar jelas membutuhkan skill dan pendidikan yang tinggi diimbangi dengan kreativitas dan kepintaran dalam memimpin juga bagaimana cara dia berinteraksi dengan para bawahannya termasuk berinteraksi dan melakukan berbagai macam hal bersama dengan para pemimpin lain ya nanti saat dia harus mendapatkan kesepakatan kerjasama.
Saya tidak memungkinkan memang mengandalkan ijazah sma di juga pendidikannya yang kemarin, dia butuh penyetaraan diri bersama Queen W yang jelas memiliki pendidikan jauh di atas dirinya. Ayah saja yang menjadi pertanyaan besar nya adalah kemana dia akan dikirim udah menempuh pendidikan, kemana dia kan menyelesaikan semua hal yang dianjurkan dan juga disarankan oleh laki-laki baru baya di depannya tersebut.
" aku tahu betapa pentingnya sebuah pendidikan dan aku tahu, aku jelas sangat membutuhkan hal tersebut tapi yang jadi pertanyaan adalah apakah aku tetap bertahan di Indonesia atau aku harus pergi keluar untuk menyelesaikan pendidikan ku?," laki-laki tersebut menegaskan padanya sembari menatap dalam wajah tuan Eden.
"apakah memungkinkan untuk aku bertahan di indonesia dalam memilih jalur pendidikan ku sendiri di sini?," dia bertanya serius kepada laki-laki di hadapannya itu, ingin tahu apakah mungkin dia bisa memilih pendidikan yang dia inginkan dan tetap bertahan di indonesia.
__ADS_1
saat mendapatkan pertanyaan tersebut, tuan eden menggeleng kan kepalanya.
"Ayah dan ibu mertua mu sudah mengatur semuanya, aku pikir mereka tidak akan mengizinkan kamu datang bertahan di indonesia sementara waktu mengingat pendidikan di luar sana jelas jauh lebih baik." ucap laki-laki tersebut cepat.
sudah Wiraditya duga sebelumnya, dia pasti akan mendapatkan jawaban seperti itu, dia memilih diam dan tidak melanjutkan ucapannya sama sekali. kata luar negeri membuat nya gelisah saat ini, dia tidak mungkin pergi meninggalkan banyak hal, ibu nya juga Queen W.
"Apa W tahu tentang rencana ini?," Pada akhirnya laki-laki tersebut bertanya dengan perasaan gelisah, dia kembali bertanya pada laki-laki dihadapan tersebut sambil menatap nya lekat-lekat.
"Ibu mertua mu yang akan bicara di dan memberitahukan nya kepada W." Jawab laki-laki tersebut kemudian.
__ADS_1
Dan itu artinya Queen W sama sekali belum mengetahui rencana hal tersebut sama sekali. Kembali Wiraditya diam, dia terlihat gelisah dengan keadaan.
"Izinkan aku saja yang bicara, grandpa." Pada akhirnya Wiraditya bicara dengan cepat.
"Mungkin jauh lebih baik memang Wiraditya bicara sendiri soal itu pada Queen W." Dan nyonya Ramira ikut masuk bicara, dia setuju dengan jawaban Wiraditya.
"Dengan begitu semua akan terasa lebih baik, mereka butuh waktu bersama dan saling mendiskusikan semuanya lebih dulu, tidak perlu tergesa-gesa karena itu jelas tidak baik." Lanjut wanita tua itu lagi.
"Karena didalam pernikahan, bicara, meminta dan memberikan pendapat itu penting, meskipun tidak banyak tapi itu terasa sangat berarti, dimana itu artinya kita merasa dihargai, pendapat kita dibutuhkan dan kita di anggap ada juga sangat diutamakan di atas segalanya." Wanita tersebut bicara dengan sangat serius.
__ADS_1
Tuan Eden menoleh ke arah istrinya, menatap wajah wanita tersebut untuk beberapa saat, dia mengembangkan senyumannya.
"He em, aku akan bicara pada Ahem dan Hayat nanti, membiarkan Wiraditya bicara sendiri memang pilihan paling baik dan bijak."